Pendapat Ulama Ahlus Sunnah tentang Konsep Bid’ah

0
2419

BincangSyariah.Com – Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki pernah menulis sebuah buku yang berjudul Mafhumul Bid’ah ‘Inda ‘Ulama’ al-Sunnah wa al-Jama’ah. Dalam karyanya, beliau merangkum beberapa kesimpulan ulama salaf terkait hadis Nabi yang melarang perbuatan bid’ah yakni:

كل محدثة بدعــة وكل بدعة ضلالة

 “Setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad)

Hadis tersebut tentu saja membutuhkan penjelasan yang lebih panjang, karena jika tidak, maka semua hal akan dianggap sebagai bid’ah sekalipun itu proses pengumpulan Alquran menjadi mushaf yang dilakukan oleh sahabat Abu Bakar al-Shiddiq. Beberapa ulama turut andil dalam proses penafsiran hadis tersebut sebagaimana dirangkum oleh Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki.

Pertama adalah Abu Sulaiman Ahmad ibn Muhammad al-Khattabi al-Busti (w.388), menurut beliau kata kullu muhdatsah bid’ah (setiap perkara baru adalah bid’ah) mengandung makna khusus untuk sebagian perkara saja, yaitu segala sesuatu yang diperbaharui atau diada-adakan tanpa ada dasar dalam agama, tanpa ada kriteria dan kesesuaian dengannya. Sebaliknya, jika sebuah perkara baru memiliki atau sesuai dengan dasar-dasar agama, dibangun di atas kaidah yang benar, maka itu bukan termasuk bid’ah.

Kedua, Muhyiddin Abu Zakariya al-Nawawi (w. 676 H) mengatakan bahwa dalam redaksi kullu bid’ah dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat) mengandung makna ‘am makhshush (umum yang dikhususkan)   artinya bahwa umumnya setiap bid’ah adalah kesesatan namun ada sebagian bid’ah yang tidak sesat. Mengutip pendapat ulama, menurut al-Nawawi bahwa bid’ah sendiri terbagi ke dalam lima kategori hukum. Wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah.

Bid’ah yang wajib seperti menyusun dalil-dalil sebagaimana yang dilakukan oleh mutakallimin untuk membantah argumentasi ateis, ahli bidah dan sejenisnya. Sedangkan bidah yang sunah seperti menyusun buku-buku pengetahuan, mendirikan madrasah-madrasah dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk mubah seperti berinovasi dalam menciptakan berbagai macam jenis makanan dan lain sebagainya. Terkait bidah yang haram dan yang makruh, dua hal ini telah jelas. Demikian penjelasan dari Imam al-Nawawi.

Baca Juga :  Asal Usul Perbedaan Qiraat dalam al-Quran

Ketiga, Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), menurut Ibn Hajar sebagaimana dikutip dalam Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari bahwa bid’ah itu terbagi ke dalam tiga bagian. Pertama adalah bid’ah yang sesat yaitu jika terdapat perbuatan baru yang dianggap buruk oleh syariat, maka itulah bid’ah yang sesat (bid’ah sayyi’ah), sebaliknya jika ada perbuatan baru yang dianggap baik oleh syariat, maka itulah bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Adapun jika ada suatu perkara baru yang tidak disebutkan oleh syariat maka menurut Ibn Hajar, hal tersebut masuk ke dalam kategori perkara mubah.

Keempat,  Abu al-Hasanat Muhammad ‘abd Hayy al-Luknawi (w. 1304 H), dalam memahami hadis di atas, al-Luknawi menyampaikan pendapatnya dengan menyimpulkan beberapa pemahaman ulama salaf terkait hal tersebut. Ia mengatakan:

“Ulama berbeda pendapat dalam hal ini ke dalam dua pendapat: Pendapat yang pertama: bahwa hadis (setiap bidah adalah sesat) adalah umum yang dikhususkan sebagiannya, yang dimaksud adalah bidah yang buruk, mereka juga membagi bidah ke dalam wajib, sunah, makruh, haram, dan mubah.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam “Hilyah al-Auliya’” dari al-Imam al-Syafi’i, beliau mengatakan: ‘yang diada-adakan itu ada dua macam: salah satunya adalah sesuatu yang diada-adakan yang bertolak belakang dengan Alquran atau sunah, atsar atau Ijma’, inilah yang disebut dengan bidah yang sesat.’ Yang kedua adalah kebaikan yang diada-adakan, perbuatan ini tidak tercela. ‘Umar ibn al-Khattab pernah mengatakan terkait salat malam di bulan Ramadan: ‘sebaik-baik bidah adalah ini’, yakni bahwa hal tersebut adalah suatu hal yang baru dan belum pernah ada sebelumnya.”

Penjelasan semacam ini pernah dikemukakan oleh al-Syaikh ‘Izz al-Din ibn ‘Abd al-Salam di dalam kitab “al-Qawa’id”,  oleh al-Nawawi di dalam “Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat”, ‘Ali al-Qari dalam “Syarh al-Misykat”, ibn Malik dalam kitab “Mabariq al-Azhar Syarh Masyariq al-Anwar”, al-Suyuthi di dalam risalahnya, “Hasan al-Maqsad fi ‘Amal al-Maulid”, juga dalam risalahnya yang lain, “al-Mashabih fi Salat al-Tarawih”. Demikian juga dengan al-Qishthalani di dalam “Irsyad al-Sari Syarh Shahih al-Bukhari”, al-Zarqani di dalam kitabnya “Syarh al-Muwaththa’”, al-Hafidz Abu Syamah di dalam kitabnya “al-Ba’its ‘Ala Inkar al-Bida’ wa al-Hawadits”, al-Halbi dalam Insan “al-‘Uyun fi Sirah al-Nabi al-Ma’mun”,  dan lain sebagainya. Berdasarkan pendapat ini maka bidah yang bertolak belakang dengan sunah adalah bidah yang makruh dan haram. Sedangkan selain dari keduanya tidak dianggap sebagai bidah yang buruk.

Baca Juga :  Ini Alasan Makruhnya Mencabut Uban dalam Islam

Pendapat yang kedua: yaitu pendapat yang lebih sahih, berdasarkan pengamatan yang mendalam terhadap hadis (setiap bidah adalah sesat) bahwa hadis tersebut tetap mengandung makna umum, maksudnya  adalah bidah dalam kacamata syariat. Yaitu perbuatan yang tidak dijumpai di periode-periode awal yang dikenal dengan periode yang terbaik dan juga tidak ditemukan dasar dari perbuatan tersebut dalam dasar-dasar syariat. Jadi dapat dipastikan bahwa setiap perbuatan yang sesuai dengan kriteria ini adalah perbuatan sesat. Pendapat ini didukung oleh al-Sayyid al-Sanad dalam kitab “Syarh al-Misykah”, al-Hafidz ibn Hajar dalam “Hady al-Sari Muqaddimah Fath al-Bari” juga di dalam “Fath al-Bari”, Ibn Hajar al-Haitami al-Maliki di dalam kitab “Al-Fath al-Mubin bi Syarh al-Arba’in”, dan lain sebagainya.”

Demikian pemaparan al-Luknawi ketika menjelasakan hadis bid’ah dalam riwayat di atas. Pada intinya menurut al-Luknawi, ulama terbagi ke dalam dua kelompok, kelompok pertama mengatakan hadis tersebut umum yang dikhususkan, dan kedua menganggap bahwa hadis tersebut tetap umum.

Pada dasarnya, ulama sepakat bahwa perbuatan baru yang tidak ada dasar pijakannya di dalam syariat Islam, maka itulah yang dianggap sebagai bid’ah, sebalikanya jika ada dasar pijakannya dalam syariat Islam, maka jangan buru-buru menganggap itu adalah bid’ah.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here