Biografi Ringkas Sayyidah Aisyah: Dari Kelahiran sampai Masa Pernikahan

0
1046

BincangSyariah.Com – Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah lahir tujuh tahun sebelum hijrahnya Rasulullah saw ke Madinah. Ini berdasarkan pernyataannya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa dia dinikahi Rasulullah saw tepat pada umur enam tahun. Kemudian dia berkumpul dan tidur bareng dengan Rasulullah saw pada saat berumur sembilan tahun.

Keluarga Sayyidah Aisyah

Ayahnya bernama ‘Abdu al-Ka’bah yang kemudian dirubah Abdullah oleh Rasulullah saw setelah masuk Islam. Julukan ayahnya dikenal Abu Bakar al-Shiddiq oleh umat islam hingga sekarang. Sahabat terbaik Rasulullah saw. Sedang Ibunya bernama Zainab. Akan tetapi lebih dikenal julukannya yaitu Ummu Rauman.

Nasab kedua orang tuanya bersambung pada nasab Rasulullah saw. karena ayahnya dari keturunan Murrah. Yaitu Abu Bakar Bin Abi Quhafah bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah. Sedangkan ibunya bagian dari keturunan Kinanah.

Sayyidah A’isyah lahir sudah dalam keadaan masuk Islam. Karena ayah ibunya sudah masuk Islam sebelum kelahiran Sayyidah Aisyah. Ayahnya menjadi orang pertama yang mempercayai kabar agung berupa Isra’ Mi’rajnya Rasulullah saw. Ibunya pun juga tergolong orang-orang yang paling awal masuk Islam.

Dia memiliki lima saudara. Yaitu Abdu al-Rahman sebagai saudara kandungnya dan Abdullah, Asma’, Muhammad serta Ummu Kultsum sebagai saudara seibu. Karena ayahnya tidak memiliki hanya satu istri yang berupa Zaibab atau Ummu Rauman. Melainkan juga punya istri yang lain selain ibu sayyidah A’isyah.

Sebagaimana layaknya anak kecil, dia juga sangat senang bermain dan berekspresi layaknya mereka bersama teman-teman sebayanya. Akan tetapi dia tidak banyak ambil bagian dalam hal itu layaknya mereka pada umumnya. Karena dia dilamar untuk menjadi pengantin dan istri Rasulullah pada usia yang sangat belia.

Baca Juga :  Albani dalam Pandangan Ali Mustafa Yaqub

Dia menceritakan sebagaimana riwayat imam Bukhari bahwa pada saat bermain dengan teman-temannya tiba-tiba dia dipanggil oleh ibunya dengan suara yang sangat lantang. Lalu dia menemui ibunya didepan pintu dengan kondisi tergopoh-gopoh karena kaget. Kemudian dia diajak masuk kedalam oleh ibunya dan mendapat doa serta sanjugan kebaikan dari beberapa perempuan Anshar yang sudah berkumpul terlebih dahulu didalamnya.

Kisah Pernikahan Sayyidah Aisyah dengan Rasulullah

Awal mula pertunangan dan pernikahan sayyidah Aisyah dengan Rasulullah saw bermula dari wahyu yang diturunkan Allah swt melalui mimpi. Dimana Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim bermimpi sayyidah A’isyah hingga tiga malam di akhir masa hidupnya sayyidah Khadijah.

Rasulullah saw melihat malaikat Jibril membawa sosok perempuan dalam mimpinnya. Seluruh tubuhnya tertutup hingga mukanya sekalipun dengan kain sutera yang senagat megah. Dikatakan oleh malaikat Jibril ”inilah calon istrimu”. Setelah dibuka oleh Rasulullah saw ternyata Sayyidah A’isyah. Rasulullah saw menjawab “jika ini memang dari Allah swt pasti akan terjadi”. (lihat: Shahih al-Bukhari dalam Kitab al-Ta’bir dan Shahih al-Muslim Kitab Fadhail al-Sahabah)

Setelah wafatnya ٍayyidah Khadijah ada seorang perempuan bernama Khaulah mendatangi Rasulullah saw dan mengatakan, “wahai Rasulullah saw apakah anda tidak mau menikah?” dijawab oleh Rasul, “dengan siapa?” perempuan itu bertanya lagi, “mau perawan atau janda?” rasulpun balik bertnya, “siapakah gerangan?” dijawab oleh peremuan itu, “yang perawan adalah Aisyah, perempuan yang paling cinta terhadapmu dan yang janda adalah Saudah, perempuan yang sudah beriman dan menjadi pengikutmu.” Rasul pun menimpalinya, “silahkan datangi dan ingatkan saya.”

Perempuan itu langsung bergegas mendatangi rumah Abu Bakar al-Shiddiq dan bertemu langsung dengan Ummu Rauman sembari mengatakan “Allah telah menganugerahi kebaikan dan keberkahan buat kalian.” Disanggah oleh Ummu Rauman, “apa itu?” dijawab oleh perempuan itu, “saya diutus oleh Rasulullah saw untuk melamar A’isyah putrimu.”

Ummu Rauman bilang, “mohon tunggu Abu Bakar.” Lalu datanglah Abu Bakar dan disampaikan hajat dan kebutuhannya. Abu Bakar bilang dan bertanya, “apakah dia boleh dan pantas berdamping dengan Rasulullah saw padahal saya masih saudaranya?” Perempuan itu langsung balik dan menyampaikan pada Rasulullah saw. Rasulpun menjawab, “sampaikan pada Abu Bakar, bahwa dia adalah saudaraku seislam dan anaknya halal bagiku.”

Setelah mendengar itu Abu Bakar langsung menikahkan puterinya A’isyah dimana umurnya pada saat itu sekitar umur enam atau tujuh tahun. Pernikahan itu berlangsung hanya sebatas akad. Belum digauli oleh Rasulullah saw hingga beliau hijrah ke madinah. Tepat pada tahun kedua bulan Syawal selesai perang badar, Rasulullah baru menggauli Sayyidah A’isyah ra.

Baca Juga :  Hikayat Muhammad Hanafiyyah dalam Sastra Islam Nusantara

Disarikan dari: Dr. Said Ramadan al-Buthi, A’isyah Ummul Mu’minin Ayyamuha wa Siratuha al-Kamilah fi Shafhat, Karya Dr. Said Ramadhan al-Buthi (Maktabah al-Farabi), hal. 9-27.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here