Biografi Jalaluddin Rumi: Sufi Sastrawi yang Petuahnya Disanjung Masyarakat Barat

0
19

BincangSyariah.Com – Nama lengkapnya Jalaluddin Rumi adalah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin Al-Khattabi Al Bakri. Kata Maulana merupakan julukan yang berasal dari kata Mevlana yang memiliki arti tuan kami, sebuah sebutan untuk guru sufisme serta orang-orang terpelajar lainnya. Sedangkan Rumi dinisbatkan pada daerah Qunawi atau Balkah merupakan sebutan dari kata Rum, sebutan untuk tanah Roma atau Byzantium atau Roma Timur.

Latar Belakang Keluarga Jalaluddin Rumi

Rumi dilahirkan pada 6 Rabiul Awwal 604 H/30 September 1207 M di Balkh, yang sekarang adalah kota di Afghanistan bagian utara. Rumi adalah anak dari seorang ulama terkemuka di Balkh yang bernama Muhammad ibn Husyain Al-Khatibi atau Jalaluddin Bahauddin Muhammad dan biasa disebut dengan Bahauddin Walad atau Baha Walad.

Keluarga Rumi merupakan keluarga keturunan Nabi Muhammad lewat jalur Fatimah az-Zahra. Ibunya berasal dari kerajaan Khwarazmsyah. Dari ayahnya, Rumi belajar ilmu agama Islam serta kebudayaan Arab dan Persia. Gejolak politik antar kerajaan pada masa itu memaksa keluarga Rumi untuk hijrah dari satu tempat ke tempat lainnya sejak Rumi masih berumur 3 tahun. Misalnya saat hijrah ke Asia Kecil, mereka tinggal sementara di kota Balkh, lalu pindah ke kota-kota lain di Khurasan, seperti Wakhsy, Tirmidz, dan Samarkand.

Keluarga Baha’ Walad juga sempat singgah ke kota Naisabur, dan disambut oleh Syekh Fariduddin Al-Attar. Suatu ketika, Syekh Fariduddin pernah mengungkapkan rasa kagumnya dengan kepribadian Maulana Rumi. Pasalnya, meski masih muda belia, namun ia memiliki tingkat kecerdasan dan ketangkasan yang luar biasa. Beliau juga memberikan kitab karangannya yang berjudul Asrar Namih kepada Rumi dan berkata pada ayahnya, “Sesungguhnya anakmu akan menyalakan api dengan cepat di sekam dunia ini.”

Dari kota Naisabur, mereka beranjak menuju Baghdad. Terdapat bermacam kejadian yang dialami ayah Rumi selama tiga hari di sana. la pernah meramalkan kemungkinan runtuhnya Dinasti Bani Abbasiyah, kedatangan khalifah ke kediamannya, dan mangkatnya sang lentera agama, Abu Hafsh as-Suhrawardi, seorang bijak yang alim, terpandang, dan pemilik karya monumental ‘Awarif al-Ma’arif. Dari Baghdad,  Baha’ Walad membawa keluargnya keluar menuju Hijaz, kemudian bertolak ke kota Syam, dan menetap cukup lama di sana.

Beberapa versi riwayat menjelaskan perjalanan Baha’ Walad dan putranya Maulana Rumi menuju kota Arzanjan di negara Armenia. Lalu mereka juga pernah singgah dalam waktu yang lama di kota Ak-Shahr (Alsehir), Malta, dan Laranda, yang menjadi tempat wafatnya ibunda Maulana Rumi yang bernama Mu’mine Khatun. Di tempat ini pulalah Rumi dipertemukan dengan seorang gadis bernama Jauhar Khatun yang kemudian ia nikahi dan melahirkan putra yang bernama Sultan Walad.

Perjalanan Baha’ Walad bersama putranya sampai ke kota Konya pada tahun 626 H/ 1229 M. Kedatangannya dimuliakan oleh Sultan Seljuk Romawi, Alauddin Kaiqubad. Baha’ Walad meninggal dunia pada 18 Rabi’ul Awal 628 H/ 1231 M.

Sepeninggal ayahnya, kemudian Maulana Rumi menggantikan kedudukan ayahnya dalam mengajar ilmu Fiqh, memberi fatwa dan mendidik masyarakat.

Perjalanan Intelektual

Diceritakan pula bahwa Maulana Rumi menetap di Kota Halb (nama kuno Kota Aleppo) sebelum menjelajahi separuh wilayah Damaskus. Sebagian pakar berpendapat bahwa wawasan luas Maulana Rumi yang berkaitan dengan keilmuan Islam terlihat pada kitabnya Matsnawi. Rumi berhasil memperoleh pengetahuan tersebut saat ia masih berada di Halb dan Damaskus

Dua kota tersebut terkenal dengan sekolah-sekolah Islam terkemuka yang pengajarannya dijalankan oleh para cendikiawan ilmu Fiqih tersohor. Di dekat sekolah itu, tepatnya di Damaskus, juga hidup seorang guru Irfani terbesar, Syekh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi. Termasuk dari kebiasaan para pencari ilmu tersurat maupun tersirat adalah menelusuri separuh Damaskus dari setiap penjuru dunia Islam.

Syams Tabriz: Guru Spiritual Jalaluddin Rumi yang Paling Berpengaruh

Kemudian Maulana kembali ke kota Konya dengan membawa predikat sebagai seorang yang alim akan ilmu-ilmu keislaman. Para cendikiawan dan ulama menyambut kedatangannya. Begitu pula dengan para pengikutnya, yakni kaum sufi.

Karya-Karya Rumi

Maulana Rumi meninggalkan dua buah karya yang mengupas tentang sastra. Di antara kitabnya ada yang redaksinya berbentuk prosa dan ada pula yang susunannya berbentuk nazam. Karya yang redaksinya berbentuk prosa adalah:

  1. Al-Majalis as-Sab’ah: kitab yang berisi kumpulan nasihat dan khutbah Rumi, merekam pertemuan intelektual antara dirinya dengan Syamsuddin al-Tabrizi
  2. Majmu’ah min ar-Rasa’il: kitab kumpulan surat Rumi untuk sahabat dan kerabatnya.
  3. Fihi Ma Fihi: berisi kumpulan permasalahan akhlak dan ilmu-ilmu Irfan yang dilengkapi dengan tafsiran atas al-Qur’an dan Hadis.

Sementara karya-karya Rumi yang berbentuk syair adalah:

  1. Diwan Syams Tabrizi
  2. Ruba’iyat.
  3. Matsnawi, dalam bahasa Persia.
Akhir Hayat Rumi

Di malam terakhir sebelum beliau meninggal, Rumi terkena demam parah. Ia lantas menyenandungkan sebuah syair:

Di malam sebelumnya aku bermimpi melihat seorang syekh di pelataran rindu, la menudingkan tangannya padaku dan berkata: “Bersiap-siaplah untuk bertemu denganku.

Diriwayatkan bahwa syair diatas adalah bait terakhir yang digubah oleh Rumi. Pada Ahad, 5 Jumadil Tsani 672 H/17 Desember 1273 M, Maulana Jalaluddin Rumi wafat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here