Biografi Ibn Katsir: Mufasir Murid Kesayangan Ibn Taimiyyah

0
44

BincangSyariah.Com – Bicara biografi Ibn Katsir, sosok ulama yang dikenal sebagai penulis salah satu kitab tafsir yang masih masyhur saat ini, yaitu Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim memiliki nama lengkap Abu al-Fida’ ‘Imad al-Din Isma’il bin Umar bin Katsir bin Dhau’ bin Katsir Zara’ Al-Qurasy Al-Syaf’i. Ibn Katsir lahir di desa Mijdal, Bashrah bagian timur, pada tahun 700 H/ 1301 M. Ia wafat pada hari Kamis 26 Sya’ban 774 H / 1374 M.

Dr. Muhammad Husain al-Dzahabi dalam kitab Tafsir wa al-Mufassirun (j. 1 h. 242) menyebutkan bahwa ayah Ibnu Katsir adalah seorang khatib di kampungnya namun meninggal pada waktu Imam Ibnu Katsir baru berumur empat tahun. Sebagian pendapat mengatakan tiga tahun. Pada usia lima tahun atau setahun sesudah ayahnya meninggal dunia, Ibnu Katsir pindah ke Damaskus (Syiria), tepatnya pada tahun 705 H / 1305 M. bersama kakaknya yang bernama Syaikh Abdul Wahhab. Bersama dengan kakaknya, ia mulai melakukan pengembaraan intelektual.

Guru utama al-Imam Ibn Katsir adalah Burhan ad-Din al-Fazari (660-729 H), seorang ulama terkemuka dan penganut madzhab Syafi’i, dan Kamal al-Din ibn Qadhi Syuhbah. Kepada keduanya ia belajar fiqh, khususnya mazhab Syafi’i dengan mengkaji kitab at-Tanbih karya al-Syirazi, sebuah kitab furu’ Syafi’iyah, dan kitab Mukhtashar Ibn Hajib dalam bidang ushul fiqh. Seorang peneliti Imam Ibnu Katsir bernama Nur Faiz Maswan dalam bukunya yang berjudul Deskriptif Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dengan bantuan dari kedua gurunya tersebut, Ibnu Katsir menjadi seorang ahli fiqh hingga dijadikan sebagai tempat konsultasi bagi para penguasa dalam menghadapi persoalan-persoalan hukum.

Dalam bidang hadis, ia belajar pada ulama Hijaz dan mendapatkannya dari Alwani, serta meriwayatkannya secara langsung dari para Huffaazh (penghafal hadits) terkemuka di masanya, seperti Syaikhuddin Ibn al-Asqalani dan Syihab al-Din al-Hajjar (w. 730 H.) yang lebih terkenal dengan sebutan Ibn al-Syahnah.

Dalam bidang sejarah, Ibnu Katsir menerima peranan yang besar dari al-Hafidz al-Birzali (w. 739 H), seorang sejarawan dari kota Syam, yang terbilang cukup mahir dalam mengupas peristiwa-peristiwa seputar sejarah keislaman. Ibnu katsir mendasarkan periwayatan kitab tarikhnya pada karya gurunya tersebut. Berkat al-Birzali dan tarikh-nya, Imam Ibnu Katsir menjadi seorang sejarawan yang besar, dan karyanya dibidang sejarah sering dijadikan rujukan oleh para ulama dalam penulisan sejarah Islam.

Secara periodik, di usia 11 tahun ia menyelesaikan hafalan al-Qur’an, dilanjutkan dengan memperdalam ilmu qiraat, melalui studi tafsir dan ilmu tafsir, dari guru terdekatnya, Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah (661-728 H).

Sebagai seorang ulama, Ibn Katsir r.a cukup produktif dalam menyusun kitab-kitab dalam berbagai disiplin keilmuan, diantaranya ialah:

  1. Al-Tafsīr,sebuah kitab tafsir bi al-Riwayah yang terbaik, dimana ImamIbnu Katsir menafsirkan Alquran dengan Alquran, kemudian dengan hadis-hadis masyhur yang terdapat dalam kitab-kitab para ahli hadis,disertai dengan sanadnya masing-masing.
  2. Al-Bidayah wa Al-Nihayah,sebuah kitab sejarah yang berharga dan terkenal, dicetak di percetakan al-Sa`adah, Mesir, tahun 1358 H dalam 14 Jilid. Dalam buku ini Imam Ibnu Katsir mencatat kejadian-kejadian penting sejak awal penciptaan sampai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 768 H, yakni lebih kurang 6 tahun sebelum wafatnya
  3. Al-Sirah (Ringkasan Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW). Kitab ini telah dicetak di Mesir pada tahun 1538 H, dengan judul Al-Fushul fi Ikhtishari Sirat ar-Rasul
  4. Al-Sirah Al-Nabawiyah (Kelengkapan Sejarah Hidup Nabi SAW)
  5. Ikhtishar‘ Ulum al-Hadīts, pada kitab ini, Ibnu Katsir meringakas kitab Muqaddimah Ibn Shalah yang berisi ilmu Musthalah al-Hadīst. Kitab ini telah dicetak di Makkah dan di Mesir, atas hasil penelitian yang dilakukan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir pada tahun 1370 H.
  6. Jami`al-Masanid wa al-Sunan (unduh kitabnya disini), kitab ini disebut oleh Syaikh Muhammad Abd al-Razzaq Hamzah dengan judul al-Huda wa al-Sunnah fi Ahadits al-Masanid wa al-Sunan, dimana dalam kitab ini Imam Ibnu katsir telah menghimpun hadis-hadis di dalam kitab Musnad Imam Ahmad, al-Bazzar, Abu Ya’la dan Ibnu Abi Syaibah dengan al-Kutub al-Sittah menjadi satu.
  7. Al-Takmil fi Ma’rifah al-Tsiqat wa al-Dhu’afa’i wa al-Majahil,dalam kitab ini Imam Ibnu Katsir menghimpun karya-karya gurunya, yakni al-Mizzi dan al-Dzahabi menjadi satu, yaitu Tahdzib al-Kamal dan Mizan al-I’tidal,disamping sisipan mengenai al-Jarh wa al-Ta’dīl
  8. Musnad al-Syaikhayn, Abi Bakr wa Umar, kitab kumpulan riwayat hadis musnad ini terdapat di Dar al-Kutub al-Mishriyah.
  9. Risalah al-Jihad, dicetak di Mesir
  10. Thabaqat al-Syafi’iyah, dicetakak bersama dengan Manaqib al-Syafi’i
  11. Iktishar, sebuah ringkasan dari kitab al-Madkhal ila Kitab al-Sunan karangan al-Baihaqi
  12. Al-Muqaddimat, berisi tentang ilmu Musthalah al-Hadīs
  13. Takhrij Ahadist Adillatit Tanbih, isinya membahas tentang kajian hadits yang dijadikan rujukan dalam detail-detail permasalahan (furu’) dalam mazhab fikih Imam al-Syafi’i.
  14. Takhrij Ahadits Mukhtashar Ibn Hajib, membahas validitas hadis-hadis yang dikutip dalam kitab ushul fiqh Mukhtashar Ibn al-Hajib.
  15. Syarah Shahih al-Bukhari, merupakan kitab penjelasan tentang hadis-hadis Bukhari. Kitab ini tidak selesai, tetapi dilanjutkan oleh Ibn Hajar al-Asqalani (952 H/ 1449 M) (lihat biografi Ibn Hajar al-‘Asqalani)
  16. Al-Ahkam, kitab fiqh yang didasarkan pada Alquran dan hadis.
  17. Fadhilatu al-Qur’an ,berisi tentang sejarah ringkasan Alquran. Kitab ini ditempatkan pada halaman akhir Tafsir Ibnu Katsir.
  18. Tafsir al-Qur’an al-Adzīm, lebih dikenal dengan nam aTafsir Ibnu Katsir. Diterbitkan pertama kali dalam 10 Jilid, pada tahun 1342 H / 1923 M, di Kairo.

Kealiman dan keshalihan sosok Ibnu Katsir telah diakui para ulama di zamannya mau pun ulama sesudahnya. Adz-Dzahabi berkata bahwa Ibnu Katsir adalah seorang Mufti (pemberi fatwa), Muhaddits (ahli hadits), ilmuan, ahli fiqih, ahli tafsir dan beliau mempunyai karangan yang banyak dan bermanfa’at.

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan hadits, menelaah matan-matan dan rijal-rijal (perawinya), ingatannya sangat kuat, pandai membahas, kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya manusia masih dapat mengambil manfa’at yang sangat banyak dari karya-karyanya.

Salah seorang muridnya, Syihabuddin bin Hajji berkata, “Beliau adalah seorang yang plaing kuat hafalannya yang pernah aku temui tentang matan (isi) hadits, dan paling mengetahui cacat hadits serta keadaan para perawinya. Para sahahabat dan gurunya pun mengakui hal itu. Ketika bergaul dengannya, aku selalu mendapat manfaat (kebaikan) darinya.

Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here