Usman bin Madz’un: Sahabat yang Ditangisi Rasulullah

0
1202

BincangSyariah.Com – Kepergian sahabat yang amat dicintai dan telah berjuang bersama-sama sejak awal dapat menjadikan seseorang terpukul. Begitu pun bagi baginda Nabi Saw. ketika ditinggal mati oleh Usman bin Mad’un. Sebagai seorang manusia, Rasulullah Saw merasa sedih hati tatkala salah satu sahabatnya ini mendahuluinya menghadap Sang Khalik. Sebelum lebih jauh mengulas tentang kepergian sahabat Nabi Muhammad saw ini, penulis hendak memperkenalkan terlebih dahulu siapa sebenarnya sosok bernama Usman bin Madz’un.

Usman bin Madz’un yang memiliki panggilan Abu al-Saib ini adalah sahabat Nabi yang paling awal memeluk Islam. Menurut penelusuran Syamsuddin al-Dzahabi yang mengutip perkataan Abu ‘Umar al-Namiri, Usman bin Madz’un terhitung sebagai sahabat Nabi ke-14 yang memeluk Islam. Usman bin Madz’un merupakan pimipinan rombongan dalam ekspedisi hijrah pertama berjumlah 14 orang, 10 orang laki-laki termasuk Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf, dan 4 orang perempuan termasuk Ruqayyah.

Ketika Nabi Muhammad saw memerintahkan para sahabatnya hijrah ke Madinah, Usman bin Madz’un termasuk di antara sahabat yang ikut berhijrah. Dalam keterangan kitab al-Mausu’ah al-Mujizah fi al-Tarikh al-Islami Usman bin Madz’un termasuk sahabat yang ikut berperang dalam perang Badar pada tahun ke-2 H. Dalam kehidupan sehari-hari Usman bin Madz’un terkenal sebagai sahabat yang sangat tekun beribadah.

Siang harinya ia berpuasa dan malam hari dihabiskan untuk salat malam. Bahkan jauh sebelum khamr diharamkan Usman bin Madz’un adalah orang yang mengharamkan dirinya sendiri untuk meminumnya. Padahal ketika itu minum khamr adalah tradisi yang cukup kuat mengakar dalam kehidupan sehari-hari orang Arab.

Menurut Ibnu al-Mubarok dari ‘Umar bin Sa’id dari Ibnu Basith, ia pernah mendengan Umar bin Madz’un berkata, “Aku tidak meminum minuman yang dapat menghilangkan kewarasanku, dan membahayakan orang yang berada di dekatku.”

Baca Juga :  Benarkah Rasulullah Memerangi Non-Muslim Hingga Masuk Islam?

Dalam keterangan kitab Siyar A’lam al-Nubala disebutkan bahwa karena saking khusyuknya Usman bin Madz’un dalam beribadah, ia bermaksud untuk menjomlo selama-lamanya karena menganggap menikah dapat menghambat laku ibadahnya. Namun, Rasulullah saw menegurnya dengan bersabda, “Tidakkah aku cukup bagimu sebagai teladan yang baik? Tidak ada umatku yang menjomlo.”  Usman pun kemudian menutuskan untuk menikah. (Fatimah Putri Nabi Tertawa dan Menangis Mendengar Cerita Nabi)

Suatu ketika setelah sekian lama menikah, Usman bin Madz’un curhat kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, aku tidak suka istriku melihat auratku.” Rasulullah bertanya, “Kenapa?” Usman menjawab, “Aku malu jika istriku melihatnya.”

Rasul pun bersabda, “Allah Swt telah menjadikan istrimu selayaknya pakaian bagimu, dan menjadikanmu selayaknya pakaian bagi istrimu (Inna Allah qad ja’alaha laka libasan, wa ja’alaka libasan laha).”

Kembali pada kisah wafatnya salah satu sahabat terbaik Rasulullah saw. Dalam catatan Syamsuddin al-Dzahabi, Usman wafat pada Sya’ban tahun ke-3 H. Diriwayatkan dari Ashim bin Ubaidillah dari al-Qasim bin Muhammad dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah saw memeluk Usman bin Madzun ketika wafatnya hingga Air mata Rasulullah yang mulia menetes ke pipi Usman bin Madz’un. Hadis ini disahihkan Imam al-Tirmidzi. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here