Wahb bin Munabbih; Tabiin Keturunan Persia yang Pandai Bahasa Yunani

1
1243

BincangSyariah.Com – Salah satu tanda kenabian Muhammad adalah berita masa depan yang beliau sampaikan selalu menjadi nyata. Salah satu berita masa depan tersebut diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Dalaailun Nubuwwah sebagai berikut:

عَنْ عُبَادَةَ بنِ الصَّامِتِ، قال: قال رسول الله -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: سَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِي رَجُل يُقَالُ لَهُ: وَهْبٌ يَهَبُ اللهُ لهُ الْحِكْمَةَ، ورَجُلٌ يُقَالُ لَهُ: غَيْلاَنُ، هُوَ أَضَرُّ عَلَى أُمَّتِي مِنْ إِبْلِيْسَ.

Dari Ubdah bin Shamit berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Akan ada dari umatku seorang laki-laki yang bernama Wahb, Allah akan memberikan hikmah padanya. Dan seorang laki-laki yang bernama Ghailan, dia lebih berbahaya bagi umatku dari pada Iblis.”

Para ahli sejarah banyak yang mengutip hadis tersebut ketika menjelaskan biografi Wahb bin Munabbih.

Kelahiran dan Nasabnya

Wahb bin Munabbih adalah salah seorang tabiin yang lahir pada masa pemerintahan Utsman bin Affan tahun ke 34 H di Yaman.

Jalur nasabnya adalah Wahb, bin Munabbih, bin Kaamil, bin Siij, bin Dzi Kibar.

Dalam bahasa Yaman, setiap orang yang dipanggil “Dzi” adalah syarif (orang terhormat).

Wahb bin Munabbih sebenarnya berdarah Persia, karena orang tuanya berasal dari Khurasan (Iran timur laut), tepatnya daerah Harah. Mereka meninggalkan Harah atas perintah Kisra. Munabbih telah memeluk Islam sejak zaman Nabi Muhammad SAW dan menjalankan agamanya dengan baik. (Baca: Melacak Kitab Hadis Abad 1 Hijriah, Termasuk Karya Wahb bin Munabbih)

Wahb adalah seorang pemimpin, sangat alim, ahli khabar, ahli hikayat, dijuluki Abu Abdillah al-Abnaawi, al-Yamani, adz-Dzamaari, ash-Shan’aani. Daerah tempat ia tinggal di Yaman adalah kota Dzamaar, berjarak dua marhalah (perjanan dua hari) dari kota Shan’a.

Jalur Periwayatan Hadis

Baca Juga :  Aban Putra bin Usman bin Affan: Seorang Ulama, Sejarawan, dan Pejabat  

Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubala menjelaskan: Wahb bin Munabbih menerima hadis dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah. Wahb juga menerima hadis dari Abi Sa’id al-Khudri, Nu’man bin Basyir, Jabir, Ibnu Umar, Abdullah bin Amr bin Ash, namun jalur penerimaan hadis ini masih diperselisihkan. Selain itu juga menerima dari Thawus, Amr bin Dinar, saudaranya; yaitu Hammam bin Munabbih, Amr bin Syu’aib dan Fannaj al-Yamani.

Kemudian para perawi yang meriwayatkan dari Wahb bin Munabbih jumlahnya banyak sekali, di antaranya adalah: kedua putra Wahb yang bernama Abdullah dan Abdurrahman, Amr bin Dinar, Simak bin al-Fadl, Auf al-A’rabi,  Ashim bin Raja’ bin Haiwah, Yazid bin Yazid bin Jabir, Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dan lain-lain.

Tidak banyak hadis musnad yang diriwayatkan oleh Wahb bin Munabbih. Dia lebih banyak meriwayatkan berita Israiliyat dari naskah-naskah Ahlul Kitab.

Ahli Sejarah Para Nabi dan Umat Terdahulu

Wahb bin Munabbih memiliki ilmu yang luas dan banyak membaca kitab-kitab kuno, sehingga dia menguasai kisah yang berhubungan dengan penciptaan alam semesta, bangsa-bangsa kuno, kisah para nabi dan para raja.

Musthafa Shadiq ar-Rafi’i dalam Tarikh al-Adab al-Arabi menyebutkan, sejarah umat terdahulu banyak dipelajari dari Ahli Kitab dan tiga orang berpengetahuan luas yaitu Abdullah bin Salam, Ka’bul Ahbar dan Wahb bin Munabbih. Keluasan ilmu Wahb bin Munabbih diperoleh karena kegigihannya mempelajari kisah bangsa Yahudi dari penduduk Yaman dan mempelajari kisah Nasrani dari penduduk Habasyah. Selain itu, Wahb juga menguasai bahasa Yunani. Wahb mengaku telah membaca dan mempelajari tujuh puluh dua kitab-kitab yang diturunkan Allah untuk para Nabi.

Dalam sebuah kesempatan Wahb bin Munabbih mengatakan, “Mereka berpendapat: Abdullah bin Salam adalah yang paling alim pada zamannya. Ka’bul Ahbar paling alim pada zamannya. Lalu bagaimana menurut kalian, tentang orang yang mampu menguasai ilmu mereka berdua, apakah dia lebih alim atau mereka berdua yang lebih alim?

Baca Juga :  Sayyidah Nafisah Guru Imam Syafi’i Sembuhkan Wanita Yahudi dengan Percikan Wudhu

Berkat keluasan ilmunya, Wahb tercatat sebagai orang yang pertama kali menulis qashash (hikayat) para Nabi dalam dunia Islam. Selain itu, menurut penjelasan Ibnu Qutaibah, Wahb memiliki satu karya tulis yang menjelaskan raja-raja Himyar (kerajaan di Yaman kuno berdiri tahun 110 SM), khabar dan hikayat tentang mereka, juga makam dan syair-syair mereka, dalam satu jilid.

Kepribadian Wahb bin Munabbih

Mayoritas ulama ahli hadis mengakui, Wahb adalah orang yang tsiqqah (bisa dipercaya) dan jujur, serta banyak meriwayatkan berita Israiliyat. Selain itu, dia juga adalah pribadi yang religius dan saleh.

Kepribadiannya banyak ditulis dalam Siyaru A’lamin Nubala dan Tarikh Dimasyqa, diantaranya:

Mutsanna bin Shabah mengatakan, “Aku mengenal Wahb bin Munabbih selama empat puluh tahun, selama itu dia tidak pernah mengumpat sesuatu yang bernyawa, dan selama dua puluh tahun dia tidak pernah berwudlu di antara salat isya’ dan subuh.” Artinya salat isya’ dan subuh Wahb dilakukan dengan sekali wudlu, karena dia tidak batal selama waktu malam.

Selain itu, selama empat puluh tahun Wahb tidak pernah tidur di atas kasur. Wahb juga selalu menghafal kalimat yang dia ucapkan setiap hari, jika hafal maka tidak berpuasa, tapi jika tidak hafal maka akan berpuasa.

Suatu hari ada yang berkata pada Wahb, “Ketika engkau bermimpi kemudian mimpi itu engkau ceritakan pada kami, maka tidak lama kemudian kami akan melihat mimpimu itu menjadi nyata.” Wahb menjawab, “Haihata (jauh sekali)! Semua itu telah hilang dariku sejak aku diangkat menjadi qadhi.” Dalam catatan sejarah, Wahb pernah menjadi qadhi di Shan’a pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz.

Baca Juga :  Tentang Habib Quraish Shihab yang Tak Banyak Orang Ketahui

Karamah Wahb bin Munabbih pernah tampak ketika dia menginap di daerah Sha’dah, seseorang melihat dua telapak kakinya memancarkan sinar terang seperti cahaya matahari. Wahb kemudian berpesan agar merahasiakan kejadian itu.

Mutiara Hikmah

Wahb pernah berkata, “Hafalkanlah tiga perkara ini dariku: janganlah mengikuti kesenangan nafsu, jauhilah teman yang tidak baik, dan jangan bangga dengan diri sendiri.

Wahab berkata, “Seorang mukmin itu melihat agar tahu, diam agar selamat, berbicara agar paham, dan sendiri agar beruntung.

Wahab berkara, “Perbanyaklah teman semampumu, jika engkau tidak membutuhkan mereka maka mereka tidak mengakibatkan mudarat, dan jika engkau membutuhkan mereka maka mereka akan memberimu manfaat.”

Meninggal

Ibnu Hibban dalam Masyahir Ulama al-Amshaar menjelaskan, Wahb bin Munabbih meninggal pada bulan Muharram tahun 113-H, di Shan’a Yaman.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here