Biografi Ibnu Arabi: Sosok Sufi dan Filosof Besar dari Spanyol

0
30

BincangSyariah.Com – Membicarakan biografi Ibnu Arabi berarti berbicara tentang kompleksitas. Orang mengenalnya sebagai seorang sufi, sebuah disiplin ilmu yang sudah kompleks sejak pembakuannya. Bukan hanya itu saja, ia pun diakui sebagai seorang penulis yang produktif dan penyair yang karyanya mampu menggetarkan jiwa. Kompleksitas Ibnu Arabi tidak hanya berlaku pada kehidupan akademisnya. Dalam kesehariannya pun ia dikenal sebagai pribadi yang kompleks seiring dengan buah-buah pemikirannya yang kontroversial.

Muhammad al-Fayyadl dalam Teologi Negatif Ibn ‘Arabi; Kritik Metafisika Ketuhanan menyebutkan bahwa kebesaran nama Ibnu Arabi dalam khazanah keislaman mungkin hanya bisa ditandingi oleh al-Ghazali. Bedanya, al-Ghazali hanya diterima oleh kelompok Sunni, sementara Ibnu Arabi diterima baik oleh Sunni maupun Syiah. Bahkan sebagian pakar menyebutkan bahwa ia pun pandangannya diterima oleh kepercayaan agama selain Islam.

Ibnu Arabi: Latar Belakang Keluarga Pejabat Kerajaan

Ibnu Arabi dilahirkan pada 17 Ramadhan 560 H / 28 Juli 1165 M di Mursia, Spanyol bagian tenggara. Kelahirannya saja sudah sangat spesial, karena tanggal kelahirannya bertepatan dengan tanggal ketika ayat pertama Al-Quran diturunkan. Di saat yang sama lahir kelahirannya bertepatan dengan tahun wafat Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa ia memang dilahirkan untuk menggantikan sufi besar yang dikenal di dunia sebagai kekasih Allah tersebut.

Kelahiran Ibnu Arabi bertepatan dengan kondisi Andalusia yang semakin tidak menentu akibat peperangan dan pemberontakan. Dari luar, kondisi politik pemerintahan islam mendapatkan tekanan terutama dari sekelompok tentara Kristen yang menamakan diri mereka sebagai Reconquista (para penakluk). Mereka memulai kampanyenya dengan menaklukkan Toledo pada tahun 1085 M oleh Alfonso VI, berlanjut dengan penaklukan Saragosa pada 1118 M. Dari dalam, terjadi perebutan kekuasaan mulai dari dinasti al-Murabitun hingga al-Muwahhidun (baca tulisan-tulisan tentang Dinasti al-Murabithun dan al-Muwahhidun disini).

Meskipun lahir dan tumbuh dalam kondisi demikian, namun setidaknya Ibnu Arabi lumayan beruntung karena lahir di tengah keluarga terpandang. Ayahnya adalah seorang pejabat tinggi istana al-Muwahhidun yang terkenal saleh dan terpercaya. Ia menduduki jabatan sebagai orang kepercayaan istana berturut-turut pada dua masa kepemimpinan Abu Ya’qub Yusuf dan raja al-Mu’min III, Abu Yusuf al-Manshur. Sedangkan dari pihak ibu, Ibnu Arabi memiliki seorang paman yang juga penguasa di Tlemcen bernama Yahya ibn Yughan al-Sanhaji.

Memilih Jalan Sufi: Ibnu Arabi Mengembara

Hidup di keluarga terpandang menjadi anugerah tersendiri bagi Ibnu Arabi sekaligus memberinya peluang untuk tidak terlibat dalam suasana politik saat itu yang tidak menentu.

Meskipun Ibnu Arabi berpeluang menjadi pejabat pada zamannya, ia tidak memilih jalan itu. Sebaliknya, ia lebih tertarik memilih jalan lain yang sedikit berbeda dari kecenderungan umum keluarganya. Ia memilih jalan tasawuf sebagai jalan hidupnya. Itu terjadi pada usia dua puluh ketika Ibnu Arab akhirnya bertaubat dan memilih meninggalkan semua atribut sosialnya untuk menjadi sufi.

Sejak saat itu Ibnu Arabi berkelana ke berbagai tempat di Spanyol dan Afrika Utara. Kegemaran untuk melakukan perjalanan jauh ini membawa Ibnu Arabi muda berkenalan dengan banyak intelektual pada zamannya. Dalam interaksinya dengan para cendekiawan itu, Ibnu Arabi tidak membeda-bedakan para sufi dengan para teolog serta sarjana-sarjana lain. Semua orang yang bisa ditemuinya, dijadikan guru dan sahabat untuk terus memperkaya wawasan dan pengalaman religiusnya. Tidak heran bila guru-guru Ibnu Arabi sangatlah banyak dan mencakup banyak mazhab dan aliran.

Genap pada usia 28 tahun pada 1193, untuk pertama kalinya ia mengadakan perjalanan keluar Semenanjung Iberia. Pada tahun ini ia pergi ke Tunisia dan di sana ia belajar kitab Khal al-Na’layn yang dikarang oleh Ibnu Qashi, pemimpin sufi yang memberontak terhadap Dinasti al-Murabithun di Algarve. Ibnu Arabi menulis sebuah ulasan atas kitab ini yang memperlihatkan kekagumannya kepada Ibnu Qashi sekaligus kekecewaannya karena ternyata pengarang Khal’u al-Na’layn itu hanya seorang pembohong. Kekecewaan Ibnu Arabi beralasan, mengingat Ibnu Qashi adalah seorang sufi yang pernah mengaku sebagai Mahdi yang akan menjadi juru selamat bagi Andalusia.

Pada tahun yang sama pula Ibnu Arabi mengunjungi Abdul Aziz al-Mahdawi, seorang guru sufi yang sangat dihormati Ibnu Arabi lantaran kedalaman wawasannya tentang filsafat dan tasawuf. Dari al-Mahdawi, Ibnu Arabi mempelajari karya Ibn Barrajan (baca biografi Ibn Barrajan disini) yang cukup monumental pada saat itu, yakni al-Hikmah. Seperti halnya Ibnu Qashi, Ibnu Barrajan dikenal luas sebagai seorang sufi yang suka memberontak terhadap penguasa setempat. Ia terlibat konflik dengan penguasa al-Murabitun karena ajaran-ajarannya serta kegigihannya dalam mempertahankan keyakinannya, membuatnya tetap dihormati sebagai salah seorang sufi yang paling berpengaruh di Andalusia.

Hingga mencapai posisi yang sedemikian tingginya dalam khazanah sufi, Ibnu Arabi tetap memulai perjalanan intelektualnya dengan mempelajari Al-Quran pada Abu Bakr bin Muhammad bin Khalaf al-Lakhmi, Abu al-Qasim al-Sharrat, Abu al-Hasan Syuraikh bin Muhammad bin Muhammad bin Shuraikh al-Ra’ini, dan Ahmad bin Abi Hamzah.

Di dalam al-Futuhat al-Makiyyah, Ibnu Arabi menyatakan kalau ia mempelajari ilmu hadis dari Ibn Hazm al-Zahiri. Kemampuan Ibn Arabi di berbagai disiplin keilmuan Islam tersebut telah mengantarnya kepada suatu pilihan akademis yaitu menolak untuk bertaklid begitu saja kepada guru-gurunya sebelum melakukan penelitian lebih jauh. Di sisi lain, ia juga tidak segan mengakui jika terdapat persamaan pendapat antara dirinya dengan pendapat orang lain.

Pendidikan dasar yang diterima Ibnu Arabi adalah pendidikan standar untuk keluarga muslim yang baik. Ia tidak belajar di sekolah resmi, melainkan mendapatkan pelajaran privat di rumah. Dia belajar Al-Quran kepada salah seorang tetangganya, yakni Abu Abdullah Muḥammad al-Khayyat, yang kemudian sangat ia cintai dan tetap menjadi sahabat dekatnya selama bertahun-tahun.

Kautsar Azhari Noer dalam Ibnu Al-‘Arabi; Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan menyebutkan bahwa sejak menetap di Sevilla ketika berusia delapan tahun, Ibnu Arabi memulai pendidikan formalnya. Di bawah bimbingan sarjana-sarjana terkenal di kota tersebut, ia mempelajari Al-Quran, tafsir, hadis, fiqh, teologi dan filsafat skolastik (pelajari tentang filsafat skolastik disini). Perlu diingat bahwa Sevilla saat itu adalah pusat sufisme yang cukup penting, dengan sejumlah guru sufi terkemuka yang tinggal di sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here