Biografi Singkat Imam Ahmad bin Hanbal

4
8229

BincangSyariah.Com – Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal Hilalusy Syaibani yang dilahirkan di Baghdad pada tahun 163 H dan wafat tahun 241 H.

Semasa kecil, beliau belajar di daerahnya kemudian pindah ke Syam, Hijaz, dan Yaman serta belajar langsung dari Sufyan bin ‘Uyainah dan Imam Syafi’i selama beliau tinggal di Baghdad. Imam Syafi’i pernah berkata tentang Imam Ibnu Hanbal, “Aku keluar dari Baghdad dan aku tidak menjumpai di sana orang yang lebih takwa, zuhud, wara dan lebih pandai dari Ahmad bin Hanbal.”

Beliau telah banyak meriwayatkan hadis dari para ahli yang termasuk gurunya juga, di antara mereka adalah Imam Bukhari dan Imam Muslim. Beliau juga banyak menulis kitab sehingga konon mencapai 12 muatan kendaraan. Dikatakan pula bahwa beliau telah meriwayatkan jutaan hadis.

Di antara kitab beliau yang terbesar adalah al-Musnad al-Kabir atau sekarang dikenal Musnad Ahmad yang disebut-sebut sebagai kitab terbaik dari segi kedudukan dan kritiknya. Beliau tidak sembarangan dalam menempatkan hadis dan hanya memasukkan hadis yang memiliki tingkat hujjah yang kuat. Beliau juga telah menyeleksi 750.000 hadis.

Dalam mengeluarkan fatwa, beliau sangat selektif terhadap fatwa para sahabat yang tidak ada nash atau dalil di dalamnya, hingga jika ada satu masalah terjadi perselisihan yang menyebabkan dualisme persepsi maka beliau memuat kedua hal tersebut sebagai riwayat. Beliau juga sangat tidak suka dan menentang berfatwa terhadap suatu masalah yang tidak ada nash atau keterangan ulama terdahulu di dalamnya.

Kekerasan Imam Ahmad nampak dalam kehati-hatian dan keyakinannya bahwa dalam kejadian harus ada nash atau atsarnya. Kekakuan beliau juga terlihat dari penolakan beliau terhadap fatwa yang di dalamnya tidak ada nash atau astar yang sesuai dengan mazhabnya. Termasuk mazhab-mazhab lain yang tersebar di berbagai wilayah di bumi.

Baca Juga :  Di Hari Kiamat Kelak, Ini Panggilan Khusus untuk Panggilan Orang yang Memuliakan Bulan Rajab

Sepeninggal Imam Ahmad, para sahabatnya terfokus pada upaya mengkaji berbagai pendapat beliau yang tercantum dalam fatwa-fatwanya. Hal itu sangat berbeda dengan kebiasaan pada ulama mazhab selainnya di mana mereka berijtihad dengan mengikuti perubahan zaman, meskipun terkadang produk mereka berbeda dengan imamnya dalam penetapan kaidah-kaidah ushul (dasar) mereka.

Oleh karena itu mazhab Hanbaliyah dipandang dari sisi pengikutnya sangat sedikit. Mula-mula mazhab Hanbali terlihat di Baghdad dan terus menyebar ke wilayah lain negeri itu.

*Disarikan dari kitab al-Shalah ‘Ala Mazhab al-Arba’ah karya Abdul Qadir al-Rahbawi

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here