Bicara Islam Nusantara, Habib Luthfi Ceritakan Bagaimana Sunan Kudus Berdakwah

3
876

BincangSyariah.Com – Jika melihat Islam di nusantara, tidak lepas dari pengaruh Kerajaan Majapahi, Pajajaran, Blambangan, Mataram Kuno, Sriwijaya. Sehingga tidak bisa dengan gampang berdakwah seperti membalik telapak tangan. Saat ini pun pengaruh-pengaruh yang dahulu itu masih ada sebagian, dan untuk merubah sekaligus itu akan sulit.

Dulu sebelum melakukan dakwah Islam di Nusantara, Walisongi terlebih dahulu memahami keadaan sosiologi, antropologi masyarakat setempat. Meski wilayah serta adat istiadat berbeda, sejatinya Islam dimanapun tetap satu dan substansinya sama.

“Dalam berdakwah harus memperhatikan betul kultur, sosiologi, kearifan dan kebijakan di lingkungan tersebut. Itulah bagaimana cara berdakwah Rasulullah pada waktu itu,” ujar Habib Luthfi bin Yahya dalam wawancara eksklusif bersama detik.com, kemarin (02/01)

Kemudian Habib Luthfi menceritakan bagaimana cara Sunan Kudus dulu berdakwah di tengah-tengah masyarakat yang memiliki faham serta adat istiadat yang berbeda. Seperti kebiasaan memotong sapi, kerbau, kambing untuk kurban setiap idul adha. Sementara lingkup dakwah sunan kudus waktu itu mayoritas memiliki paham yang berbeda, dimana sapi menjadi satu hewan yang dikeramatkan.

“Bagaimana Sunan Kudus berhadapan dengan itu? harus bijaksana. Bagaimana beliau lalu menuntun sapinya ke langgar dalam, beliau khutbah sedikit memberitahukan agar tidak memotong sapi,” kata Habib Luthfi

Tindakan Sunan Kudus melarang memotong sapi bukan berarti mengharamkan sapi tapi untuk ishlah umat. Tapi berkat hal itu, lanjut Habib Luthfi, berduyun-duyunlah orang mendatangi Sunan Kudus, mereka merasa bersimpati. Bahkan sampai satu kerajaannya itu dikasih ke Sunan Kudus yang sekarang menjadi masjid merana kudus.

Kebijaksanaan yang luar biasa itu suatu contoh bagaimana Islam disyiarkan, karena itu etika berdakwah di Jawa Barat akan berbeda ketika di demak. “Jadi beginilah Islam di Nusantara, berbeda cara mendakwahkan Islam. Namun substansi Islamnya sama dimanapun,” kata Habib Luthfi.

Baca Juga :  Memahami Konflik Pembakaran Bendera

Hal ini tidak hanya di Indonesia, cara dakwah di India, Mesir, China juga berbeda sebab mereka pun memiliki adat istiadat pula. “Seperti Muslim Cina, apa bisa beliau makan pakai tangan? Tidak bisa. Orang bule pakai sendok. Tapi Islam bijaksana, kalau pakai sumpit atau sendok tinggal bilang bismillah. Substansi Islamnya sama di mana saja.”

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here