Biografi Prof. Dr. Harun Nasution: Pembawa Gagasan Rasionalisme ala Muktazilah di IAIN

0
31

BincangSyariah.Com – Dalam buku Refleksi Pembahuan Pemikiran Islam 70 Tahun Harun Nasution, sebuah buku yang ditulis oleh sahabat dan yang mengenal sosok Harun Nasution, dikisahkan Harun kecil adalah anak yang selalu mempertanyakan segala sesuatu. Pertanyaan-pertanyaan kritis anak itu sering kali merepotkan orang tua dan guru-guru di sekolah.

Suatu hari dia bertanya mengenai penjajahan Belanda. Meski sang ayah menentang penjajahan Belanda, tetapi jawabanya tetap saja menurutnya adalah apa yang hari ini disebut fatalistik. Ayahnya mengatakan, “datang perginya penjajah itu terserah Allah. Jika Dia berkehendak, mereka akan akan pergi dengan sendirinya,” jawab sang ayah. Ayahnya bahkan menyarankan agar anaknya itu tidak perlu terlalu jauh mempersoalkan masalah politik.

Harun kecil hanya diam mendengar jawaban yang cenderung pasrah tanpa dialog itu, meski sebenarnya ia tidak menerima begitu saja. Anak itulah kini yang dikenal sebagai mendiang Prof. Dr. Harun Nasution, seorang Filsuf, pemikir, bahkan disebut sebagai pembaharu pemikiran islam tanah air.

Tidak Betah di Al-Azhar, Jadi Doktor di Kanada

Harun Nasution adalah putra Batak yang lahir 25 September 1919 di Pematang Siantar, daerah Tapanuli Utara Sumatra Utara. Ayahnya bernama Abdul Jabar Ahmad yang merupakan tokoh agama dan penghulu di Kabupaten Simalungun. Sedangkan ibunya bernama Maemunah, gadis dari Boru Tapanuli. Ibunya adalah putri seorang ulama yang pernah tinggal di Mekah dan pandai berbahasa Arab. Lahir di keluarga religius membuatnya mengenal dasar-dasar keilmuan islam sejak dini ditanamkan kepada Harun kecil.

Sejak kecil ia memiliki sikap ulet dan gigih dalam setiap pekerjaan, terutama dalam hal belajar. Hal itu terbukti dari riwayat pendidikan dan prestasi yang ia capai. Dimulai dari pendidikan dasar milik Belanda Hollandsch Inland School (HIS) Selama tujuh tahun, lulus pada tahun 1934 dengan predikat siswa terbaik. Di sekolah ini Harun muda berkesempatan mempelajari bahasa Belanda dan ilmu umum. Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Modern Islamietische Kweekschool (MIK) di Bukittinggi. Meski merupakan sekolah keagamaan, sekolah yang didirikan oleh Syekh Jamil Jambek ini juga sudah menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Murid-murid pun berpakaian layaknya yang di sekolah Belanda, menggunakan pantalon dan berdasi. Sikap kritis dan progresif Harun mulai terasah disini, terutama pada beberapa hukum-hukum islam yang selama ini dipahami oleh keluarga dan masyarakatnya yang dianggapnya kurang tepat. Misalnya, dari sekolah ini misalnya Harun mendapatkan pandangan bahwa menyentuh anjing itu tidak najis dan tidak perlu berwudhu untuk memegang mushaf. Pandangan-pandangan yang tidak berkembang di wilayah nusantara sebelum kedatangan gelombang pemikiran pan-Islamisme.

Seperti dikutip dari Tirto, pandangan-pandangan tersebut terdengar sampai orang tua Harun dan membuat mereka mengkhawatirkan Harun. Orang tuanya kemudian mengirimkannya belajar di Mekkah. Namun, ia merasa tidak betah karena kondisi Mekkah menurutnya jauh lebih terbelakang dibandingkan kehidupannya saat di Sumatra dahulu.

Ia pun lebih memilih pindah ke Universitas Al-Azhar, Kairo tepatnya di Fakultas Ushuludin. Namun, ia hanya bertahan satu tahun di Al-Azhar. Ia pun pindah ke American University Cairo dengan jurusan ilmu-ilmu sosial dan meraih gelar sarjana muda (BA) pada tahun 1952.

Setelah itu, ia bekerja di perusahaan swasta dan sempat bekerja di Kedutaan Indonesia di Kairo. Melalui karir diplomatiknya, ia mengenal seorang gadis Mesir yang kemudian ia persunting sebagai istri bernama Sayyidah. Sekitar tahun 1953 ia berpindah ke Jakarta dan bekerja di Departemen Luar Negeri antara tahun 1953-1960. Berkat penguasaan bahasa asingnya yang mumpuni, karirnya merangkak naik sampai diangkat menjadi sekretaris III pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Brussel.

Setelah mundur dari kedutaan, Harun Nasution memperoleh beasiswa dari Institute of Islamic Studies di Universitas McGill, Montreal, Kanada dan meraih gelar S2 pada tahun 1965. Di universitas yang sama, Harun melanjutkan studinya dan meraih gelar doktor di bidang studi Islam pada tahun 1968 dengan disertasi The Place Is Reasson in Abduh’s Theology: Its Impact on His Theological System and Views (disertasi tersebut dapat diunduh di sini). Kelak, gagasan-gagasan dalam disertasinya ini yang akan banyak ia bicarakan sebagai bagian dari ide rasionalisme Islam.

Memimpin dan Mentransformasi IAIN Jakarta

Mengemban gelar doktor, Harun mengabdikan diri menjadi tenaga pengajar di beberapa universitas,  diantaranya adalah IAIN (sekarang UIN) Jakarta, IKIP (sekarang UNJ) Jakarta dan kampus lainya. Ia kemudian diangkat menjadi rektor IAIN Jakarta selama sebelas tahun dari tahun (1973-1984). Jabatan terakhirnya di IAIN Jakarta adalah menjadi pimpinan program Pascasarjana (sekarang bernama Sekolah Pascasarjana) IAIN Jakarta.

Salah satu gagasannya dalam mentransformasi IAIN adalah perombakan orientasi pendidikan Islam di IAIN. Ia menambahkan kurikulum seperti filsafat, kalam, tasawuf, perbandingan mazhab, perbandingan agama dan lain-lain yang semakin membuka cakrawala berpikir dan memancing gairah diskusi masyarakat muslim. UIN Jakarta saat ini mengabadikan nama Harun Nasution sebagai nama gedung auditorium di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Sebagai seorang akademisi, salah satu pandangannya adalah kesimpulan bahwa kemunduran umat Islam terjadi karena meninggalkan rasionalitas, dan terlalu condong kepada faham fatalistik ala Jabariyah. Efek dari pendapatnya tersebut, ia disebut sebagai pemikir liberal dan penjaja teologi Muktazilah, kelompok yang dianggap sesat dan kafir oleh banyak tokoh (lihat gagasan tentang Rasionalisme Muktazilah di sini). Bahkan dalam Majalah Tempo edisi 12 oktober 1998 diceritakan bahwa suatu hari Muhamad Hatta mantan wakil presiden menanyakan kenapa tesisnya tidak dipublikasikan. Ia menjawab takut terjadi reaksi negatif di masyarakat.

Benar saja, ketika Harun Nasution menjelaskan isi tesisnya yang menyimpulkan bahwa Muhamad Abduh pembaharu islam asal Mesir adalah seorang muktazilah. Salah seorang tokoh yang ada di sampingnya mengucapkan “na’udzubillah” mengisyaratkan ketidak sukaanya terhadap pemikiran muktazilah.

Meski gelombang kontroversi menyelimuti kehidupannya, tetapi kiprah, khidmah dan jasa-jasanya untuk kemajuan agama dan bangsa tidak boleh kita menutup mata akan itu. Menurut Nurcholish Majid, Harun Nasution adalah “pembuka” pintu untuk mendekati wahyu melalui rasio. Dan itu adalah satu langkah dari ribuan langkah yang memang harus ditempuh. Tokoh lain Komarudin Hidayat juga meluruskan bahwa seekstrim apapun pemikir islam, wahyu tetap menjadi pijakan utama. Hanya saja mereka memberi porsi akal lebih banyak dari yang lain.

Karya-Karya Harun Nasution

Karya-karya Prof. Dr. Harun Nasution yang sampai hari ini masih dijadikan rujukan oleh masyarakat dalam mendalami agama islam. Di antaranya adalah:

  1. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,
  2. Teologi Islam: Aliran-Aliran, Analisa dan Perbandingan,
  3. Filsafat Agama, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam (1978),
  4. Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Akal dan Wahyu Dalam Islam,
  5. Muhamad Abduh dan Teologi Rasional Muktazilah,
  6. Islam Rasional. Warisan keilmuan ini adalah bukti kebesaran seorang Harun Nasution yang memberi warna dalam dinamika pemikiran islam Indonesia.

Pada 18 September 1998 beliau dipanggil menghadap tuhan dengan mewariskan sumbangan pemikiran untuk islam dan bangsa Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here