Biografi Buya Ahmad Syafii Maarif: Menegaskan Konsep Islam yang Moderat dalam Berbangsa

2
11

BincangSyariah.Com – Buya Syafii adalah sapaan akrab Ahmad Syafii Maarif. Istilah Buya sangat pantas disandingkan kepada Ahmad Syafii Maarif karena beliau merupakan ulama yang sangat alim, dikenal sebagai pendidik, sekaligus ilmuwan atau cendekiawan yang memiliki reputasi intelektual yang sangat tinggi. Kendati demikian, Ahmad Syafii Maarif lebih memilih untuk dipanggil cukup dengan nama saja tanpa perlu dipanggil dengan sebutan Buya, karena menurut beliau sebutan Buya masih dipermasalahkan. Sikap rendah hati dan ketawadhuan yang membuat orang lain kagum kepadanya.

Ahmad Syafii Maarif lahir dari pasangan Ma’rifah Rauf dan Fathiyah pada hari Sabtu, 31 Mei 1935 di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Sewaktu berusia satu setengah tahun, sang ibunda meninggal dunia hingga kemudian ia dititipkan oleh sang ayah kepada bibinya yang bernama Bainah, yang tempat tinggalnya sekitar 500 meter dari tempat kelahirannya. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sederhana diperkampungan. Meskipun tinggal diperkampungan tidak menyurutkan tekadnya untuk menggapai bangku pendidikan setinggi mungkin.

Pendidikan dasar Ahmad Syafii Maarif diperoleh di Sekolah Rakyat (SR) Sumpur Kudus dalam waktu singkat yang hanya lima tahun. Selanjutnya Ahmad Syafii Maarif melanjutkan sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sumpur Kudus hingga selesai pada tahun 1947. Setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah, Ahmad Syafii Maarif melanjutkan studinya di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah di Balai Tengah, Lintau dan selesai pada tahun 1953. Lulus dari sana, Ahmad Syafii Maarif memutuskan untuk hijrah ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikannya ke jenjang SMA dan Madrasah Mu’allimin Yogyakarta.

Tepat 21 tahun usianya ketika lulus dari Madrasah Mu’allimin Yogyakarta, Ahmad Syafii Maarif ditugaskan untuk mengabdi sebagai pengajar di lembaga pendidikan yang dikelola oleh organisasi Muhammadiyah yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Setelah selesai pengabdiannya, Ahmad Syafii Maarif kembali ke tanah Jawa untuk melanjutkan pendidikannya di Surakarta, tepatnya di Universitas Cokroaminoto Surakarta Fakultas Sejarah dan Kebudayaan, yang kini telah melebur menjadi Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.

Baca Juga :  Ramadan dalam Benak Bocah

Selain kuliah, Ahmad Syafii Maarif juga bekerja sebagai guru di desa Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah untuk menyambung keberlangsungan hidupnya. Akibatnya sering tidak masuknya kuliah karena sibuk mengajar di sekolah. Ahmad Syafii Maarif hanya tamat Sarjana Muda (BA) pada tahun 1964. Karena semangat juangnya yang cukup tinggi dalam menuntut ilmu, akhirnya ia berhasil menyelesaikan kuliahnya, walau harus ditempuh sambil bekerja. Gelar Sarjana (Drs) diperolehnya di Yogyakarta dari FKIS IKIP Yogyakarta tahun 1968, dengan judul skripsi “Gerakan Komunis di Vietnam (1930-1954)”.

Setelah menyandang gelar sarjana, Ahmad Syafii Maarif melanjutkan perjalanan pendidikannya ke Amerika Serikat. Pada jenjang magister, Ahmad Syafii Maarif mengenyam pendidikan di Ohio State University. Di Ohio inilah ia mendapat gelar MA pada Departemen Sejarah dengan tesis Islamic Politics Under Guided Democracy in Indonesia. Kemudian ia melanjutkan studinya di University Of Chicago hingga mendapatkan gelar Ph.D.

Kecerdasan dan perjalanan pendidikan Ahmad Syafii Maarif yang sangat luar biasa, ditambah latar belakang pendidikan sedari kecil yang sangat kental dengan Muhammadiyah membuat ia dipilih menjadi Ketua Umum Muhammadiyah (1998-2005). Ahmad Syafii Maarif juga merupakan sosok pengusung ide pluralisme dan kesetaraan dan berbangsa dan bernegara. Bersama Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, ia acap kali disebut sebagai guru bangsa. Karena selalu menegaskan konsep Islam yang moderat, Islam yang ramah dan bukan marah. Sosok yang selalu bersikap tegas. Salah satu contohnya ketika sebagian tokoh Islam gagap dalam melawan korupsi dan radikalisme, ia justru melawannya.

Dewasa ini, gagasan-gagasan yang diutarakan Ahmad Syafii Maarif mengenai toleransi dan Islam moderat menjadi sebuah investasi yang sangat berharga untuk membangun sebuah peradaban kehidupan di Indonesia, agar terciptanya kerukunan antar umat beragama.

Baca Juga :  Tengku Zulkarnain: Ustaz yang Gemar Menjadi Kontroversi

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here