Biografi Fatima Mernissi; Pejuang Emansipasi Wanita Asal Maroko

0
37

BincangSyariah.Com – Jika hak – hak wanita merupakan masalah bagi sebagian kaum lelaki muslim modern, hal itu bukanlah karena Al Qur’an ataupun Nabi, bukan pula karena tradisi Islam, melainkan semata – mata karena hak – hak tersebut bertentangan dengan kepentingan kaum elit lelaki”. Begitulah kutipan perkataan Mernissi yang sangat populer dan menohok.

Tekad, keberanian serta pendekatan psycho-histori yang dia gunakan untuk mengkritik interpretasi ulama bahkan sahabat soal posisi perempuan dalam Islam telah membuatnya dikenal dunia sebagai sosiolog muslimah sekaligus pejuang emansipasi wanita.

Terjunnya perempuan kelahiran 1940 M ini dalam gerakan feminisme tidak terlepas dari getir masa kecil yang ia alami. Dia lahir di keluarga yang taat akan adat istiadat. Tinggal di sebuah harem di kota Fez, Maroko. Harem di sini bukanlah istana – istana megah melainkan rumah besar yang dia tinggali bersama sanak familinya.

Gerbang raksasa kami berbentuk lingkungan batu raksasa dengan pintu berukir membatasi Harem perempuan dan laki – laki asing pengguna jalanan. Anak – anak boleh keluar dari gerbang itu dengan izin dari orang tuanya, sedangkan para perempuan dewasa tidak diperkenankan”, ujar Mernissi dalam bukunya Teras Terlarang diterjemahkan Ahmad Baiquni.

Adalah gambaran masa kecil Mernissi dimana ruang perempuan hanya berkisar dalam lingkup domestik, sementara ranah publik adalah kuasa lelaki. Stigma ini dipahami beragam, kelompok paling ektrim melegitimasi hal ini sebagai kebolehan merenggut hak pendidikan dari mereka.

Disisi lain di masa itu Maroko tengah digempur arus mistisme. Wanita pedesaan mendapat dampak buruk dari musibah ini. Mereka buta huruf, dianggap tidak berfikiran maju dan menyukai hal – hak takhayul.

Baca Juga :  Abdullah bin Rawahah; Petugas Pajak Rasulullah yang Enggan Terima Suap

Beruntung, Mernissi hidup di keluarga yang cukup progresif. Sehingga dia bisa menimba ilmu di sekolah yang cukup sederhana. Sebagaimana kebiasaan daerah Arab, di usia dini mereka mengirim anak – anaknya ke langgar tempat mengaji. Begitu pula, Mernissi. Ia belajar di sebuah madrasah Al Qur’an.

Selama ia menuntut ilmu di tempat tersebut, ada banyak pertanyaan yang menghantui dirinya. Gurunya, Lala Faqiha mengatakan bahwa menjadi muslim yang baik berarti menghargai batas – batas suci. Ia resah dengan penjelasan sang guru. Namun segera terobati, karena di sisi lain dia belajar pada neneknya, Lala Yasmina yang memiliki gambaran lebih logis tentang Islam dan Nabi Muhammad.

Sampai pada suatu hari, perasaannnya kembali diaduk tatkala mendengar narasi yang menurutnya cenderung mendiskreditkan posisi perempuan. Misalnya saat penjelasan gurunya bahwa anjing, keledai dan kaum wanita dapat membatalkan shalat apabila berjalan didepan mushalli.

Lalu terngiang-ngiang pula hadis saat perempuan memegang kendali kepemimpinan hanya tinggal menunggu waktu kehancuran. Hal ini ditentang Mernissi, sebab menurutnya mana mungkin Rasulullah sosok yang begitu lembut dan menghargai kaum perempuan akan tega mengeluarkan kalimat yang tidak mengenakkan itu.

Hidup di masa kolonialisme membuat dirinya turut berjuang meneriakan hak kebebasan dan kemerdekaan. Dia bersama para remaja lainnya turun ke jalan sambil menyanyikan lagu hurriya jihaduna hatta narha (kami akan berjuang untuk kemerdekaan sampai kami memperolehnya).

Usai menamatkan sekolah menengah, Mernissi mengenyam pendidikan di Universitas Muhammad V Rabbah dengan konsentrasi ilmu politik dan sosiologi. Setelah lulus dia mengajar di universitas yang sama.

Lalu pergi bekerja di Prancis sebagai jurnalis. Lalu mengikuti beasiswa program doktoral di  Amerika Serikat. Dan pada tahun 1973 mendapat gelar Ph.D di bidang Sosiologi dari Universitas Brandeis.

Baca Juga :  Islam, Kartini dan Emansipasi Perempuan

Sementara itu, berdasarkan catatan Ratna Wijayanti dkk mengutip Setara di Hadapan Allah, Mernissi juga pernah menjadi dosen tamu di Universitas California Berkeley dan Harvard. Menjabat sebagai konsultan United Nations Agencies.

Motivasinya untuk memerdekakan kaum wanita kembali bergejolak saat lawatannya ke beberapa negeri Muslim seperti Mesir, Pakistan dan Aljazair. Disa dia melihat realita wanita di dunia Muslim yang menurutnya terlalu terbelenggu dan terkekang sehingga menghambat laju kemajuan mereka. Ini berbeda dengan apa yang ia lihat di dunia Barat.

Untuk meraih tujuannya ia bergabung dalam gerakan Pan Arab Women Solidarity. Di lembaga yang bergerak dalam perjuangan hak – hak perempuan Arab ini, dia aktif menuangkan gagasan – gagasannya baik itu berupa artikel maupun buku. Tulisan – tulisannya soal hak wanita ikut berpartisipasi dalam ranah publik berdasar tinjaun psycho-histori dilirik dunia.

Sebagaimana karya – karyanya laris diterjemahkan ke dalam bahasa asing termasuk Indonesia. Setidaknya ada tujuh karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya: Teras Terlarang, Setara di Hadapan Allah, Pemberontakan Wanita, Ratu – ratu Islam yang terlupakan, Peran Intelektual Kaum Wanita dalam Sejarah Muslim dan lain – lain.

Buah pikirannya dikaji dan ditanggapi beragam oleh masyarakat. Mendapat banyak pujian namun tidak terlepas dari cibiran. Salah satu yang menjadi sasaran kritikan adalah pandangan Mernissi mengenai hadis bahwa anjing, keledai dan wanita akan membatalkan salat seseorang apabila melintas dihadapan mushalli.

Menurutnya kendati hadis tersebut masuk dalam kategori hadis hadis shahih Bukhari, namun sumber hadis ini hanya melalui Abu Hurairah dan mendapat koreksi dari Aisyah. Dan kapabilitasnya dalam menguasai ilmu Islam pun sering diragukan meski telah mengkaji buku buku Ulama besar seperti Ibnu Hisyam, Ibnu Hajar, Ibn Sa’ad, Thabari dan lain – lain secara otodidak.

Baca Juga :  Tafsir QS Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Widyastini, seorang dosen Fakultas filsafat UGM ikut menanggapi isu ini dalam jurnalnya bertajuk Gerakan Feminisme Islam Dalam Perspektif Fatima Mernissi. Menurutnya Fathimah Mernissi kurang menguasai buku-buku standar.

Berdasarkan kesaksiannya, Hadis wanita pembatal shalat yang berasal dari Abu Hurairah ternyata tidak ditemukan di dalam Sahih Bukhari. Dan terdapat kurang lebih 13 periwayatan hadits yang di dalamnya berisi penjelasan tentang hal tersebut yaitu dalam as-Sahabah, al-Witr, Amal fi Salah dan al-isti’zan. (Baca: Sekilas Kajian Hadis di Barat (2): Perspektif Gender dalam Kajian Hadis)

Selain itu menurutnya Mernissi kurang memahami ilmu – ilmu hadis. Dengan kata lain tidak memilki kemampuan mengoreksi kembali mengapa al-Bukhari tidak memasukan bantahan Aisyah terhadap riwayat Abu Hurairah.

Terlepas dari gagasan – gagasannya yang menuai polemik dan pro kontra, Fatima Mernissi layak mendapat apresiasi. Sebab dia adalah tokoh yang peka dan peduli terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di lingkungannya.

Mernissi telah berjuang keras demi menaikan derajat dan nasib kaum hawa. Mencoba memapah mereka dari keterbelakangan menuju kemajuan. Dari ranah jadul pesimistis menuju arah modern optimistis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here