Biografi Buya Hamka: Mufassir Sastrawan yang Memaafkan Ir. Soekarno

0
21

BincangSyariah.Com – Apa yang terlintas ketika berbicara mengenai biografi Buya Hamka? Mungkin diantara ingatan kita akan tertuju pada karya fenomenal beliau yang berjudul “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”. Sebuah karya sastra yang syarat akan nasihat dan kebudayaan serta adat-istiadat Minang yang khas. Selain karya sastranya yang fenomenal, Buya Hamka juga dikenal sebagai mufassir dengan kitab tafsirnya “Al-Azhar” merupakan karya beliau dalam bidang tafsir Al-Qur’an.

Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah namun lebih akrab dengan sebutan Buya Hamka. Lahir pada tanggal 17 Februari 1908 M atau 13 Muharram 1326 H tepatnya dilahirkan di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang pelopor kebangkitan kaum muda dan tokoh Muhammadiyah yang bernama Haji Karim Amrullah atau sering disebut Haji Rasul bin Muhammad Amrullah bin Tuanku Abdullah Saleh. Sedangkan ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria.

Dari silsilah keturunan, dapat disimpulkan bahwasannya Buya Hamka lahir dan besar di kalangan keluarga yang taat agama, serta merupakan salah satu keluarga yang mempelopori kebangkitan kaum muda di Minangkabau. Selain itu, pengaruh besar sang ayah Haji Karim Amrullah selaku tokoh besar Muhammadiyah juga mempunyai peranan dalam mendorong Buya Hamka dalam berkiprah di Muhammadiyah.

Dari sisi sekolah formal Buya Hamka tidak mengenyam bangku pendidikan yang tinggi. Riwayat pendidikannya hanyalah berkisar pada sekolah-sekolah kampung dan sekolah-sekolah agama biasa. Pada umur 6 tahun ia hanya belajar tata cara membaca Al-Qur’an dari sang ayah. Lalu pada umur 7 tahun ia dimasukan oleh ayahnya ke sekolah desa yang hanya dienyamnya selama 3 tahun, lalu dikeluarkan akibat kenakalannya.

Pada umur 10 tahun ia belajar di Sumatera Thowalib sebuah lembaga pendidikan islam yang didirkan oleh ayahnya Haji Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi Padang Panjang dan surau Parabek Bukittinggi, Sumatera Barat. Selain itu, Buya Hamka juga mengenyam pendidikan di Diniyyah School, di Diniyyah School inilah ia menemukan guru favorit yaitu Engku Zaenuddin Labay el-Yunusy yang memadukan metode pengajaran dan metode pendidikan. Serta memadukan sistem pendidikan klasikal dengan sistem pendidikan modern.

Baca Juga :  Mengenal Jennifer Grout: Penyanyi Amerika, Ikut Arabs Got Talent, dan Sekarang Masuk Islam

Pada umur 16 tahun Buya Hamka melakukan rihlah ilmiah guna memperdalami wawasan dan ilmu pengetahuan yang belum ia dapatkan dan temukan di kampung halamannya. Tepatnya pada tahun 1924 ia bertolak dari Minangkabau menuju Yogyakarta. Disini ia belajar akan Islam yang dinamis yang ia pelajari dari pergerakan Sarikat Islam (SI) dan ia belajar langsung dari H.O.S. Tjokrominoto yang merupakan pendiri dari SI. Dari sinilah Buya Hamka mengenal sisi lain Islam yang dinamis, berbeda dengan di Minangkabau yang terkesan statis.

Selain di Yoyagyakarta, Buya Hamka juga singgah di Pekalongan dan tinggal Bersama AR. Sutan Mansur yang merupakan ipar sekaligus tokoh Muhammadiyah. Disini Buya Hamka belajar tentang islam dan politik serta mulai mengenali ide-ide pembaharuan Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, serta Rasyid Ridha yang berupaya mendobrak kebekuan umat. Dari pemikiran-pemikiran inilah Buya Hamka mulai terbuka tentamg cakrawala dan dinamika Universitas Islam dan ide-ide pembeharuan yang kelak akan ia terapkan di Minangkabau.

Kurang lebih selama setahun, Buya Hamka Bersama sang ipar AR. St. Mansur kembali ke Sumatera Barat dan memulai kiprahnya dengan ide-ide yang telah mereka pelajari selama di Jawa. Disini sang ipar AR. St. Mansur menjadi muballigh dan kerap kali mengadakan pengajian tentang kemuhammadiyahan, dan Buya Hamka adalah orang yang selalu mengirinya.

Selain menjadi pengiring sang ipar, Buya Hamka juga membentuk kajian pelatihan pidato di Padang Panjang, dan kumpulan pidatonya dibukukan dengan  judul “Khotib Al-Ummah”.  Selain aktif mendirikan pelatihan pidato, ia juga kerap kali menulis di berbagai media seperti majalah Seruan Islam dan menjadi koresponden Pelita Harapan Andalas. Dari bakat dan kepiawaiannya menulis ini ia diangkat menjadi pemimpin di majalah Kemajuan Zaman.

Baca Juga :  Perhatian Islam Terhadap Kebersihan dan Kesucian

Setelah kepulangannya menunaikan ibadah haji, Buya Hamka singgah di Medan untuk beberapa waktu. Di Medan inilah Buya Hamka mulai aktif menulis tentang filsafat, tasawuf, serta beberapa novel. Disini juga ia menuai kesuksesan bersama Pelita Harapan. Namun ditempat ini pula ia mengalami kejatuhannya. Tepatnya pada tahun 1944 pada masa penjajahan jepang ia dinobatkan sebagai Syu Sangi Kai atau Dewan Perwakilan Rakyat. Dari sinilah ia mulai dikucilkan oleh masyarakat karena dianggap pro pemerintahan jepang dan terkesan di anak emaskan oleh jepang. Sehingga pada tahun 1945 ia kembali pulang ke Padang Panjang.

Kiprah dan pemikiran Buya Hamka tidak hanya sebatas menjadi penulis dan DPR dalam masa penjajahan jepang. Namun jika diruntut melalui kronologisnya. Buya Hamka memulai kiprahnya sebagai guru agama di Perkebunan Medan pada tahun 1927. Lalu pada tahun 1934-1935 mendirikan Tabligh School yang kemudian berganti namanya menjadi Kulliyatul Muballighin guna mempersiapkan kader-kader Muhammadiyah agar menjadi muballigh dan penceramah yang handal.

Selain berkiprah dalam dunia pendidikan dan kepenulisan, ia juga aktif dalam struktural Muhammadiyah. Di tahun 1934 ia menjadi anggota tetap konsul Muhammadiyah Sumatera Tengah. Dan pada tahun 1949 ia menjabat sebagai Ketua Konsul Muhammadiyah Sumatera Timur. Pernah menjabat sebagai Departemen Agama pada masa KH. Abdul Wahid Hasyim, Penasehat Kementerian Agama, serta Ketua Dewan Kurator PTIQ.

Buya Hamka juga merupakan seorang Imam Besar di Masjid Agung Kebayoran Baru, yang kemudian namanya diubah oleh Rektor Universitas Al-Azhar Mesir, Syaikh Muhammad Syaltuth menjadi Masjid Agung Al-Azhar. Lewat mimbar Al-Azhar ini ia kerap kali menyuarakan penolakannya terhadap sistem demokrasi terpimpin yang digaungkan oleh Ir. Soekarno setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden pada tahun 1959. Karena dianggap berbahaya. Akibat sikap kontranya dengan Pak Karno, Buya Hamka dipenjarakan pada tahun 1964 dengan menggunakan delik makar.  Ia baru keluar pada tahun 1967 setelah runtuhnya kepemimpinan Ir. Soekarno dan berakhirnya orde lama. Pada masa di penjara inilah Buya Hamka menyelesaikan karya fenomenalnya dalam bidang tafsir Al-Qur’an yang berjudul Tafsir Al-Azhar.

Baca Juga :  Biografi K.H. Ahmad Dahlan: Mendirikan Muhammadiyah, Membawa Islam Senafas dengan Kemajuan

Pada tahun 1975-1981 Buya Hamka ditunjuk sebagai Ketua MUI dengan hasil aklamasi karena tidak ada calon lain, sehingga pilihan jatuh kepada Buya Hamka dengan hasil Musayawarah pejabat dan ulama. Namun belum berakhir tugasnya ia mundur dari jabatan tersebut akibat perbedaan prinsip dirinya dengan pejabat.

Dalam buku yang berjudul “Ayah” karya Irfan Hamka, diceritakan dalam masa kritisnya Ir. Soekarno, ia mengutus utusan untuk mendatangi Buya Hamka guna meminta maaf atas kesalahannya karena telah tega memenjarakan Buya Hamka ketika masih menjabat sebagai Presiden, serta meminta kesediaan Buya Hamka untuk mengimami sholat mayyit apabila ia telah tiada. Dengan lapang dada dan ikhlas, Buya Hamka menerima maaf dari sang proklamator tersebut dan bersedia mengimami sholat mayyit apabila sang proklamator telah tiada.

Itulah sosok Buya Hamka, yang merupakan mufassir sekaligus aktivis dan penulis yang memiliki jiwa pemaaf. Ia wafat setelah dua bulan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua MUI setelah dirawat selama seminggu di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Tepatnya pada tangal 24 Juli 1981 ia menghadap kehadirat Ilahi. Namanya akan selalu dikenang, serta pemikirannya akan selalu relevan diterpakan hinga saat ini. Semoga kita mampu meneladani jejaknya sebagai salah satu pahlawan negeri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here