Biografi A.R. Fachruddin: Pimpinan Muhammadiyah yang Bersahaja

0
26

BincangSyariah.Com – Muhammadiyah telah memasuki usia lebih dari satu abad sebagai salah satu ormas Islam besar di Indonesia dan mampu konsisten menciptakan pemikiran dan ide-ide pembaharuan di negeri ini. Muhammadiyah berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup umat. A.R. Fachruddin merupakan salah satu tokoh yang memiliki andil besar dalam perjuangan dakwah yang cukup panjang tersebut.

Pak AR, begitulah sapaan akrab masyarakat kepada beliau. Pak AR lahir di Cilangkap, Purwangan, Pakualaman Yogyakarta pada tanggal 14 Februari 1916 dengan nama lengkap Abdur Rozak Fachruddin. Beliau adalah putra pasangan K.H. Fachruddin dan Maimunah binti K.H. Idris, Pakualaman. Ayahanda beliau merupakan seorang lurah naib atau penghulu di Puro Pakualaman dan pengusaha batik di rumahnya.

Pendidikan

Pada awal pendidikan, A.R. Fachruddin sempat menikmati pendidikan formal di Standaard School Muhammadiyah Bausasran, Yogyakarta, tahun 1923. Sayangnya, pendidikannya harus putus di tengah jalan karena A. R. Fachruddin beserta keluarga pulang ke desanya di Bleberan, Galur, Kulonprogo, lantaran ayahanda beliau tidak lagi menjadi penghulu dan usaha batiknya juga bangkrut.

Pada tahun 1925, A.R. Fachruddin kembali melanjutkan pendidikannya di Standaard School Muhammadiyah Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Setelah tamat dari Standaard School Kotagede, beliau sempat mencicipi pendidikan di Madrasah Muallimin Muhammadiyah selama dua tahun saja lantaran ingin memenuhi panggilan sang ayah untuk pulang ke Bleberan guna belajar kepada beberapa kiai disana, seperti K.H. Abdullah Rosad, K.H. Abu Amar, dan K.H. Fachruddin, ayahanda beliau sendiri. Di samping itu, setiap bakda maghrib beliau juga aktif belajar di Madrasah Wustha Muhammadiyah Wanapeti, Sewugalur, Kulonprogo.

Pada tahun 1932, A.R. Fachruddin menempuh pendidikan di Madrasah Darul Ulum Muhammadiyah Wanapeti setelah ayahandanya wafat dua tahun sebelumnya. Kemudian, beliau pindah  ke Madrasah Tabligh School Muhammadiyah pada tahun 1935 sampai lulus.

Baca Juga :  Sahabat Nabi Ini Tetap Menyambung Silaturahmi Meski Beda Agama dengan Ibunya

Dalam perjalanan hidupnya, Pak AR dikenal sebagai figur yang low profile, mempunyai wawasan keislaman yang cukup luas, sabar, kaya dengan humor-humor segar dan sulit untuk dicari bandingannya. Beliau selalu membawa kesejukan bagi siapa saja yang mengenalnya, bahkan non Muslim sekalipun. Meskipun dikenal sebagai ulama yang sejuk, beliau akan tetap melawan jika ada sesuatu yang tidak mencerminkan kebaikan. Tentu saja, beliau selalu mengingatkan dengan nada yang lembut dan sejuk sehingga mudah diterima oleh berbagai pihak.

Pengalaman di Organisasi Muhammadiyah

Tumbuh dalam ruang lingkup Muhammadiyah sejak kecil adalah diantara sebab didaulatnya A. R. Fachruddin menjadi ketua pimpinan pusat ormas berlambang matahari pencerahan tersebut. Beliau merupakan satu-satunya tokoh penerus estafet perjuangan ormas Muhammadiyah yang paling lama, yaitu selama 22 tahun. Beliau dikukuhkan sebagai ketua pimpinan pusat Muhammadiyah sejak tahun 1968 untuk menggantikan K.H. Fakih Usman yang telah wafat. Sejak saat itulah, beliau selalu terpilih dalam Muktamar Muhammadiyah selama empat periode berturut-turut sampai tahun 1990.

Jalan yang dirintis oleh A. R. Fachruddin hingga menjabat sebagai ketua pimpinan pusat Muhammadiyah tersebut tidaklah mudah. Saat masih menjadi anggota, A.R. Fachruddin pernah ditugaskan di pelosok Sumatera Selatan untuk mengembangkan gerakan dakwah Muhammadiyah dan menjadi pengajar di pelbagai sekolah. Beliau harus merasakan pahit getir dalam berdakwah di tempat yang jauh dari kota. Apalagi, ketika sekolah tempat beliau mengajar di daerah Sungai Gerong harus ditutup lantaran ada pasukan Jepang yang menyerbu pabrik minyak Sungai Gerong. Beliau juga merasakan hidup seperti umat tingkat bawah yang serba kekurangan. Namun pada akhirnya, pelbagai kesulitan dan kesusahan yang dialami beliau itulah yang kelak mampu menjadikan A. R. Fachruddin sebagai pemimpin yang arif.

Baca Juga :  Haji Bilal Djokja: Donatur Muhammadiyah dan NU di Awal Kemerdekaan

Dalam masa kepemimpinannya, A.R. Fachruddin benar-benar menjadi pemimpin yang dihormati dan dijadikan panutan umat. Beliau selalu berupaya menerapkan pemikiran-pemikiran mulia sebagaimana yang diwariskan oleh pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, dan para pemimpin lainnya sebelum beliau menjabat, yaitu menjadikan Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup dan membersihkan segala praktik keagamaan yang mengandung bid’ah, takhayul dan khurafat yang ada di masyarakat.

Setelah masa kepemimpinannya berakhir, A. R. Fachruddin menolak ketika diajak untuk duduk kembali sebagai ketua pimpinan pusat Muhammadiyah dalam Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta tahun 1990, sehingga tongkat estafet kepemimpinan Muhammadiyah diserahkan kepada K.H. Azhar Basyir yang kemudian wafat dan digantikan oleh Prof. Dr. H. M. Amien Rais.

Selain menjabat sebagai ketua pimpinan pusat Muhammadiyah, sebelumnya A.R. Fachruddin juga pernah menduduki jabatan penting di negeri ini, yaitu sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia pada tahun 1988.

Karya Tulis

Selama masa hidupnya, Pak AR telah melahirkan karya-karya monumental yang banyak dijadikan pedoman, di antaranya adalah Naskah Kesyukuran; Naskah Enthengan, Serat Kawruh Islam Kawedar, Upaya Mewujudkan Muhammadiyah sebagai Gerakan Amal; Pemikiran dan Dakwah Islam; Syahadatain Kawedar; Tanya Jawab Entheng-Enthengan; Muhammadiyah adalah Organisasi Dakwah Islamiyah; Al-Islam Bagian Pertama; Menuju Muhammadiyah; Sekaten dan Tuntunan Sholat Basa Jawi; Kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis; Khutbah Nikah dan Terjemahannya; Pilihlah Pimpinan Muhammadiyah yang Tepat; Soal-Jawab Entheng-Enthengan; Sarono Entheng-Enthengan Pancasila; Ruh Muhammadiyah, dan masih banyak lagi karya-karya beliau yang tidak disebutkan.

Akhir Hayat

A.R. Fachruddin memang telah meninggalkan dunia yang fana ini pada 17 Maret 1995. Akan tetapi, beliau masih hidup dan melekat kuat di dalam hati para pecintanya khususnya keluarga besar Muhammadiyah.

Baca Juga :  K.H. Ahmad Dahlan: Pelopor Gerakan Modern Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here