Biografi Bilal bin Rabah; Sahabat Berkulit Hitam Muazin Pertama Rasullullah

0
1006

BincangSyariah.Com – Di masa sebelum Islam lahir, masyarakat Arab perkotaan telah memiliki kedekatan khusus dengan negeri Habasyah. Terutama dalam hal perdagangan. Kedua wilayah dikisahkan saling menjajakan dagangannya,  termasuk diantaranya perdagangan budak. Ya, di masa lalu manusia diperjualbelikan. Nasib Bilal tidak lepas dari lingkungan ini, ia dijual sebagai budak kepada para saudagar Arab.

Bilal bin Rabah adalah seorang budak asal Habasyah berkulit hitam dan berambut tebal. Ia dilahirkan 43 tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Ayahnya bernama Rabah dan ibunya adalah Hamamah. Keduanya merupakan budak yang mengabdi pada Bani Jumah salah satu kabilah tersohor Quraisy. (Baca: Keutamaan Bilal bin Rabah)

Tidak diketahui bagaimana keduanya bisa sampai ke Arab, sumber – sumber sejarah hanya bercerita bahwa keduanya pernah menjadi tawanan Quraisy. Adapun isu soal keduanya datang ke Makkah bersama raja Abrahah saat hendak menghancurkan Ka’bah, itu pun lemah dan banyak ditampik para ahli sebab tidak memiliki sumber yang jelas.

Para sejarawan berbeda pendapat soal dimana ia dilahirkan. Sebagian mengatakan ia lahir di Makkah, sebagian lain berpendapat ia lahir di Surah. Menurut Abbas Mahmud Al-‘Aqqad dalam karyanya Da’i As-Sama Bilal bin Rabah pendapat yang paling kuat adalah lahir di Surah sebab letaknya tidak jauh dari Yaman dan Habasyah. Tatkala memikirkan perihal pernikahan, Bilal juga sempat pulang ke kampung halamannya itu.

Kabar adanya utusan Allah yang mengajak masyarakat untuk memeluk Islam, cepat tersiar. Kabar ini pun sampai di telinga Bilal. Ia meyakini bahwa ini lah ajaran yang benar. Kemudian ia pergi menemui Rasulullah dan menyatakan keislamannya. Dikisahkan pasca bertemu Rasul, kambing yang diurus Bilal tumbuh subur, sontak hal ini membuat kaum Quraisy terheran – heran. Dan perlahan keislaman Bilal pun terbongkar. Ia mendapat begitu banyak siksaan namun tetap teguh memeluk agama Islam.

Baca Juga :  Makan Sebelum Lapar, Berhenti Sebelum Kenyang, Hadis Atau Bukan?

Setelah mengalami pasang surut, Allah memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad untuk berhijrah ke Madinah. Dari titik ini Islam mulai berkembang. Sejumlah ayat – ayat tentang fikih ibadah pun diturunkan misalnya azan. Azan sendiri disyariatkan pada tahun 1 H. Fungsinya untuk menyeru umat Islam dan mengingatkan bahwa waktu solat telah tiba.

Dikisahkan dari Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami karya Manna’ Al- Qatthan, suatu ketika para Sahabat bermusyawarah mengenai bagaimana cara untuk memanggil para jamaah agar datang ke masjid. Sebagian Sahabat berpendapat untuk membunyikan lonceng seperti umat Nasrani, sebagian yang lain mengusulkan untuk  menggunakan terompet seperti umat Yahudi. Ada juga yang mengusulkan dengan menyalakan api.

Kemudian Abdullah bin Zaid menceritakan mimpinya pada Rasulullah bahwa ada seseorang yang membawa lonceng di tangannya. Dalam mimpinya Ibnu Zaid bertanya, “Wahai hamba Allah, apakah kamu hendak menjual lonceng itu ? Orang itu merespon “Akan digunakan untuk apa lonceng ini ? Ibnu Zaid menjawab “Kami akan menggunakannya untuk menyerukan shalat”. Ia berkata “Apakah boleh aku tunjukan padamu apa yang lebih baik dari itu ? Ibnu Zaid menyahut, “Tentu”.

Kemudian ia menjelaskan “Ucapkanlah : Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.  Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Asyhaduu allaa illaaha illallaah, Asyhaduu allaa illaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah, Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Hayya ‘alashshalaah, Hayya ‘alashshalaah. Hayya ‘alalfalaah, Hayya ‘alalfalaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah”
.

Menanggapi kisah Abdullah Ibnu Zaid, Rasulullah mengatakan bahwa apa yang dimimpikannya adalah sebuah kebenaran. Kemudian Rasulullah memintanya untuk pergi menemui Bilal bin Rabah, sebab Bilal adalah seorang pemilik suara yang paling lantang dan merdu. Mendapat kepercayaan dari Rasul, Bilal pun segera mengumandangkan azan. Ini sekaligus mengukuhkannya sebagai muazin Rasulullah yang akan terus mengumandangkan azan setiap waktu solat tiba. (Baca: Empat Muazin di Masa Rasulullah Selain Bilal bin Rabah)

Baca Juga :  Memahami Tiga Hikmah Membayar Zakat Versi Al-Ghazali

Ahmad bin Husain Al-‘Ubaidan dalam Bilal bin Rabah Al-Habsyi menjelaskan, bahwa Bilal diyakini sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan. Ia mendedikasikan dirinya sebagai muazin Rasulullah selama hidupnya dalam kondisi apapun entah itu dalam keadaan normal, saat perjalanan, bahkan saat perang sekalipun. Diriwayatkan juga bahwa Bilal adalah orang pertama yang mengumandangkan azan sholat dua ‘id.

Dalam sebuah riwayat diterangkan bahwa Rasulullah memiliki tiga orang muazin yakni Bilal bin Rabah, Abu Mahdzurah dan Amr bin Ummu Maktum. Bilal menempati posisi pertama, saat ia berhalangan hadir maka posisinya diganti oleh Abu Mahdzurah. Saat Abu Mahdzurah berhalangan hadir maka azan dikumandangkan oleh Amr bin Ummu Maktum.

Kekhasan suara milik Bilal telah banyak diketahui orang, sebelum Islam datang.  Abu Ali Hasan dalam Musnad Bilal menuturkan bahwa Bilal adalah seorang budak yang taat dan amanah terhadap majikannya. Sampai – sampai sang majikan yakni Umayyah bin Khalaf, mengikutsertakannya dalam sebuah kafilah dagang dari Makkah menuju Syam.

Dalam perjalanan ini, Bilal menunjukan kemerduan suaranya. Sehingga kafilah dagang tersebut terhibur, tidak merasa lelah padahal jarak yang ditempuh sangatlah jauh. Dikisahkan pula dalam sebuah perjalanan, Bilal pernah bertemu dengan seorang rahib yang memberitahukannya bahwa akan diutus seorang Nabi dari bangsa Arab. Dari kisah inilah kemudian Bilal mulai mencari sosok Nabi Muhammad Saw.

Soal tahun wafatnya, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan wafat di tahun 18 H, 17 H, 19 H, 20 H, 21 H dan 25 H. Namun mayoritas ulama meyakini bahwa tahun 20 H adalah yang paling shahih. Sebagaimana ada beragam pendapat soal tahun wafatnya, begitu pula tempat peristirahatan terakhirnya. Maqbarah Bab Shaghir, Maqbarah Bab Kisan, Maqbarah Khulan, Maqbarah Bab Arba’in adalah sederet nama pemakaman yang diyakini menjadi tempat dimakamkannya Bilal. Namun yang paling masyhur adalah di Bab Shaghir, Damaskus.

Baca Juga :  Nabi Melaksanakan Shalat Hingga Kakinya Bengkak

Dari kisah Bilal ini Islam mempertegas bahwa semua manusia itu sama, yang membedakan adalah ketakwaannya. Sebagaimana Bilal bin Rabah, meski sempat terdiskriminasi sebab berkulit hitam dan pernah merasakan getirnya menjadi seorang budak, namun tatkala Islamndatang, ia dipilih Rasul sebagai muazin. Tentu jabatan ini bukanlah jabatan sepele.

Selain itu, terlahir sebagai seorang budak tidak lantas menghalanginya untuk dapat mensyiarkan agama Islam. Keteguhan hatinya dalam beriman serta dedikasi tingginya untuk menemani dakwah Rasul sudah selayaknya menjadi teladan bagi kehidupan sehari – hari umat Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here