Biografi Jalaluddin As-Suyuthi (849-911 H/1445-1505 M): Karangannya Lebih dari 500 Kitab

0
15

BincangSyariah.Com – al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi memiliki nama lengkap ‘Abd al Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiq al din Abu Bakar bin Utsman ibnu Muhammad bin Khidhir bin Ayyub bin Muhammad bin al Syeikh Hamam al Din al Khudhairi al Suyuthi al Syafi’i, lahir di Kairo, sesudah maghrib, malam Ahad, awal Rajab 849 H. Sebuah riwayat menyebut beliau menjadi yatim pada usia lima tahun lebih tujuh bulan. Ketika itu dia sudah hafal al Qur-an sampai surah al Tahrim.

Ulama Multidisipliner

Al Suyuthi selanjutnya diasuh dengan penuh perhatian dari al-Kamal bin Hummam sampai hafal al-Qur’an dengan sempurna. Di samping itu, ia juga menghafal beberapa kitab antara lain, ‘Umdah al Ahkam, Al-Minhaj karya an-Nawawi, Alfiyah Ibnu Malik dan Minhaj al-Baidhawi. Dia juga berguru pada Syamsu-d-Din Muhammad bin Musa al-Hanafi, pemimpin perguruan Al-Syaikhuniyah, Fakhr ad-Din Utsman al-Muqsi, Ibn Yusuf, Ibn al-Qalani dan ulama besar lainnya.

As-Suyuthi akhirnya terkenal sebagai ulama yang terkemuka dalam banyak bidang ilmu pengetahuan. Dia dikenal sebagai mufassir (ahli tafsir), muhaddits (ahli hadits), faqih (ahli fiqh), nawhi (ahli nahwu/gramatika bahasa) dan balaghi (ahli ilmu balaghah/sastra) secara bersamaan. Pada usia empat puluh as-Suyuthi meninggalkan aktifitasnya sebagai guru dan mufti untuk mengasingkan diri dari masyarakatnya dan menyendiri di rumahnya yang terletak di tepi masjid Qaytbey atau dekat istana Amir Muhammad Ali sekarang. Dalam “persembunyian” nya itu dia menulis buku-bukunya.

Sederhana dan Asketis, Namun Sibuk dengan Ilmu

Beliau merupakan seorang ulama yang terkenal akan kesederhanaannya. Riwayat menyebutkan bahwa sebenarnya ada banyak sekali orang-orang kaya dan pembesar negara yang menngunjunginya untuk menawarkan bantuan keuangan atau hadiah. Tetapi al Suyuthi menolaknya. Dia seringkali menolak menghadiri undangan sultan. Dia memang sangat berhati-hati dan cenderung asketis (zuhd). Hari-harinya baik siang maupun malam dihabiskan untuk membaca dan mengarang. Diberitakan bahwa jumlah karyanya mencapai lebih dari lima ratus. Ketekunan dan kesabarannya memang luar biasa.

Muridnya, Ad-Dawudi pernah mengatakan, “aku sering melihat sendiri tuan syaikh As-Suyuthi setiap hari menulis tidak kurang dari tiga kora baik berupa karangan maupun koreksi buku. Di hari yang sama juga ia sibuk mendikte (imlaa’) hadis Nabi dan menjawab berbagai persoalan yang diajukan kepadanya. Dia adalah orang paling pandai pada masanya. Dia memahami hadits dan ilmu hadits; rijal al-hadits (para perawi), matan, sanad (transmisi) dan mampu menarik kesimpulan hukumnya. As-Suyuthi sendiri mengaku hafal dua ratus ribu hadits. Ia pernah berkata, “andaikata saya menemukan lebih banyak dari itu, niscaya aku hafal, tetapi saya kira tidak ada lagi.””

Riwayat lain menceritakan bahwa ia bahkan rela melakukan perjalanan jauh sekedar untuk mencari ilmu dan riwayat hadis. Ia pernah berpergian hingga ke wilayah Maghrib (wilayah di sisi barat bagian utara benua Afrika), Yaman, India, Syam Mahallah (Mesir bagian Barat), Dimyath (sebuah kota di tepi sungai Nil, Mesir), Fayyum (kota di sisi selatan Mesir) serta negeri-negeri Islam lainnya. Selain itu beliau juga dikenal karena kemampuannya untuk memaksimalkan pemanfaatan perpustakaan Madrasah Mahmudiyah. Al-Maqrizi meriwayatkan bahwa di dalam perpustakaan ini terdapat segala jenis kitab-kitab Islam, dan madrasah ini merupakan sebaik-baik madrasah yang ada, yang dinisbatkan kepada Mahmud bin al-Astadaar, yang berdirinya pada tahun 897 H.

Karya-Karya

Sebagaimana sudah disebutkan diatas bahwa Imam Jalaluddin As-Suyuthi menulis setidaknya 500 buah kitab lebih. Berikut ini akan kami sebutkan beberapa kitab beliau yang sudah dicetak dan masyhur dijadikan sebagai pegangan studi keislaman hingga saat ini:

  1. Al-Itqan fi ‘Ulum al Qur-an (ilmu-ilmu mempelajari Al-Quran)
  2. Itmam al Dirayah li Qurra al Nuqayah (pembahasan topik-topik dalam ilmu keislaman)
  3. Al Asybah wa Al Nazhair (nahwu),
  4. Al Asybah wa al Nazhair (kaedah fiqh),
  5. Alfiyah (ilmu hadits),
  6. Al Iqtirah fi Ilm Ushul al Nahwi,
  7. Bughyah al Wi’a fi Thabaqat al Nuhat (biografi para tokoh ahli nahwu ),
  8. Tarikh al Khulafa (sejarah para Khalifah),
  9. Tabyidh al Shahifah fi Manaqib Abi Hanifah ( biografi Abu Hanifah ),
  10. Tadrib al Rawi fi Syarh Taqrib al Nawawi (ilmu hadits),
  11. Tazyin al Mamalik bi Manaqib al Imam Malik ( biografi Imam Malik bin Anas )
  12. Ta’qibat ‘ala Maudhu’at Ibnu al Jauzi,
  13. Tafsir al Jalalin,
  14. Al Jami’ al Shaghir fi Hadits al Basyir al Nadzir ( kumpulan hadits Nabi ),
  15. Husn al Muhadharah fi Akhbar Misr wa al Qahirah ( sejarah Mesir dan Kairo ),
  16. Al Khasha-ish al Kubra,
  17. Al Badr al-Mantsur fi al Tafsir bi al-Ma’tsur,
  18. Ham’ al Hawami’ syarh Jam’ al Jawami’ (nahwu),
  19. Al Muz-hir (balaghah/gaya bahasa Arab)
  20. Syarh Syawahid Mughni al Labibi (nahwu),
  21. Al Syamarikh fi ‘Ilm al Tarikh (ilmu sejarah),
  22. Thabaqat al Mufassirin (biografi para ahli tafsir),
  23. Mutasyabih al Qur-an,
  24. Manahil al Shafa fi Takhrij al Ahadits al Syifa,
  25. Muqhamat al Aqran fi Mubhamat al Qur-an (menjelaskan nama-nama yang tidak dikenal dalam AL-Quran)
  26. Jazil al Mawahib fi Ikhtilaf al Mazahib (ushul fiqh).

Imam As-Suyuthi wafat pada usia 61 tahun pada malam Jum’at 19 Jumadil Ula 911 H di rumahnya, Raudhah al-Miqyas. Ini terjadi tujuh hari setelah ia sakit akibat pembengkakan pada lengan kirinya. Jenazahnya dikebumikan di Hausy Qaushun di luar Bab al-Qarafah, Mesir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here