Biografi K.H. Ahmad Dahlan: Mendirikan Muhammadiyah, Membawa Islam Senafas dengan Kemajuan

0
21

BincangSYariah.Com – K.H. Ahmad Dahlan memiliki nama kecil bernama Muhammad Darwis. Putra dari K.H. Abu Bakar ini nasabnya masih bersambung kepada salah satu wali songo, Maulana Ainul Yaqin atau yang dikenal dengan nama Sunan Giri. Berikut nasab lengkapnya,

Muhammad Darwis bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig bin Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen) bin Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim. Nasab mulia ini terus berlanjut hingga al-Husain bin al-Imam Ali bin Abi Thalib, cucu Baginda Rasulullah Muhammad SAW. 

Ia dilahirkan pada 1 Agustus 1868 di Kauman, Yogyakarta. Di Kauman, keluarga beliau merupakan keluarga terkemuka dan disegani oleh masyarakat sekitar. Ayahandanya, K.H. Abu Bakar adalah seorang ulama dan menjabat sebagai khatib di Masjid Gedhe Kauman.

Sedari kecil Muhammad Darwis hidup dalam lingkungan ilmu dan ibadah. Ketika berusia 8 tahun, beliau telah memperoleh pendidikan dasar tentang agama dari ayahnya sendiri. Darwis kecil mampu membaca Al-Qur’an dengan kaidah ilmu tajwid yang baik dan benar. Kehidupannya selalu memancarkan kehidupan yang islami. Tanda-tanda kepemimpinannya juga sudah tampak sejak Darwis masih kanak-kanak. Keluarga yang penuh kasih sayang dan sikap ikhlas dalam mendidik telah mempengaruhi kehidupannya sehingga Darwis tumbuh berkembang menjadi seorang yang pandai dan cerdas dalam masalah-masalah keagamaan. Keadaan inilah yang menjadikannya tampak berbeda dengan teman sebayanya.

Ketika remaja, Darwis muda mulai memperdalam pengetahuan agamanya dengan belajar kepada para ulama. Setelah pengetahuan agamanya dinilai cukup oleh ayahnya, pada tahun 1883, Muhammad Darwis berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan menetap disana selama lima tahun. Disana beliau mulai berinteraksi dengan pemikiran para pembaharu dalam Islam, seperti Ibnu Taimiyah, Rasyid Ridha, Muhammad Abduh, dan Jamaluddin Al-Afghani. Setelah menunaikan semua rukun ibadah haji, saat menjelang kepulangannya beliau menemui Sayyid Bakri Syatha (penulis kitab I’anah at-Thalibin) untuk mengubah nama yang sudah menjadi tradisi pada saat itu. Muhammad Darwis diberi nama baru Haji Ahmad Dahlan.

Baca Juga :  Imam Tidak Melakukan Qunut, Apakah Boleh Makmum Mufaraqah?

Gelar haji tersebut tidak lantas membuat Ahmad Dahlan menjadi tinggi hati. Beliau semakin tekun mempelajari ilmu-ilmu agama seperti ilmu fikih, ilmu nahwu, ilmu falak, ilmu hadis dan ilmu qiraah Al-Qur’an kepada para ulama hingga pada akhirnya beliau diminta ayahnya untuk membantu mengajar agama kepada murid-murid ayahnya di Masjid Gedhe Kauman. Kegiatan itulah yang kemudian membuatnya dipanggil sebagai kyai.

Pada tahun 1889 Kyai Haji Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah binti Kyai Fadhil Kamaludiningrat, saudara sepupunya sendiri, yang nantinya lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Melalui perkawinan tersebut dikaruniai enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busjro, Siti Aisyah, Irfan Dahlan, dan Siti Zuharah.

Selain fokus berdakwah menyebarkan agama Islam, K.H. Ahmad Dahlan juga menekuni usaha batik di rumahnya. Ketika sedang berjuang membesarkan usahanya, beliau dihadapkan dengan wafatnya ibundanya pada tahun 1890.

Pasca kewafatan ibundanya, K.H. Ahmad Dahlan tinggal di rumah keluarga untuk menemani ayahandanya. Pada tahun 1896, KH. Abu Bakar meninggal, sehingga Ahmad Dahlan harus menggantikan posisi ayahandanya sebagai khatib di Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta.

Pada tahun 1903, Haji Ahmad Dahlan kembali ke Mekkah untuk menetap selama dua tahun dan memperdalam ilmu pengetahuan disana. Kali ini beliau ditemani anaknya, Siradj Dahlan yang masih berumur 6 tahun. Di Mekkah, beliau belajar secara langsung  kepada ulama-ulama ternama yang berasal dari Indonesia. Salah satu gurunya adalah Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang juga merupakan guru dari K.H. Hasyim Asyari yang kelak menjadi pendiri Nahdlatul Ulama. Disana beliau semakin intens memanfaatkan waktunya untuk belajar dan mengkaji gerakan-gerakan pembaharuan Islam. Hal itulah yang kemudian mengilhami KH. Ahmad Dahlan untuk melakukan pembaharuan di Indonesia.

Baca Juga :  Tiga Perbedaan Antara Azan dan Iqamat

Setelah melalui proses panjang dalam perjuangan dakwahnya, akhirnya pada 23 Februari 1923 yang bertepatan dengan 7 Rajab 1340 H, K.H. Ahmad Dahlan berpulang ke rahmatullah dalam usia ke-55 tahun dan dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta.

Peran dan Karya-Karya Beliau

Di samping mengajar di Kauman, KH. Ahmad Dahlan juga aktif menjadi pengajar di Kweekschool Yogyakarta dan OSVIA (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren) yang merupakan sekolah untuk para pegawai pribumi di Magelang.

Ahmad Dahlan selalu menjaga silaturahmi dengan priayi pengurus perkumpulan Boedi Oetomo sehingga secara resmi beliau menjadi anggota Boedi Oetomo pada tahun 1909 dengan menyatakan kemampuannya dalam menyelesaikan berbagai tugas perkumpulan.

Pada tahun 1910, beliau juga tergabung dalam organisasi Jami’at al-Khair yang mayoritas  anggotanya merupakan orang-orang arab yang bergerak dalam bidang pendidikan agama dan aktivitas sosial.

Keterlibatannya dalam berbagai aktivitas itu dengan tujuan memperluas dakwahnya dan mendapatkan informasi tentang pemikiran-pemikiran pembaharuan dalam Islam. Aktivitas dalam organisasinya juga membuat KH. Ahmad Dahlan mampu memahami tata cara mengatur sebuah organisasi dengan baik, yang kelak akan dipraktikkan dalam mendirikan berbagai organisasi.

Pada tahun 1911, beliau mulai merintis pendirian lembaga pendidikan dengan mempraktikkan gagasan-gagasannya yang lebih modern. Bagi beliau, pendidikan merupakan faktor utama untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan. Akhirnya, pada 1 Desember 1911, KH. Ahmad Dahlan secara resmi mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah di Kauman, Yogyakarta.

Ahmad Dahlan tidak banyak meninggalkan karya-karya dalam bentuk tulisan. Beliau lebih mengedepankan sosok praktisi. Prestasi KH. Ahmad Dahlan dalam pembaharuan Islam ditandai dengan keberhasilannya mendirikan perkumpulan Muhammadiyah dan Sarekat Islam pada tahun 1912. Atas perjuangan Ahmad Dahlan dan dukungan dari berbagai pihak, organisasi Muhammadiyah secara resmi didirikan pada 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 H setelah memperoleh izin dari pemerintah.

Baca Juga :  Kitab Kuning: Pembentuk Pandangan Hidup ala Pesantren

Atas besarnya jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam mengembangkan pemikiran-pemikiran pembaharuan di Indonesia, maka tak heran, jika akhirnya beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1961.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here