Biografi Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir: Memantapkan Visi Islam Berkemajuan Muhammadiyah

0
1

BincangSyariah.Com – Ada stereotype bahwa seorang pemimpin selalu lekat dengan kemewahan. Tetapi nampaknya hal itu sama sekali tidak terlihat pada Pemimpin Muhamadiyah saat ini, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir. Pada pertengahan 2018, beredar di media sosial foto Pak Haedar yang tengah menunggu kereta di stasiun Kediri dengan menenteng sendiri barang bawaannya tanpa pengawalan sama sekali. Bagi yang belum pernah mengenalnya, tidak akan mengira kalau lelaki berbaju batik sederhana di dalam foto tersebut membawahi sekitar 25 juta jiwa umat islam yang tergabung dalam PP Muhamadiyah.

Kesederhanaan yang tampak pada dirinya bukan sekedar gimmick atau pencitraan. Prof. Dr. Haedar Nashir adalah seorang pendidik, pemikir, penulis dan pembaharu yang seluruh kehidupanya diwakafkan untuk umat, bangsa dan tanah air tanpa mengenal pamrih.

Pak Haedar dilahirkan di Desa Ciheulang, Ciparay, Bandung Selatan, 25 Februari 1958 dari pasangan H. Bahrudin dan Hj. Endah binti Tahim. Ia merupakan anak bungsu dari dua belas bersaudara. Memiliki ayah yang seorang ajengan (sebutan tokoh agama di Jawa Barat) membuatnya mengenal pendidikan agama secara disiplin sejak dini. Guyuran air untuk membangunkan shalat subuh jika tak segera bangun, atau sabetan sorban jika salah melafazkan bacaan alquran adalah kenangan yang mewarnai masa kecil Pak Haedar.

Dimulai dari didikan agama sang ayah, Haedar melanjutkan pendidikan di pesantren di Cintawarna Tasikmalaya. Membuatnya memiliki bekal keilmuan agama yang cukup untuk mengarungi sekaligus memaknai bahtera kehidupan di masa depan, membuatnya memiliki kecintaan pada ilmu.

Ia memang dibesarkan di kultur Muhammadiyah. Tidak merasa cukup hanya berbekal ilmu agama sebagaimana pandangan tokoh agama tradisionalis, beliau pun disaat yang sama juga mengenyam pendidikan umum. Dimulai dari SD di Madrasah Ibtidaiyah Cigugur Ciparay Kabupaten Bandung, SMP Muhamadiyah 3 Padasuka dan SMA Negeri 10 Bandung dengan jurusan ilmu pasti dan alam.

Baca Juga :  Biografi K.H. Ahmad Dahlan: Mendirikan Muhammadiyah, Membawa Islam Senafas dengan Kemajuan

Sejak SMA ini bakat organisasinya mulai terasah. Haedar adalah ketua cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) pertama di Padasuka, Bandung. Lewat IPM ini ia terbiasa kesana kemari untuk mengembangkan pengkaderan dan menjadi modal awal untuk khidmah di Muhamadiyah.

Selepas SMA beliau mendapat restu dari orang tuanya untuk merealisasikan keinginannya semenjak kecil, melanjutkan studi di kota pelajar Yogyakarta. Keinginan yang sempat tertunda, karena baru selepas SMA ia diberi izin. Yogyakarta membuatnya semakin merekat dengan Muhamadiyah. Saat di Yogyakarta pula ia menikahi Noorjannah Djohantini pada 10 September 1987.

Terkait pilihannya ke Yogyakarta, pak Haedar memiliki motivasi untuk menimba ilmu sebagai bekal membangun desanya di Cihelang. Sejak awal, ia memiliki cita-cita menjadi lurah atau camat di tempat kelahirannya sendiri. Untuk itu, ia memiliki kuliah tingkat sarjana di STMD (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa). Meski akhirnya putaran takdir membawanya ke arah yang lain. kesenangan menulis dan minatnya kemudian menjadi wartawan tidak membawanya ke cita-cita awalnya.

Kisaran tahun 1985-1995 adalah fase di mana Pak Haedar menjadi wartawan, termasuk di Suara Muhammadiyah. Fase itu penuh dengan pengalaman memburu berita ke pelosok-pelosok daerah, naik turun angkot, kereta api, bahkan kadang harus jalan kaki. Belum lagi setelah menulis liputan berita, kadang masih harus dicoret-coret oleh redaktur dengan tinta merah. Baginya fase ini sebuah proses yang harus ia jalani selama sepuluh tahun sebelum ia menjadi pemimpin redaksi Suara Muhamadiyah.

Sejak muda, pikiran-pikirannya tersebar di berbagai media cetak baik lokal ataupun nasional. Baik dalam bentuk opini atau buku-buku. Belum lagi penelitian-penelitian yang beliau lakukan baik untuk kepentingan akademik atau yang lainnya. Ia menyelesaikan pendidikan strata 2 di UGM. Tesisnya di bidang sosiologi berjudul “Perilaku Elit Politik Muhamadiyah di Pekajangan,”  Di kampus yang sama, ia menyelesaikan pendidikan doktoral dengan judul disertasi “Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia.”

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua

Ini belum termsuk sepuluh buku lainnya yang berisi gagasannya diantaranya tentang Muhamadiyah. Karena begitu mendalamnya pengenalan pak Haedar terhadap Muhammadiyah, ia sampai dijuluki ensiklopedia Muhamadiyah berjalan atau bapak ideologi Muhamadiyah.

Ide-ide keislaman dan keindonesiaan adalah tema penting yang selalu beliau usung dalam tulisanya. Moderasi agama atau islam tengahan adalah isu yang selalu ia propagandakan sebagai problem solving problematika umat dan bangsa. Sebagai bapak ideologi Muhamadiyah, beliau selalu menekankan bahwa Muhamadiyah merujuk pada format Khaira ummah (umat terbaik) yang menampilkan sosok “ummatan wasathan” (umat moderat) dan tidak terjebak pada ghulul (ekstrimisme) yang inti gerakanya adalah pemurnian (purifikasi) sekaligus pengembangan (dinamisasi).

Karir akademiknya diantara menjadi peneliti di LP3 Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY) sampai menjadi dosen di berbagai universitas, seperti UMY sendiri, UIN Sunan Kalijaga, dan membimbing disertasi di UGM.

Sementara  karir di organisasi Muhamadiyah beliau rintis dari bawah. Awalnya hanya mengetuai IPM cabang Padasuka Bandung kemudian naik menjadi ketua IPM wilayah Yogyakarta. Di tahun 1990-1995 dan 1995-2000, pak Haedar diamanahi menjadi ketua pendidikan kader dan pembinaan. Pada tahun 2000-2005 menjadi sekretaris umum PP Muhamadiyah mendampingi Buya Syafi’i Ma’arif.

Tahun 2015, pada Muktamar Muhamadiyah ke-47 di Makassar, pak Haedar terpilih menjadi ketua umum PP Muhamadiyah periode 2015-2020. Sementara istrinya juga kebetulan didaulat menjadi ketua umum Aisyiyah. Sehingga banyak orang mengatakan bahwa terpilihnya Pak Haedar dan istrinya sebagai ketua umum PP Muhamadiyah dan Aisyiyah adalah pengulangan sejarah Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Siti Walidah setelah satu abad lebih.

Dibawah lokomotif K.H. Haedar Nashir, banyak warga Muhammadiyah berharap beliau mampu membawa persyarikatan yang didirikan Kyai Ahmad Dahlan ini menjadi lebih modern, moderat dan tentunya maju dengan semangat Islam Berkemajuan.

Baca Juga :  Ahmad Wahib: Mencatat Pemikiran dalam Catatan Harian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here