Biografi Imam al-Ghazali (450-505 H/1057-1111 M): Ulama Multidisipliner Kelahiran Iran

2
32

BincangSyariah.Com – Nama lengkapnya ialah Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al Ghazali, bergelar Hujjatul Islam ( argumentator Islam ) dan Zain al Din ( hiasan agama ). Ia yang  biasa dipanggil Abu Hamid adalah seorang faqih mazhab as-Syafi’i, ahli  ushul fiqh, sufi, penyair sekaligus sastrawan, penuntun orang-orang yang menuju jalan kebenaran dan seorang ensiklopedis dalam ilmu-ilmu manqul (tekstualis) dan ma’qul (rasionalis).

Al-Ghazali lahir di Thus, 405 H. Ayahnya seorang miskin yang saleh dan bekerja sebagai tukang tenun. Hasilnya dijual di pasar Thus. Dari usaha itulah ia makan. Hari-harinya dilalui bersama-sama  dan mengabdi pada para ulama. Apabila mendengar pengajian mereka, ia seringkali menangis dan berdoa agar dikaruniai anak yang ahli fiqh. Pada saat yang sama ia juga mengikuti ceramah-ceramah umum. Apabila hatinya tersentuh, ia menangis dan berdoa agar dikaruniai anak yang ahli pidato. Doanya ternyata dikabulkan Allah. Ia dikaruniai dua orang anak laki-laki, Ahmad dan Muhammad. Ahmad dikemudian hari menjadi ahli pidato/orator (muballigh) terkenal. Ceramah-ceramahnya disebut-sebut mampu “meluluhkan batu-batu yang bisu” (melemahkan hati-hati yang keras dan tak menerima kebenaran). Sementara Muhammad menjadi ahli fikih terkenal pada masanya.

Guru-Guru al-Ghazali

Pada masa kecilnya, Al-Ghazali belajar fikih pada Ahmad bin Muhammad al Radzkani di desanya, Thus. Setelah itu ia pergi ke Jurjan untuk mendengarkan dan mencatat kuliah-kuliah Imam Abu Nashr al-Isma’ili. Dari sini ia kembali lagi ke Thus untuk mempelajari catatan-catatan tersebut selama tiga tahun sampai hafal. Setelah itu ia pergi ke Nisapur untuk belajar pada Imam al Haramain Abu al Ma’ali al Juwaini.

Al-Ghazali termasuk orang yang sangat rajin dan tekun dalam belajar, sehingga dalam waktu singkat ia telah mampu memahami dengan mendalam berbagai cabang ilmu, fikih, ‘ilm al-khilaaf, ilmu tentang perdebatan (‘ilm al-jadal), Ushul ad-Din, Ushul al-Fiqh, Manthiq (logika), Hikmah, dan Filsafat. Ia mengarang ilmu-ilmu tersebut diantaranya di bawah bimbingan salah seorang gurunya, Abu al-Ma’aali al-Juwayni atau yang lebih dikenal dengan Imam al-Haramayn. Dalam buku-buku itu, al-Ghazali melancarkan kritik-kritik tajam terhadap pendapat-pendapat yang dipandang telah menyimpang, sambil mengajukan jawaban-jawaban atasnya.

Al-Ghazali dikenal sangat cerdas, obyektif, jujur, kuat hafalan, peka,  mendalami berbagai persoalan sampai ke akar-akarnya dan sangat kritis. Ia sangat menguasai ilmu-ilmu lahir dan batin. Ia juga seorang argumentator yang tangguh dan kaya informasi ilmiah. Diantara teman yang ikut belajar bersama Al-Ghazali adalah Ilkiya al-Harasi dan Mas’ud al-Khawafi. Guru mereka, Imam al-Haramain memuji tiga muridnya tersebut dengan pernyataan, “Al-Ghazali bagaikan lautan yang dalam, Ilkiya adalah singa yang menggentarkan dan al-Khawafi laksana api yang membakar.”

Pengembaraan Ilmiah

Sesudah Imam al-Haramain meninggal dunia, al-Ghazali berangkat menuju Nisapur untuk menemui Perdana Menteri Nizham al Mulk dan bergabung dalam forum pengajian yang diikuti para ulama dan cendekiawan terkemuka. Di tempat ini al Ghazali mengadakan diskusi-diskusi ilmiyah bersama mereka. Pikiran-pikirannya sangat menonjol dan mendapat pengakuan mereka. Nizham al Mulk sendiri sangat terkesan dan menaruh hormat pada al Ghazali. Ia meminta al-Ghazali mengajar di Universitas Nizhamiyah di Baghdad dan diharapkan dapat memberikan pengarahan bagi kemajuannya. Tahun 484 H, al-Ghazali tiba di Baghdad.

Tuturkata dan bahasanya yang memikat serta budi pekertinya yang luhur menyebabkan al-Ghazali dicintai masyarakatnya. Mereka sangat menghormatinya. Sangat jarang ada orang yang disegani dan dihormati sedemikian tinggi seperti yang diberikan kepada al Ghazali.

Selama berada di Baghdad, al-Ghazali menyempatkan diri untuk mengajar dan berfatwa. Kata-katanya selalu didengar, namanya semakin populer dan menjadi pembicaraan di mana-mana. Banyak orang dari berbagai penjuru sengaja datang untuk menemuinya. Di tengah-tengah fenomena seperti ini al-Ghazali malah menjadi zuhud. Tahun 488 H ia berangkat ke Makkah untuk menunaikan haji. Tugas mengajar digantikan adiknya. Dari sana ia terus ke Syam dan tinggal di sudut Masjid Jami’ Damaskus untuk menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan. Sesudah itu ia pindah ke Bayt al-Maqdis. Ia sengaja datang di tempat ini untuk beribadah dan mengasingkan diri dari masyarakat. Untuk itu ia memilih tempat-tempat yang sepi.

Setelah merasa cukup, al Ghazali berangkat menuju Mesir dan tinggal di Iskandaria untuk beberapa lama. Ia sebenarnya telah merencanakan untuk pergi ke Maroko melalui jalan laut guna bertemu dengan Amir Yusuf Tasyfin, gubernur Marakesy waktu itu. Akan tetapi begitu mendengar kematiannya, al-Ghazali mengurungkan niatnya. Ia kembali ke negerinya, Thus dan tetap aktif menekuni karirnya dalam kajian-kajian ilmiah, beribadah dan menulis buku.

Murid-Murid al-Ghazali

Jumlah murid Imam al-Ghazali terbilang lumayan banyak mengingat reputasi beliau sebagai ulama sekaligus pengajar yang keilmuannya sangat diburu oleh para akademisi di masa kehidupan beliau. Diantara yang cukup dikenal ialah Marwan bin Ali ath-Thanzi, seorang wazir (sering diterjemahkan sebagai Menteri) yang berkuasa di Mosul pada masa kepemimpinan ‘Imaduddin Zanki. Selain itu, ada pula Jamal al-Islam Abu Hasan Ali as-Sulami di Syam. Mengenai as-Sulami ini, Ibn ‘Asakir pernah mendengar bahwa Imam al-Ghazali berkata, “aku meninggalkan di Syam seorang pemuda, jika dia berumur panjang maka ia bakal terjadi perkara hebat pada dirinya.” Pemuda yang dimaksud ialah as-Sulami.

Karya-Karya al-Ghazali

Al-Ghazali telah menulis sejumlah besar karya ilmiah. Beberapa karyanya yang populer adalah :

  1. Al Ajwibah al Ghazaliyah fi al Masail al Ukhrawiyah,
  2. Ihya ‘Uluum ad-Din
  3. Al Arba’in fi Ushul al Din,
  4. Asrar al Haj,
  5. Al Iqtishad fi al I’tiqad,
  6. Iljam al-‘Awwaam,
  7. al-Imlaa’ ‘an Isykalaat al-Ihya,
  8. Al-Risalah al-Waladiyah,
  9. Al-Risalah al-Laduniyah,
  10. Al-Risalah al-Qudsiyah,
  11. Faishal al-Tafriqah bain al-Islam wa az-Zandaqah,
  12. At-Tibr al-Masbuq fi Nashihat al Muluk,
  13. Al-Hikmah fi Makhluqat Allah,
  14. Tahafut al-Falasifah,
  15. Tanzih al-Qur-an ‘an al-Matha’in,
  16. Jawahir al Qur’an wa Duraruh,
  17. Risalah al-Thair,
  18. Bidayah al-Hidayah,
  19. Tahdzib an-Nufus bi al-Adab as-Syar’iyah,
  20. Al-Qisthas al Mustaqim,
  21. Al-Mustashfa min ‘ilm al Ushul,
  22. Al-Mankhul, Al Maknun (tiga buku yang terakhir ini merupakan kitab Ushul fiqh),
  23. Al-Basith,
  24. al-Washith
  25. Al-Wajiiz, dimana yang terakhir

Menurut para ulama  karya-karya Al Ghazali mencapai 200 buah.

Al-Ghazali meninggal di Thus tahun 505 H . Jenazahnya dikebumikan di Thabaran, satu daerah di Thus. Nama Al Ghazali dapat diambil dari kalimat “Ghazl al Shuf” (memintal benang) atau nama sebuah desa di Thus.

Sumber:

Syamsuddin adz-Dzahabi, Siyar A’laam an-Nubalaa’.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here