Abu al-Laits as-Samarkandi dan Yahudi yang Sering Baca Biografi Nabi Muhammad

0
1003

BincangSyariah.ComTanbihul Ghafilin adalah sebuah kitab yang populer dan sering dibaca di pesantren. Selain itu, isinya juga sering dikutip oleh para da’i dalam majelis-majelis ilmu. Kitab tersebut adalah karya ulama Samarkan atau Uzbekistan, yaitu Syaikh Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarkandi, atau biasa disebut dengan Abu al-Laits as-Samarkandi.

Biografi Abu al-Laits

Berikut ini adalah biografi singkat dari pengarang Tanbihul Ghafilin tersebut:

Nama lengkapnya adalah Nashr bin Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim, Abu al-Laits as-Samarkandi (Uzbekistan), dan bergelar Imam al-Huda (imamnya petunjuk).

Abu al-Laits adalah seorang ahli tafsir, ahli hadis, al-hafidz (hafal 100.000 hadis berikut sanad dan matannya), ahli fikih, dan ahli tasawuf.

Dia bermadzhab Hanafiyah yang memiliki sanad keilmuan dari Abu Ja’far al-Handawani, dari Abu al-Qashim ash-Shaffar, dari Nashir bin Yahya, dari Muhammad bin Sama’ah, dari Abu Yusuf, dari Abu Hanifah.

Menurut al-Hafidz Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubala, Abu al-Laits meriwayatkan hadis dari Muhammad bin al-Fadhal bin Unaif al-Bukhari dan ulama lain. Kemudian yang meriwayatkan hadis dari Abu al-Laits adalah Abu Bakr Muhammad bin Abdurrahman at-Tirmidzi dan yang lain.

Abu al-Laits memiliki banyak karya, dia antaranya: Tafsir al-Qur’an (Bahrul Ulum), Syarah al-Jami’ ash-Saghir, Kitab an-Nawaazil dalam bidang fikih, Khazanatul Fiqhi, Ta’sisun Nadzair, Mukhtalaf ar-Riwayah, Tanbihul Ghafilin, Bustanul ‘Arifin, ‘Uyunul Masail, Muqaddimah, Daqaiqul Akhbar, dan lain-lain.

Ulama berbeda pendapat tentang tahun kematian Abu al-Laits, ada yang mengatakan dia meninggal pada bulan Jumadil Akhir tahun 375-H.

Kisah Pada Bagian Terakhir Tanbihul Ghafilin

Tanbihul Ghafilin terdiri dari satu satu juz dan berisi hadis-hadis dan kisah-kisah yang melunakkan hati.

Bagian terakhirnya mengisahkan seorang Yahudi dari Syam yang membaca Taurat setiap hari Sabtu, dia mempelajari dan menemukan di dalamnya ciri-ciri Nabi Muhammad dalam empat tempat, kemudian lembaran Taurat tersebut disobek lalu dibakar.

Pada Sabtu ke dua, dia menemukan ciri-ciri nabi Muhammad dalam delapan tempat, kemudian disobek lalu dibakar.

Lalu pada Sabtu ke tiga, dia menemukan ciri-ciri tersebut dalam dua belas tempat. Dia pun lantas berpikir, jika aku menyobek Taurat, niscaya seluruh isi Taurat adalah ciri-ciri nabi Muhammad.

Kemudian dia bertanya kepada teman-temannya tentang Muhammad. Mereka menjawab, “Muhammad adalah pendusta! Lebih baik engkau tidak melihat Muhammad dan Muhammad tidak melihatmu

Yahudi itu membalas, “Demi hak Taurat Musa, janganlah kalian menghalangiku untuk mengunjungi Muhammad.” Teman-teman Yahudi itu pun memberi izin.

Setelah itu, dia menunggangi kendaraannya, menempuh perjalanan siang dan malam.

Ketika sudah dekat dengan Madinah, orang yang pertama bertemu dengannya adalah Salman. Salman adalah orang yang tampan, sehingga Yahudi tersebut mengira, Salman adalah Muhammad SAW, padahal Muhammad telah meninggal tiga hari yang lalu.

Salman kemudian menangis dan berkata, “(Aku bukanlah Muhammad), aku hanyalah hambanya”.

Yahudi lalu bertanya, “Lalu dimana Muhammad”.

Salman berfikir, “Jika aku mengatakan bahwa Muhammad telah meninggal, dia akan kembali pulang. Jika aku mengatakan bahwa Muhammad masih hidup, maka aku berdusta.

Salman lalu berkata, “Kemarilah! Kita akan menemui para sahabat Nabi

Salman kemudian memasuki masjid, sementara para sahabat masih dirundung duka.

Yahudi itu kemudian mengucapkan salam, “Assalamu alaika ya Muhammad!” Dia mengira Muhammad ada ditengah-tengah mereka.

Seketika, para sahabat menangis. Mereka berkata, “Siapakah engkau? Engkau telah membuka kembali luka hati kami. Mungkin engkau adalah orang asing. Tidakkah engkau tahu, Nabi Muhammad telah meninggal sejak tiga hari yang lalu.

Yahudi itu lalu berteriak, “Alangkah sedihnya diriku! Alangkah sia-sianya perjalananku! Seandainya ibuku tidak melahirkanku! Andaikan saja aku tidak membaca Taurat! Andaikan saja aku tidak membaca ciri-ciri Muhammad! Andaikan saja aku bertemu dengannya!

Yahudi itu kemudian bertanya, “Apakah Ali ada di sini? Bersediakah dia menceritakan padaku ciri-ciri Muhammad?

Ali menjawab, “Baiklah.”

Siapa namamu?” tanya Yahudi.

Namaku Ali”. Jawabnya.

Yahudi membalas, “Aku mendapati namamu dalam Taurat.”

Ali kemudian menjelaskan: “Nabi Muhammad SAW tidaklah terlalu tinggi, juga tidak terlalu pendek, kepalanya bulat, lebar keningnya, kedua matanya sangat hitam, memanjang alisnya. Ketika tersenyum keluarlah nur (cahaya) dari gigi serinya, dadanya berbulu, tebal telapak tangannya, dua telapak kakinya melekuk, agung akhlaknya, dan di antara dua pundaknya terdapat cap kenabian.”

Yahudi itu berkata, “Engkau benar wahai Ali! Seperti itulah ciri-ciri beliau dalam Taurat. Apakah beliau masih memiliki baju? Aku ingin mencium baju beliau.”

Ali menjawab, “Benar! Wahai Salman, temuilah Fatimah dan katakan padanya, agar mengirimkan pakaian ayahandanya, Rasulillah sallallau alaihi wasallam”.

Salman kemudian menuju pintu rumah Fatimah dan berkata, “Wahai pintu kemuliaan para Nabi, wahai pintu perhiasan para wali, sementara Hasan dan Husain menangis.

Salman lalu mengetuk pintu, dan dari dalam terdengar suara Fatimah, “Siapakah yang mengetuk pintu anak-anak yatim?

Saya Salman!”. Salman menjawab.

Dia kemudian menyampaikan pesan Ali. Lalu Fatimah menangis dan bertanya, “Siapakah yang akan memakai jubah ayahku?

Salman pun menceritakan semuanya pada Fatimah.

Fatimah lalu mengeluarkan jubah Rasulullah, yaitu jubah yang telah ditambal tujuh tempat. Tambalannya dijahit dengan serat.

Jubah tersebut kemudian diterima oleh Ali, lalu ia menciumnya, dan disusul oleh para sahabat.

Berikutnya, jubah itu diterima oleh Yahudi lalu dia menciumnya, dan dia berkata, “Alangkah harum bau jubah ini”.

Dia lantas berdiri di dekat makam Nabi, kemudian menengadahkan wajahnya ke langit, dan berikrar, “Aku bersaksi wahai Tuhan, bahwa Engkau adalah Dzat Yang Satu, Esa, Tunggal, dan dibutuhkan seluruh makhluk. Aku juga bersaksi bahwa pemilik kubur ini adalah utusanMu dan kekasihMu. Aku juga membenarkan apa yang diucapkan olehnya.” Yahudi itu melanjutkan, “Ya Allah! Jika Engkau menerima islamku, maka cabutlah nyawaku saat ini juga.

Seketika dia jatuh dan meninggal dunia, kemudian dimandikan oleh Ali, lalu dikuburkan di pemakaman Baqi’.

Kisah ini menjadi pelajaran bagi kita, agar selalu mencintai dan merindukan Rasulullah Muhammad SAW, walaupun beliau telah meninggal dunia, dan kita belum pernah berjumpa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here