Biografi Abu Hanifah: Pendiri Mazhab Hanafi yang Tetap Mencari Rezeki dengan Berdagang

0
16

BincangSyariah.Com – al-Imam Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit bin Zauthi (80-150 H/699-767 M) lahir tahun 80 H di kota Kufah pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah. Ia lebih populer dipanggil Abu Hanifah. Hanif bisa bermakna an-Naasik (ahli ibadah). atau bermakna al-muslim yang secara kebahasaan bermakna condong. Seorang muslim adalah orang yang condong kepada agama yang benar. Dalam bahasa Irak, Hanifah berarti tinta. Ini karena beliau aktif menulis dan memberi fatwa. Ia sebenarnya keturunan Persia, tetapi dilahirkan sebagai orang Arab.

Kehidupan Abu Hanifah: Dari Majlis Ilmu sampai Berdagang

Abu Hanifah sering pulang-pergi ke pasar untuk berdagang. Suatu hari ia bertemu Sya’bi. Sya’bi menanyakan kegiatannya sehari-hari sambil menyarankan agar sering datang kepada ulama dan berdiskusi. Sya’bi melihat Abu Hanifah mempunyai bakat ke arah itu. Abu Hanifah terkesan pada sarannya dan sejak itu ia tinggalkan pasar untuk selanjutnya aktif dalam kajian-kajian ilmiah.

Di Kufah, Abu Hanifah bertemu dengan banyak sahabat Nabi Saw., diantaranya Anas bin Malik, Abdullah bin Abi Aufa, Sahl bin Sa’d al-Saidi (di Madinah). Di Makkah dengan Amir bin Wailah, seorang tabi’i. Akan tetapi sebagian orang meragukan pertemuannya dengan mereka. Teman-temannya mengatakan: “Ia bertemu bahkan banyak mendapatkan hadits dari mereka. Tetapi para ulama tradisionalis menafikan hal tersebut. Khatib al Baghdadi mengatakan :

“Abu Hanifah memang melihat Anas bin Malik, belajar fiqh pada Hammad bin Abi Sulaiman, mendapatkan hadits dari Atha bin Abi Rabah, Abu Ishaq as-Subai’i, Muharib bin Ditsar, Haitam bin Hubaib al-Sharraf, Muhammad bin Mukaddar, Nafi’ maula Abdullah bin Umar, Hisyam bin Urwah dan Samak bin Harb.”

Abu Hanifah dikenal memiliki banyak keahlian dalam ilmu-ilmu Syari’ah dan bahasa Arab. Dari dia sendiri diriwayatkan beberapa wajah bacaan al Qur-an. Ia juga hafal al Qur-an. Pada bulan ramadhan ia dapat mengkhatamkan al Qur-an sampai 60 kali. Keahliannya dalam fiqh mendapatkan kesaksian  Imam Syafi’i mengatakan, “masyarakat muslim berhutang budi pada Abu Hanifah.“ Ini satu kesaksian yang cukup menjadi bukti keandalannya.

Tentang kealimannya di bidang fikih, salah seorang muridnya Zufar bin Hudzail, Abu Hanifah sendiri menceritakan,

“Dulu saya sangat rajin mempelajari ilmu Kalam ( teologi ) sampai saya mampu memahaminya secara mendalam. Lalu saya mengikuti pengajian Hammad bin Abi Sulaiman. Suatu saat seorang perempuan datang kepada saya. Ia menanyakan mengenai hukum seorang laki-laki yang beristrikan perempuan hamba sahaya. Si laki-laki ingin menceraikannya secara baik-baik. “Berapa kali laki-laki itu dibenarkan menceraikan istrinya?“, kata perempuan itu. Saya katakan kepadanya agar persoalan tersebut ditanyakan saja pada Hammad, dan saya meminta dia datang kembali kepada saya untuk menceritakannya. Perempuan itu kemudian pergi menemui Hammad dan menanyakan persoalannya.  Hammad mengatakan, “laki-laki dapat menceraikan isterinya dalam keadaan suci sebanyak satu kali. Kemudian biarkan dia melewati dua kali masa haid. Jika telah selesai bersuci, maka dia boleh menikah lagi “. Sejak saat itu saya tinggalkan ilmu kalam dan mulai mempelajari fiqh sambil terus mengikuti pengajian Hammad sampai dia meninggal dunia “.

Abu Hanifah kemudian memang ahli dalam fiqh. Sebagai murid Hammad yang cerdas, seringkali ia menggantikan peran gurunya itu jika berhalangan mengajar. Meskipun ia juga ahli dalam kalam, retorika, nahwu dan sastra Arab, akan tetapi keahliannya dalam fikih ternyata lebih menonjol.

Baca Juga :  Periode Kejayaan Dinasti Muwahhidun

 

Kesaksian Imam Syafi’i atas kepakaran Abu Hanifah di atas didukung pula oleh Imam al Suyuthi. Beliau pernah menyatakan bahwa sosok Abu Hanifah ialah orang yang sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Kalau saja ilmu pengetahuan digantungkan di atas bintang di langit, niscaya akan dapat digapai oleh seorang laki-laki dari Persia.“ Abu Yusuf, salah satu sahabat utama Abu Hanifah, mengatakan,“Saya tak pernah melihat orang yang lebih ahli dalam menafsirkan hadits selain Abu Hanifah. Ia sangat cermat dan kritis dalam menilai kesahihan suatu hadits.“  

Imam Malik bin Anas, ketika diminta pendapatnya  tentang Abu Hanifah,  mengatakan: “Subhanallah, saya tidak pernah melihat orang seperti dia. Andaikata  saja dia mengatakan bahwa pilar ini terbuat dari emas, niscaya dia akan membuktikannya melalui penalaran  qiyas-nya.”

Abu Hanifah membangun mazhabnya di atas dasar-dasar al Qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Mengenai ini dia sendiri mengatakan, “Saya mengambil Kitabullah (al-Qur’an) jika saya mendapatkannya. Hal yang tidak saya jumpai dalam al Qur’an akan saya ambil dari Sunnah Rasulullah saw. dan informasi yang sahih dan  populer di kalangan orang-orang yang terpercaya. Jika saya tidak mendapatkannya dari al Qur-an dan Sunnah Rasulullah saw. saya akan mengambil fatwa para sahabatnya sesuka saya dan membiarkan fatwa lain. Setelah itu saya tidak akan keluar dari fatwa selain mereka. Jika telah sampai pada Ibrahim, al-Sya’bi, Ibnu Sirin, Ibnu Musayyab dan lainnya, maka saya akan berijtihad seperti mereka.“

Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan : “Jika ada masalah yang didasarkan  hadits sahih sampai kepada Abu Hanifah, pasti dia akan mengikutinya. Begitu  juga dari sahabat dan tabi’in. Kalau tidak, dia akan menggunakan qiyas dengan cara yang sangat baik.“ Abu Hanifah mengatakan, “jika suatu hadits datang dari Rasulullah saw. saya tidak akan mencari yang lain. Jika dari sahabat, saya akan memilih. Jika dari tabi’in, saya akan menelitinya.“ Di lain waktu Abu Hanifah mengatakan, “Saya heran mengapa orang mengatakan saya berfatwa dengan menggunakan rasio, padahal saya mengambil atsar, ucapan dan keterangan sahabat.”

Cara-cara Abu Hanifah menjawab persoalan-persoalan fiqh menunjukkan bahwa ia memang ahli dalam metodologi fiqh (ushul al-fiqh). Kalaupun ia tidak menulis sendiri metodologinya, seperti yang dilakukan Imam al Syafi’i, pendapat-pendapatnya yang tertulis dalam kitab-kitab mazhabnya dan cara-cara pengambilan kesimpulan hukum memperlihatkan dengan jelas ketajamannya dalam berijtihad. Al Dabbusi dalam bukunya  Ta’sis al Nazhar, menyebutkan sejumlah dasar-dasar fiqhnya “.

Baca Juga :  Biografi Imam Malik bin Anas (93-197 H/712 - 795 M): Alim dari Madinah yang Jadi Guru Anak-Anak Khalifah

Abu Hanifah memang suka pada kebebasaan berpikir. Ia seringkali  memberikan kesempatan kepada sahabat-sahabatnya untuk mengajukan keberatan-keberatan atas pikirannya. Terdapat sejumlah masalah fiqh yang tidak disetujui oleh Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan dan Zufar, murid-murid dan sahabat-sahabatnya.

Guru dan Murid Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah berguru kepada banyak sekali ulama. Bahkan ada yang menyebut bahwa jumlahnya lebih dari 200 ulama. Diantara ulama-ulama tersebut, yang paling dikenal ialah:

  1. Abdullah bin Mas’ud (Kufah)
  2. Ali Abi Thalib (Kufah)
  3. Ibrahim Al-Nakhai (w. 95 H)
  4. Amir bin Syarahil Al-Sya’bi (w. 104 H)
  5. Imam Hammad bin Abu Sulaiman (w. 120 H)
  6. Imam Atha bin Abi Rabah (w. 114 H)
  7. Imam Nafi’ Maulana Ibnu Umar (w. 117 H)
  8. Imam Salamah bin Kuhail
  9. Imam Qatadah
  10. Imam Rabi’ah bin Abdurrahman

Sedangkan murid-murid Imam Abu Hanifah yang paling terkenal ialah:

  1. Imam Abu Yusuf, Yaqub bin Ibarahim Al-Anshary (113 H – 182 H)
  2. Imam Muhammad bin Hasan bin Farqad Asy-Syaibany (132 H – 189 H)
  3. Imam Zafar bin Hudzail bin Qias Al-Kufy (110 H – 158 H)
  4. Imam Hasan bin Ziyad Al-Luluy (W. 204 H)

Empat orang itulah sahabat dan muridImamAbu Hanifah yangterakhirnya menyiarkan dan mengembangkan aliran dan buah ijtihad beliauyang utama, dan mereka itulah yang mempunyai kelebihan besar dalammemecahkan atau mengupas soal-soal hukum yang bertalian dengan agama

Abu Hanifah dan Politik: Menolak Jabatan dan Hadiah dari Penguasa

Kendati Abu Hanifah seorang  intelektual, pakar  dibidang hukum dan sangat terkenal, namun ia tetap sederhana. Sewaktu ia ditawari jabatan hakim agung dan menteri keuangan, ia menolaknya.

Abu Hafsh al Kabir menceritakan, “Ketika Ibn Hubairah menjadi gubernur Irak pada pemerintahan Marwan bin Muhammad, Bani Umayyah berada di masa krisis. Ibn Hubairah mengumpulkan para ulama. Mereka diminta menduduki jabatan tertentu di pemerintahannya. Abu Hanifah menolaknya. Ibn Hubairah mengancam akan menghukumnya. Ulama yang lain mencoba mendekati dan membujuk Abu Hanifah. Tetapi dia tetap menolak sambil mengatakan, “jika dia meminta saya untuk menyiapkan pintu- pintu masjid untuknya, saya tetap tak akan melakukannya.” Abu Hanifah kemudian dipenjara bahkan dipukul sampai empat belas kali. Meski demikian dia tetap kukuh pada pendiriannya. Para sejarawan mengatakan bahwa dia mengalami pemukulan berkali-kali.

Baca Juga :  Pengakuan Dusta Seorang Hamba yang Berakal Sehat

Setelah itu, tahun 130 H, dia pergi menuju Mekkah. Di masa pemerintahan Abu Ja’far al Manshur, Penguasa Abbasiyyah, dia kembali lagi ke Kufah dan mendapatkan penghargaan. Abu Ja’far memberinya hadiah uang sebesar 10.000 dirham dan seorang pembantu. Pemberian ini juga ditolaknya. Ini menunjukkan pribadinya yang ingin tetap bersih.

Penolakan Abu Hanifah atas jabatan hakim agung lebih disebabkan karena keinginannya untuk tidak terlibat dalam pemerintahan Bani Umayyah yang ternyata di kemudian hari penuh dengan gejolak dan penindasan. Syeikh Khudhari dalam bukunya  Tarikh al Tasyri’ al Islamy , mengesampingkan pemukulan terhadap Abu Hanifah hanya dikarenakan penolakannya atas jabatan hakim. Ia berpendapat bahwa, jika pemukulan itu benar-benar terjadi ketika penawarannya ditolak, maka hal itu lebih disebabkan oleh keinginan Ibn Hubairah untuk menguji kekuasaannya. Ia menawarkan jabatan hakim kepadanya. Akan tetapi ketika Abu Hanifah menolaknya, Ibn Hubairah memukulnya. Dengan penolakan itu Abu Hanifah dianggap tidak taat kepada pemerintah.

Kepribadian Abu Hanifah: Tidak Suka Banyak Bicara Kecuali Menjelaskan Agama

Abu Hanifah dikenal jujur dan tidak suka banyak berbicara, akrab dengan sahabat-sahabatnya dan tidak suka membicarakan keburukan orang lain. Ia bekerja sebagai penjual kain dan hidup dari hasil kerjanya sendiri. Ia tidak juga menyukai pembicaraan duniawi. Jika ditanya soal-soal agama, dengan sukacita ia menguraikannya secara panjang lebar dan bersemangat. Ketika Sufyan at-Tsauri ditanya tentang ketidaksukaan Abu Hanifah mengunjing orang, mengatakan: “Akalnya lebih cerdik untuk dapat dipengaruhi hal-hal yang menghapuskan kebaikan-kebaikannya.”

Akhir Hayat

Abu Hanifah meninggal dunia pada 150 H, tahun dimana Imam al Syafi’i lahir. Dia dikuburkan di pemakaman umum Khaizaran . Ikut menshalati jenazahnya antara lain Husein bin Imarah. Ia meninggalkan beberapa karya tulis, antara lain al-Makharij fi al-Fiqh, Al-Musnad, sebuah kitab riwayat hadits yang bersumber dari beliau , dan al-Fiqh al-Akbar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here