Biografi K.H. Ahmad Sahal Mahfudz: Fikih Sosial sebagai Instrumen Pemberdayaan Masyarakat

1
25

BincangSyariah.Com – Ketika Muktamar NU ke-28 tahun 1989 di Jogjakarta, panitia sudah mendapat kabar bahwa K.H. Ahmad Sahal Mahfudz akan segera tiba di area muktamar. Tetapi sampai acara hampir dimulai, beliau belum juga tiba. Karena gusar, seorang panitia memutuskan untuk mengonfirmasi perihal kehadiranya dan bertanya kepada Banser yang menjaga acara. Kebetulan salah seorang Banser yang ditanya juga belum mengenal sosok kyai Sahal.

Apakah Kiai Sahal sudah hadir?” tanya sang panitia kepada banser.

“Kalau Kiai Sahal sepertinya belum hadir. Tapi, tadi ada seorang mengaku bernama Sahal. Karena penampilanya  biasa saja, saya tidak yakin kalau dia kyai yang ditunggu, makanya saya tahan dan menyuruh menunggu di depan gedung muktamar,” jawab seorang Banser apa adanya.

“wah mati aku,” batin sang panitia. Setelah dicek oleh panitia, ternyata benar, Kiai Sahal tengah bercengkerama dengan tukang es dawet di depan gedung muktamar.

Itulah KH. Ahmad Sahal Mahfudz Al-Hajini. Bagi yang belum pernah kenal, tidak akan mengira kalau sosok itu ternyata seorang ulama besar yang dalam bahasa pesantren layak disebut sebagai al-‘Aalim al-‘Allaamah (seorang yang begitu Alim). Beliau adalah ahli fikih yang salah satu gagasannya adalah mewujudkan paradigma yang disebut Fikih Sosial. Disamping sebagai ahli fikih, mbah Sahal juga seorang pendidik yang multidisipliner, mampu melakukan perubahan terhadap tatanan yang lama namun tanpa menimbulkan kontroversi.

Dari Kajen ke Pare, Dari Sarang sampai Mekkah

Kiai Sahal dilahirkan di lingkungan pesantren dari pasangan KH. Mahfud Salam dan Nyai Hj. Badriyah pada 16 Februari 1933 di Desa Kajen, Margoyoso, Pati. Sebenarnya, ada perbedaan riwayat kapan tepatnya kelahiran beliau, tapi yang disebut barusan lebih akurat karena berdasarakan dokumen milik ayahandanya yang baru ditemukan dua tahun sebelum beliau wafat. Ayahanda mbah Sahal sebenarnya adalah adik sepupu dari KH. Bisri Syansuri (salah satu pendiri NU) dan kebetulan istri Kiai Sahal yaitu Dra. Hj. Nafisah juga merupakan cucu dari KH. Bisri Syansuri. Jika ditarik jalur nasab dari jalur ayah, Kiai Sahal akan bertemu dengan Mbah Mutamakkin, keturunan Kerajaan Demak yang memilih mengembangkan Islam di wilayah Kajen, Pati dan diyakini sebagai waliyullah.

Pengembaraan ilmu Kiai Sahal dimulai sejak usia enam tahun di Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, Kajen, atau tepatnya belajar kepada ayahanda dan keluarga besarnya sendiri sampai tahun 1953. Ada satu cerita memilukan dimana saat usia Kiai Sahal 10 atau 11 tahun, ayahandanya ditangkap ketika terjadi penjajahan Jepang karena melakukan perlawanan dan tidak pernah kembali setelah ditangkap. Sejak saat itu, mbah Sahal diasuh oleh sang paman, K.H. Abdullah Salam.

Baca Juga :  Hadis-hadis tentang Akibat dari Perzinaan

Setelah tamat Tsanawiyah, kyai Sahal muda melanjutkan pendidikanya ke Pesantren Bendo, Pare Kabupaten Kediri di bawah asuhan KH. Muhajir sampai tahun 1957. Di tempat ini Kiai Sahal mendalami ilmu tasawuf dan fiqih. Disamping itu beliau juga mengadakan halaqah dengan para santri senior untuk berdiskusi tentang fiqih dan tasawuf. Selanjutnya, beliau melanjutkan pengembaraan keilmuan ke pesantren Sarang di bawah asuhan KH. Zubair, ayahanda K.H. Maimun Zubair. Di sini Kiai Sahal mendalami ushul fiqh dan balaghah. Sambil belajar ushul fiqh di sarang, kyai Sahal juga melakukan korespondensi (bersurat-menyurat) kepada Syekh Yasin Al-Fadani, seorang ulama keturunan Indonesia yang menjadi ulama di Mekkah yang berjuluk Musnid ad-Dunya (pemilik sanad keilmuan terbanyak).

Kepada Syekh Yasin, Kiai Sahal mengajukan pertanyaan, berdiskusi dan memberi catatan melalui surat. Sehingga pada pertengahan tahun 1960 setelah selesai belajar di Sarang, Kiai Sahal berkesempatan bertemu Syekh Yasin Al-Fadani secara langsung di Mekkah dan seringkali menginap beberapa bulan di rumah Syekh Yasin. Di saat yang sama, Kiai Sahal juga menjadi pengajar di Pesantren Sarang, Rembang. Setelah pertemuan pertama dengan Syekh Yasin, beberapa kali Kiai Sahal sering bertemu dengan Syekh Yasin baik saat berhaji ke Mekkah atau saat Syekh Yasin datang ke Indonesia. Di tahun 1963 mulailah beliau berkiprah di masyarakat dengan mula-mula menjadi pemimpin pesantren tinggalan ayahnya yaitu pesantren Maslakul Huda yang selama ini dipimpin oleh pamannya yaitu KH. Abdullah Salam.

Fikih dan Pengembangan Masyarakat

Sebagai seorang Alim yang berjiwa muda, semangatnya merekonstruksi pendidikan begitu menggelora. Kiai Sahal adalah kiai pembelajar yang tidak tertutup dengan perkembangan dunia luar serta bagaimana memanfaatkannya untuk memajukan dan mengembangkan masyarakat sekitarnya. Sudah sejak lama, Kiai Sahal biasa menghadirkan koran ke pesantren, membaca buku-buku psikologi sampai teori-teori pendidikan.

Keterbukannya itu termanifestasikan ketika ia meresmikan BPPPM (Biro Pusat Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) di Pesantren Maslakul Huda sebagai wadah kegiatan Community Development (CD); membuka pendidikan ketrampilan, perbaikan lingkungan, serta memperkenalkan teknologi tepat guna (TTG).

Baca Juga :  Tradisi Berguru dalam Dunia Keilmuan Islam

Selain aktif dalam pengembangan masyarakat, Kiai Sahal juga dikenal sebagai kiai organisatoris dan penulis yang aktif. Berbagai gagasan segarnya mewarnai kolom-kolom opini media. Belum lagi karya tulis yang berupa buku, baik yang berbahasa Arab atau bahasa Indonesia, terutama terkait perkembangan kajian fikih dan pengembangan masyarakat. Gagasannya di bidang pengembangan fikih sosial kemudian menghasilkan penganugerahan Doktor Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas kiprahnya dalam pengembangan pesantren dan masyarakat serta hukum fikih.

Sejak masih santri sembari mengajar di Pesantren Mbah Zubair, Mbah Sahal sudah mulai banyak menulis. Tulisannya dimulai dari penjelasan (syarah) atau komentar (haasyiyah) terhadap kitab-kitab yang beliau ajarkan, ataupun kitab yang ia tulis sendiri terkait topik tertentu. Berikut daftar karya kyai Sahal seperti dikutip dari NU Online,

pertama, Thariqat al-Hushul ‘ala Ghayati al-Wushul, kitab yang menjelaskan kitab Ghayat al-Wushul, kitab Ushul Fikih karya Syekh Zakaria al-Anshari. Kitab ini ditulis tahun 1961 sebagai permintaan dari para santri-santrinya di Sarang yang merasa kesulitan memahami kitab Syekh Zakaria al-Anshari tersebut dan meminta kiai Sahal menulis syarah atas kitab tersebut.

Kedua, at-Tsamaraat al-Hajiniyah. Kitab ini orisinil karya kiai Sahal berisi penjelasan makna dari istilah-istilah yang sering digunakan dalam kitab fikih

Ketiga, al-Fawaid al-Najibah, merupakan syarah atas matan yang ditulis sendiri oleh Kiai Sahal berjudul al-Faraid al-Ajibah fi Bayan I’rab al-Kalimat al-Gharibah. Isinya menjelaskan kata-kata dalam bahasa Arab yang memiliki aturan tata bahasa yang berbeda dari yang semestinya.

Keempat, al-Bayan al-Mulamma’ ‘an Alfadz al-Luma’, berupa catatan terhadap kitab ushul fikih berjudul al-Luma’ fi Ushu al-Fiqh karya Abu Ishaq as-Syairazi. Kitab ini juga selesai ditulis pada tahun 1961.

Kelima, Intifakh al-Wadijayn ‘an Munazharat ‘Ulama Hajayn fi Ru’yat al-Mabi’ bi Zujaj al’Aynayn. Kitab ini merekam perdebatan ulama Kajen di akhir tahun 50-an tentang keabsahan melihat barang yang hendak diperdagangkan dengan menggunakan kacamata.

Keenam, Faydh al-Hijaa’ ‘ala Nayl ar-Raja’, komentar terhadap kitab Safinat an-Naja’ karya Salim bin Sumair al-Khadrami. Sebuah kitab yang sangat populer di kalangan santri.

Ketujuh, terjemahan bahasa Jawa (dengan huruf arab Pegon) terhadap Qashidah Munfarijahkasidah yang sering dibaca kalangan santri ketika menghadapi kesusahan atau kesulitan.

Kedelapan, Anwar al-Bashair yang merupakan syarah terhadap kitab al-Asybah wa an-Nadhair, kitab tentang kaidah fikih yang masyhur diajarkan di berbagai pesantren di Indonesia. Kitab ini baru saja diterbitkan kembali oleh Pesantren Maslakul Huda, Kajen.

Baca Juga :  Di Tiongkok, Kami Menemukan Keramahan Saudara Muslim

Selain karyanya yang dalam bahasa Arab, ada juga karya-karya beliau dalam bahasa Indonesia. Diantaranya adalah Nuansa Fiqih Sosial (Diterbitkan LKIS, 1994 dan 2007), buku yang menjadi basis pandangannya tentang hakikat penerapan Fikih Sosial tersebut. Selain itu karya yang lain ada Pesantren Mencari Makna (diterbitkan Pustaka Ciganjur, 1999); Wajah Baru Fiqh Pesantren (diterbitkan Citra Pustaka, 2004). Beliau juga menerjemahkan satu buku bersama K.H. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) tentang daftar kesepakatan-kesepakatan ulama berjudul Ensiklopedia Ijma’ (diterbitkan Pustaka Firdaus).

Memanifestasikan Gagasan Fikih Sosial

Gagasan tentang fikih sosial yang ia cetuskan menjadi wacana seksi bagi para intelektual muslim untuk didiskusikan. Beliau memandang bahwa perdaban manusia akan terus berkembang dan mengalami kemajuan. Maka hubungan sosial dalam bentuknya yang baru akan terus bermunculan. Jika hukum fiqih stagnan tidak berkembang, maka bisa jadi  fiqih hanya menjadi rujukan dalam hal ubudiah dan dokumen sejarah saja.

Untuk mencapai ijtihad fiqih yang kontekstual itu, beliau menawarkan ide “bermazhab secara manhajii” yang bermakna bermazhab dengan mengikuti metode-motode penggalian hukum yang diperkenalkan oleh para imam mazhab, bukan sekedar taklid kepada teks-teks peninggalan mereka. Sehingga pada akhirnya memungkinkan untuk memberi solusi fatwa-fatwa hukum akan peristiwa faktual dan kontekstual yang terjadi.

Beberapa fatwa-fatwa Kiai Sahal hasil dari pola berpikir manhaji adalah KB (Keluarga berencana). Menurutnya KB bukan suatu hal yang dilarang dalam agama. Pandangannya yang lain adalah tentang tidak perlunya pembubaran lokalisasi pelacuran dengan alasan pelarangan. Karena dalam ijtihad Kiai Sahal, pelarangan akan menyebabkan tidak terkontrolnya keberadaan para PSK dan menimbulkan mafsadah yang lebih besar. Namun, pandangan beliau sering disalahpahami banyak orang sebagai restu terhadap aktivitas pelacuran.

Pandangan secara manhaji tersebut sebenarnya sangat kental dengan kemampuan mengidentifikasi kemaslahatan bagi umat. Ini tak ubahnya Imam Syafii yang juga melakukan beberapa perubahan pandangan keagamaannnya ketika berpindah dari Irak (pandangannya disebut Qoul Qadim) ke Mesir dengan Qaul Jadid.

Demikian profil KH. Ahmad Sahal Mahfudz, yang hingga akhir hayatnya wafat pada tanggal 24 Januari 2014. Sampai akhir hayatnya, beliau masih tercatat sebagai Ketua MUI Pusat yang sudah dijabatnya selama 3 periode sekaligus Rois Syuriah PBNU selama 10 tahun. Lahu al-Fatihah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here