Biografi Abu Zakariyya An-Nawawi: Ulama Syafi’iyyah yang Karyanya Diterima Semua Kalangan

2
32

BincangSyariah.Com – Nama lengkapnya ialah Yahya bin Syaraf bin Muri bin Hasan bin Husein bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam (l. 631H/1233 M -w. 676 H/1277 M), seorang faqih Syafi’i, ahli hadits dan zahid. Ia dikenal dengan panggilan Abu Zakariya Muhyiddin al Nawawi, Syeikh al Islam. Lahir tahun 631 H di Nawa, sebuah desa di Kecamatan Hauran, Siria.

Pendidikannya dimulai dengan belajar al Qur-an di desanya.  Kemudian pada usia 19 tahun bersama ayahnya ke Damaskus. Di sini ia belajar di madrasah al Rawahiyah. Ia seorang pelajar yang sangat tekun dan selalu mendampingi gurunya Syeikh Kamal al Din Ishaq al Maghribi yang mengaguminya karena kecerdasan fikiran dan kemampuan hafalan muridnya itu. Bahkan ia sering ditugasi menjadi asistennya. Tahun 651 H bersama-sama ayahnya berangkat haji. Pulang dari ibadah ini ia kembali menekuni karir ilmiyahnya. Ia belajar hadits pada Ridha bin Burhan, Zain Khalid dan Abd a-‘Aziz al Hamawi.

Kepada Nawawi Allah memberinya anugerah kekuatan belajar begitu rupa sehingga dalam satu hari ia dapat mengajarkan 12 mata pelajaran: hadis, ushul al-fiqh, bahasa, tashrif, kalam, mantiq dan lain-lain. Pernah ia juga berkeinginan mempelajari ilmu kedokteran, tetapi Allah menghendaki dia untuk tekun dalam ilmu-ilmu agama. Menurut Ad-Dzahabi, An-Nawawi tidak pernah berhenti belajar selama 20 tahun dan itu dilakukannya siang – malam, sambil tetap hidup dalam kesederhanaannya, zuhud, dan berdakwah.

Ia pernah memimpin lembaga pendidikan Dar al Hadits, menggantikan Syeikh Syihab al Din Abu Syamah. Untuk jabatan ini ia tidak mengambil upah sedikitpun. Ia dengan senang hati menerima cara hidup yang sederhana dari kiriman orang tuanya. Ia seorang faqih yang bersahaja dan memilih untuk tidak menikah selama masa hidupnya.

Semasa hidupnya dia selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian dia adalah kain kasar, sementara serban dia berwarna hitam dan berukuran kecil.

Guru-guru Imam An-Nawawi

Sang Imam belajar pada guru-guru yang amat terkenal. Dalam bidang hadits, beliau belajar kepada Abdurrahman bin Salim al-Anbary, Abdul Aziz bin Muhammad al-Anshary, Khalid bin Yusuf an-Nabilisy, Ibrahim bin Isa al-Murady, Ismail bin Ishaq at-Tanukhy, dan Abdurrahman bin Umar al-Maqdisi.

Dalam bidang nahwu dan ilmu kebahasaan beliau mengaji kepada Ahmad bin Salim al-Mishry dan Izzuddin al-Maliky.

Pada bidang Fikih dan Ushul Fikih, beliau belajar kepada Ishaq bin Ahmad bin Utsman al-Maghriby, Abdurrahman bin Nuh bin Muhammad al-Maqdisy, Sallar bin Hasan al-Irbily, Umar bin Indar at-Taflisy, dan Abdurrahman bin Ibrahim al-Fazary.

Murid-murid Imam An-Nawawi

Tidak sedikit ulama yang datang untuk belajar ke Iman Nawawi. Di antara mereka adalah al-Khatib Shadruddin Sulaiman al-Ja’fari, Syihabuddin al-Arbadi, Shihabuddin bin Ja’wan, Alauddin al-Athar dan yang meriwayatkan hadits darinya Ibnu Abil Fath, Al-Mazi dan lainnya.

Testimoni Para Ulama tentang Imam Nawawi

Salah satu murid beliau, Ibnu Aththar pernah berkomentar bahwa Imam Nawawi merupakan seorang yang selalu bermujahadah, bersikap wara’ (menjaga diri), secara kontinyu melakukan muraqabah (introspeksi diri), dan rutin melakukan ritual penyucian jiwa dengan cara berpuasa atau latihan melawan hawa nafsu lainnya. Beliau adalah seorang penghafal hadits yang di saat yang sama menguasai aneka keilmuannya, mulai dari isi (al-matn), periwayat (ruwwatu asn-sanad) serta kualitas jalur periwayatan. Selain itu, beliau juga layak dikategorikan sebagai salah seorang mujtahid dalam mazhab fikih.

Kepakaran beliau dalam bidang keilmuan dan kesederhanaan kehidupan beliau diamini pula oleh ulama yang lain seperti Quthbuddin al-Yunini dan bahkan yang berbeda madzhab fikih dengan beliau pun seperti Syamsuddin bin Fakhruddin al-Hanbali, mengamini hal tersebut.

Karya-Karya

Imam An-Nawawi meninggalkan banyak karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab atau bahkan lebih, dan dalam berbagai lintas keilmuan.

Dalam bidang hadits:

  1. Al-Arba’in An-Nawawiyah, kitab kumpulan 40 -tepatnya 42- hadits penting.
  2. Riyadhus Shalihin, kumpulan hadits mengenai etika, sikap dan tingkah laku yang saat ini banyak digunakan di dunia Islam.
  3. Al-Minhaj, Syarah Shahih Muslim, penjelasan kitab Shahih Muslim bin al-Hajjaj.
  4. At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir, kitab pengantar studi hadits.

Dalam bidang fiqih:

  • Minhaj ath-Thalibin).
  • Raudhatuth Thalibin,
  • Al-Majmu`Syarhul Muhadzdzab
  • Matn al-Idhah fil-Manasik, yang khusus membahas tentang permasalahan haji.

Dalam bidang bahasa:

  • Tahdzibul Asma’ wal Lughat.

Dalam bidang akhlak:

  • At-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran.
  • Bustaan al-‘Aarifiin,
  • Al-Adzkar, kumpulan doa-doa yang bersumber dari para Rasulullah, sahabat, dan tabi’in.

Selain itu, Pengarang kitab Kasyf az-Zhunun mengatakan bahwa Imam Nawawi juga menulis kitab Al-Ushul wa Ad-Dhawabith. Dilihat dari namanya kitab ini kelihatan dengan jelas  membicarakan ilmu ushul fiqh. Apalagi diketahui bahwa ia sendiri banyak mempelajari ilmu ini. Pembaca kitab Syarh al-Muhazzab yang berjudul Al Majmu’, dapat memahami bahwa ia betul-betul sangat memahami metodologi fiqh. Selain yang telah disebutkan, sejumlah riwayat menyatakan bahwa Imam Nawawi juga menulis berbagai kitab lainnya.

Wafat

Tanggal 24 Rajab 676 H, Imam Nawawi meninggal dunia dalam usianya yang masih relatif muda, yakni 45 tahun dan dikebumikan di desanya.

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here