K.H. Said Aqil Siradj dan Kepakarannya dalam Pemikiran Islam yang Kurang Terdengar

0
38

BincangSyariah.Com – Bicara tentang sosok Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj tidak akan lepas dari sisi kontroversialnya. Misalnya saja, ia pernah menyatakan statemen “semakin panjang jenggot, semakin bodoh.” Terlepas dari kontroversinya,  ternyata pernyataan itu bukan pernyataan tanpa referensi. Karena statement seperti itu ternyata memang ada dalam kitab Akhbar Al-Hamqa’ wal Mughafilin karya Ibn al-Jauzi. Diceritakan bahwa Abdul Malik Bin Marwan, salah seorang raja sekaligus ulama pada dinasti Umayah pernah berkata ”barang siapa terlalu panjang jenggotnya, maka pendek akalnya.”

Terlepas dari setuju atau tidaknya orang menanggapi statemen Kyai Said tersebut, satu hal yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun adalah kecerdasannya. Maka tidak heran jika Gus Dur pernah mempromosikannya sebagai doktor muda NU di awal 90-an karena menulis disertasi yang memiliki lebih dari 1000 referensi, seperti dikutip dari buku Kiai Said sendiri, Dialog Tasawuf Kiai Said. 

Latar Belakang Keluarga

Lahir dari pasangan K.H. Aqil Siradj dan Hj. Afifah Harun, keduanya adalah pengasuh Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat 3 Juli 1953. Jika ditarik ke atas, maka nasab Kiai Said akan bertemu kepada Sunan Gunung Jati, salah seorang Wali Songo penyebar Islam di tanah jawa. Bahkan jika diteruskan lagi maka nasabnya akan sampai kepada Rasulullah saw sebagaimana yang dimuat dalam situs resmi NU.

Maka kealiman kiai said memang didukung oleh warisan genetik di samping dari keseriusannya dalam menimba ilmu agama sejak belia. Kiai said sendiri adalah anak ke dua dari lima bersaudara yaitu: Ja’far Shodiq Aqil Siroj, Musthofa Aqil Siraj, Ahsin Syifa Aqil Siroj dan Ni’matullah Aqil Siroj.

Sejak kecil dididik dengan tradisi islam klasik di pesantren yang diasuh oleh ayahnya sendiri yaitu pesantren Tarbiyatul Mubtadiin atau yang lebih familiar dengan julukan pesantren Kempek. Dengan pendidikan agama yang disiplin, Kyai Said kecil digembleng dengan berbagai macam ilmu keislaman dasar oleh K.H. Aqil Siradj. Kiai Siroj sendiri adalah putra dari Kyai Muhamad Said Gedongan yang mashur sebagai salah seorang ulama yang turut berjuang melawan penjajahan kolonial Belanda. Oleh karenanya tidak heran jika Kiai Said Aqil memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi sebagaimana kita kenal hari ini.

Riwayat Pendidikan

Rekam jejak pendidikan agama K.H. Said Aqil Siradj berawal dari pesantren yang diasuh ayahandanya sambil menimba ilmu umum di sekolah formal yaitu Sekolah Rakyat (SR). Selepas lulus dari SR, Kiai Said melanjutkan pendidikanya di pesantren Lirboyo Kediri dan mendapat gemblengan dari tiga ulama besar yaitu KH. Marzuki Dahlan, KH. Muzayad Nganjuk, dan terutama oleh K.H. Mahrus Ali.

Mbah Mahrus adalah ulama yang dikenal sebagai waliyullah dan ikut serta dalam perjuangan melawan penjajah. Setelah kemerdekaan, mbah Mahrus adalah sosok kyai organisatoris yang ikut aktif di dunia politik. kyai Said muda sendiri masih memiliki hubungan kekerabatan dengan mbah Mahrus dan sama-sama berasal dari Cirebon.

Di pesantren Lirboyo, kiai Said menuntaskan pendidikan di tingkat Aliyah.  kiai said menuntaskan pendidikanya hingga lulus Aliyah. Ia sempat melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Tribakti Lirboyo, namun memutuskan untuk pindah ke IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sambil nyantri di pesantren Al-Munawir Krapyak di bawah asuhan KH. Maksum Ali. Meski pendidikan di IAIN Yogyakarta tidak selesai, di kota Yogya inilah ia berkenalan dengan para aktivis seperti Masdar F. Mas’udi dan aktivis lainnya.

Pada 13 Juli 1977 Kiai Said melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis yang merupakan tetangga di desa asalnya, bernama Nurhayati.

Di tahun 1980, kyai Said berangkat ke Mekah untuk kembali melaksanakan kuliah sarjana di Universitas King Abdul Aziz jurusan Ushuluddin dan lulus di tahun 1982.

Ia kemudian melanjutkan S2 di Universitas Umm al-Qura’ dengan konsentrasi yang sama  dan lulus pada tahun 1987. Beliau lulus dengan tesis “Rasail al-Rusul fi al-‘Ahd al-Jadid wa Atsaruhaa fi al-Masihiyyah” (Surat-Surat Sahabat (Nabi Isa) di Perjanjian Baru dan Pengaruhnya dalam Kekristenan).

Ia kemudian kembalikan melanjutkan pendidikan doktoral di universitas yang sama dan lulus tahun 1994 dengan predikat cum laude dengan mengangkat judul disertasi “Allah wa Shilatuhu bi al-Kaun fi at-Tashawuf al-Falsafi” (Allah dan Hubungannya dengan Alam Semesta: Perspektif Tasawuf Falsafi).

Diajak Gus Dur Kembali ke Tanah Air

Garis takdir membawanya K.H. Said Aqil Siradj untuk mengenal ketua PBNU dan sosok sentral dalam organisasi NU pada waktu itu, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kedekatan Kiai Said dengan Gus Dur, membuat kiai Said sering menemani Gus Dur bersilaturahmi bertemu beberapa ulama Arab Saudi, termasuk Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.

Bahkan jika Gus Dur berkunjung ke Arab Saudi, pasti ia akan menyempatkan berkunjung ke rumah Kiai Said untuk sekedar berdiskusi atau bahkan sampai menginap. Ketika di tahun 1994, kiai Said merasa sudah cukup belajar di Arab Saudi dan memutuskan pulang, Gus Dur langsung memanggilnya. Gus Dur lalu mengangkatnya Kiai Said sebagai Wakil Katib ‘Am PBNU di muktamar NU ke-29 di Cipasung. Sebuah jabatan yang tinggi bagi aktivis pendatang baru.

Sekembalinya di tanah air, ia sempat menggagas wacana rekonstruksi dan reinterpretasi terhadap teologi Ahlussunnah waj Jama’ah. Menurutnya, membatasi Ahlussunnah hanya pada dua aliran teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah dan empat mazhab fikih, yaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali saja terlalu sempit dan perlu di rumuskan ulang. Padahal pada zaman rasulullah sendiri belum ada riwayat yang mendefinisikan siapa saja yang boleh disebut sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah.

Meski wacana ini banyak mendapat penolakan dan kritikan dari para kiai, dan belum ada kelanjutan mengenai wacana rekonstruksi ini, tetapi fenomena kiai Said ini memberi dampak positif bagi para santri untuk kembali mendalami kajian sejarah yang selama ini dikesampingkan.

Meski kontroversi, kecerdasan Kiai Said tidak bisa dipungkiri. Terbukti ketika bagaimana beliau mentaubatkan nabi palsu pimpinan aliran Gafatar yaitu Ahmad Musadeq hanya melalui forum diskusi tanpa intimindasi. Gagasannya tentang Islam Nusantara juga diperhitungkan dunia internasional sehingga menempatkannya sebagai peringkat ke 19 muslim paling berpengaruh menurut buku The World’s 500 Most Influential Muslim 2020. Buku ini diertbitkan oleh Pusat Pembelajaran Strategis Kerajaan Islam di Amman, Yordania.

Karya-Karya K.H. Said Aqil Siradj
  1. Islam Kebangsaan: Fikih Demokratik Kaum Santri (1999)
  2. Kiai Menggugat: Mengadili Pemikiran Kang Said (1999)
  3. Pandangan Agama-Agama: Tradisi dan Filsafat (2003)
  4. Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi Bukan Aspirasi (2006).
  5. Ahlussunnah wal Jama’ah.

Kiprahnya di NU mencapai puncaknya pada tahun 2010. Beliau terpilih menjadi ketua umum PBNU. kemudian terpilih kembali untuk periode 2015-2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here