Biografi Ustadz Khalid Basalamah: Putra Kiai di Makassar, Menjadi Pendakwah Salafi dan Pengusaha

2
78

BincangSyariah.Com – Siapa yang tidak kenal dengan Ustadz Khalid Basalamah? Ia merupakan pendakwah popular yang aktif menyiarkan aktivitas dakwahnya di dunia digital. Tidak hanya di youtube sebagai platform paling awal yang aktif sejak 7 Februari 2013, kegiatan dakwahnya pun tersiar di instagram, facebook, twitter, dan website resmi www.khbofficial.com.

Sebagai pendakwah melek digital, Khalid Basalamah memiliki 1,53 juta subcriber youtube, 2 juta pengikut instagram, 62 ribu pengikut twitter, dan 205 ribu pengikut facebook fanspage. Besarnya modal digital ini adalah cermin dari banyaknya jamaah Khalid Basalamah. Tidak heran bila pengajian-pengajian yang diadakan Khalid Basalamah selalu padat.

Fokus kajian Khalid Basalamah adalah seputar al-Quran dan pengamalan hadis-hadis Nabi sebagai bagian dari dakwah salafi yang diembannya. Dua kitab yang sering digunakan Khalid Basalamah adalah Bulughul Maram min Adillatil Ahkam karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan Minhajul Muslim karya Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri. Kedua kitab tersebut termasuk kitab hadis tematik yang memuat berbagai bab akidah, fikih, dan muamalat.

Keluarga Basalamah dan Putra Kiai Makassar

Khalid Basalamah lahir di Makassar 1 Mei 1975, dari seorang keturunan Arab dengan marga Basalamah bernama K.H. Zeed Basalamah. Ayahnya dikenal masyarakat sebagai kiai yang cukup terpandang di Makassar. Menurut laporan Wardiah Hamid dalam artikel Lembaga Pendidikan Keagamaan Warisan Orang Arab yang terbit di jurnal Educandum tahun 2018, sejak tahun 1990-an ayah Khalid Basalamah mendirikan Yayasan Addaraen. Saat ini Yayasan Addaraen tercatat memiliki Pesantren (berdiri sejak awal), SMP, SMA, Klinik, dan Rumah Sakit Bersalin.

Hamid juga menuliskan bahwa di Makassar sendiri, nuansa keagamaan orang-orang keturunan Arab kental dengan tradisi Syafi’iyyah yang dibawa dari Hadramaut, Yaman. Berbeda dengan di wilayah lain, sejak tahun 1950-an orang-orang keturunan Arab di Makassar membentuk organisasi JIWA (Jami’atu al-Ittihaad wa al-Mu’aawanah) untuk mempersatukan dan tidak membeda-bedakan antara sayyid dan non-sayyid.     

Begitu pun dengan tradisi keagamaan di Pesantren Addaraen, para santri belajar dengan kurikulum kitab-kitab Syafi’iyyah. Menurut hasil wawancara Muriah Hamid dengan KH. Zeed Basalamah (9 September 2017), sebagian santri berasal dari kalangan kelas menengah bawah. Bagi santri tersebut seluruh biaya pendidikan digratiskan.

Dilansir dari Republika, KH. Zeed Basalamah telah wafat pada hari Jumat, 7 Agustus 2020. Dikabarkan bahwa KH. Zeed Basalamah meninggal dunia akibat positif Covid-19 sehingga pemakamannya mengikuti prosedur keselamatan yang telah ditetapkan. Sebagai anak, Khalid Basalamah ikut menyalatkan ayahandanya di RS Wahidin Sudirohusodo. KH. Zeed Basalamah dimakamkan di pemakaman khusus Covid-19 di Macanda, Gowa, Sulawesi Selatan.

Riwayat Pendidikan dan Menjadi Pengusaha

Tidak seperti sebagaian da’i kondang yang tidak jelas asal usul pendidikan agamanya, Ustadz Khalid Basalamah melalui jalur pendidikan keagamaan yang paripurna. Selepas Sekolah Menengah Pertamah, Khalid Basalamah merantau ke Madinah untuk melanjutkan pendidikannya di Madinah hingga lulus setara Aliyah. Strata 1 tetap berada di Madinah dengan melanjutkan di Universitas Islam Madinah. Setelah selesai S1, Khalid Basalamah sempat kembali ke Makassar dan kembali melanjutkan pendidikannya di Universitas Muslimin Indonesia (UMI) dengan meraih gelar M.A. Kemudian melanjutkan tingkat doktoralnya di Universitas Tun Abdul Razak Malaysia.

Selain aktif berdakwah dan memiliki pengajian rutin di sekitar Blok M, Kalibata, Sudirman, dan Kelapa Gading, Khalid Basalamah juga merupakan seorang pengusaha. Di bawah naungan PT. Ajwad dan Ghazwah Enterprise, usahanya meliputi restauran khas Arab (@ajwadresto), obat-obat herbal dan buku-buku Islam (@ajwadstore), travel haji-umroh (@uhudtour), layanan akikah dan kurban (@adhafarm), media taaruf (@mawaddah_idn), wedding organizer (@mawaddahindonesia), lembaga filantrofi (@sedekahkreatif), media (@ghazwahtv), dan lain lain.

Di saat ramai-ramai para pendakwah ikut kampanye politik dengan gerakan 212 dan gerakan-gerakan lain, Ustadz Khalid Basalamah tidak terlibat dan rupanya tidak tertarik ikut bergabung. Aktivitas dan gaya dakwahnya tidak menyerempet ke arah sana. Bahkan ia mengambil sikap bahwa kita tidak boleh mendemo pemimpin yang sedang atau yang sudah terpilih namun yang boleh dilakukan hanyalah sebatas menasihati

Ciri lain dari Khalid Basalamah adalah tidak pernah mengumbar kehidupan pribadinya ke ruang digital. Dalam penelusuran penulis, seluruh kanal digital atas nama Khalid Basalamah Official hanya diisi dengan aktivitas dakwahnya saja. Konten-kontennya dipenuhi dengan potongan ceramah, jadwal kajian, grafis kutipan ayat al-Quran maupun hadis, kutipan ceramah pribadinya, dan sebagainya. Penulis menilai bahwa akun-akun sosial media ini pun dikelola oleh tim, sehingga kehidupan pribadi sang ustadz seperti tidak tersentuh.

Kritik: Menalar Haramnya Maulid Nabi dengan Logika Relasi Pegawai-Pimpinan

Sebagai ustadz yang mengusung dakwah salafi-wahabi, Khalid Basalamah pun kerapkali mengkritik amaliah-amaliah yang sudah umum dilakukan di Indonesia seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw. Dalam sebuah pengajian, Khalid menyampaikan bahwa pelanggaran terhadap Nabi Muhammad Saw bukan hanya melakukan kemaksiatan dan hal-hal yang diharamkan, tetapi juga melakukan segala sesuatu yang tidak dicontohkan dan diperintahkannya.

Dalam menerangkan ini, Khalid mengambil analogi seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan. Perusahaan itu sudah memiliki aturan yang jelas. Kemudian si pegawai berniat baik dengan inisiatif mengecat tembok kantor atau menaruh bunga depan pintu, Khalid mengatakan: “apakah pimpinan perusahaan akan senang?”

Para jamaah yang hadir dalam pengajian menjawab serentak: “Tidak.”

Lalu Khalid Basalamah menegaskan kembali bahwa pelanggaran itu bukan hanya melakukan apa yang dilarang, tetapi juga melakukan apa yang tidak diperintahkan.

Padahal, perayaan maulid Nabi Muhammad Saw adalah bentuk kecintaan umat muslim kepada panutan mereka. Menurut sebagian ulama, tidak perlu dalil untuk merayakan cinta. Dalam beberapa kesempatan, para ulama NU terutama seringkali menukil ayat al-Quran seperti Q.S Yunus Ayat 58:

 قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُون

Artinya: Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmatNya (Nabi Muhammad SAW) hendaklah mereka menyambut dengan senang gembira. (QS.Yunus: 58)

Ayat ini menganjurkan kepada umat Islam agar menyambut gembira anugerah dan rahmat Allah. Dengan salah satu dalil inilah umat Muslim di Indonesia selalu merayakan maulid Nabi Saw karena ekspresi cinta dan rasa syukur atas ajaran yang telah sampai kepada kita. Wallahu A’lam.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here