Besok Haul yang ke-50, Ini Profil Mama Ajengan Masthuro

1
980

BincangSyariah.Com – K.H. Muhammad Masthuro atau yang lebih dikenal dengan Mama Ajengan Masthuro dilahirkan pada tahun 1901 di Kampung Cikaroya, sebuah kampung yang bertetangga dengan Kampung Tipar, tempat Pondok Pesantren Al-Masthuriyah kini berada. Ayahnya bernama Amsol yang kesehariannya bertugas sebagai Amil atau Lebe yang mengurusi masalah keagamaan di desa. Ayahnya pada awalnya tinggal di Kuningan. Karena tidak ingin tunduk dengan penjajah, ia melarikan diri ke Bogor. Amsol sebenarnya adalah nama samaran dari Asror. Penggantian nama tersebut untuk menghindari pengejaran Belanda. Di Cimande, Bogor, ia kemudian memperoleh seorang istri bernama Eswi. Dari Ibu Eswi ini, beliau mendapatkan sepuluh anak, salah satunya adalah Muhammad Masthuro.

Riwayat Pendidikan

Beliau mulai belajar agama kepada ayahnya sendiri di usia enam tahun (1907). Di usia delapan tahun (1909), ia belajar di Pesantren Cibalung, Desa Talaga, Cibadak, Sukabumi dibawah asuhan K.H. Asy’ari. Di sini, ia selain belajar Quran juga mempelajari kitab-kitab kuning. Ia juga belajar kepada K.H. Kartobi, pengasuh pesantren Tipar Kulon. Setelah menyelesaikan sekolah di Rambay (selesai tahun 1914), ia belajar di Pesantren Babakan Kaum, Cicurug dibawah asuhan K.H. Hasan Basri. Ia juga belajar di Pesantren Karang Sirna, Cicurug dibawah asuhan K.H. Muhammad Kurdi. Setahun kemudian (1915), ia berpindah ke Pesantren Paledang, Cimahi, Cibadak dibawah asuhan K.H. Ghazali. Di tahun yang sama, ia berpindah ke Pesantren Sukamantri yang dipimpin K.H. Muhammad Sidiq. Di tahun 1916, beliau belajar dengan K.H. Munajak pengasuh Pesantren Pintuhek, Sukabumi. Dua tahun sesudahnya (1918), beliau belajar kitab-kitab dengan K.H. Ahmad Sanusi di Cantayan, Sukabumi dan selesai tahun 1920.

Selain belajar kepada kiai-kiai di sekitar Priangan tadi, beliau juga berguru kepada Habib Syekh bin Salim al-Attas. Habib Syekh merupakan guru dan panutan ajengan di Sukabumi. Di banyak riwayat tentang kisah Ajengan Masthuro, disebutkan bahwa Ajengan Masthuro adalah murid kesayangan Habib Syekh. Al-Habib melihat sifat-sifat mulia seperti tawadhu’ ikhlas, ta’dzim kepada guru, cerdas, dan sebagainya. Pada akhir hayatnya, beliau berwasiat untuk dimakamkan di samping makam muridnya tersebut. Saat ini Habib Syekh bin Salim bersebelahan dengan makam Ajengan Masthuro.

Baca Juga :  Berapa Tahun Rasulullah Berpuasa Ramadhan?

Mengembangkan Pesantren al-Masthuriyah

Pada tahun 1920, ia kembali ke kampung halamannya lalu mendirikan pesantren sebagai tempat pengamalan ilmunya dan pengabdiannya kepada masyarakat.

Kendatipun K.H. Masthuro sudah kembali ke kampungnya dan sudah mendirikan pesantren yang memiliki santri yang banyak serta menjadi ulama yang dihargai dan dihormati, dorongan untuk menuntut ilmunya tidak terhenti. Semangat memperdalam pengetahuan dan memperluas wawasannya tidak pernah padam. Beliau terus mengembangkan pesantren sampai beliau wafat di tahun 1968.

Pesantren yang bernama al-Masthuriyah akan berumur seratus tahun pada 2020, dan memiliki unit pendidikan yang lengkap dari jenjang PAUD sampai Perguruan Tinggi (STAI). Salah seorang putranya, KH E. Fachrudin Masthuro, pernah menjabat Wakil Rais ‘Aam PBNU. Hingga beliau wafat (2012), ia menjadi salah seorang Musytasyar PBNU. Saat ini, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh salah seorang keturunannya yakni KH Abdul Aziz Masthuro, adik almarhum KH Fakhruddin Masthuro yang pernah diberi amanat menjadi Wakil Rais ‘Aam PBNU.

Keteladanan Berdakwah, Menanam Islam Melalui Budaya

Ajengan Masthuro pernah menyambangi komunitas penggemar kidung Sunda; sekitar 4 km dari kediamannya. Sayangnya kegemaran tersebut membuat anggota komunitas terebut melalaikan tuntunan Islam, seperti shalat. Untuk mendekati mereka, ia mengajak temannya yang pandai melantunkan kidung Sunda. Keduanya mendatangi mereka dan turut memperbincangkan tembang. Hal itu menimbulkan simpati, apalagi ketika teman Ajengan Masthuro menyumbangkan sebuah kidung. Karena sudah simpati, mereka mudah diajak membaca Qul-hu (surat al-Ikhlas) dan mempelajari bacaan-bacaan shalat dan Al-Quran.

Beberapa Nasihat Penting

Salah satu hal menarik dari riwayat hidup KH. Masthuro adalah wasiat –amanat yang disampaikan sebelum ia wafat – kepada anak-anaknya dan mantu-mantunya, (dalam bahasa Sunda), yaitu:

1. Kudu ngahiji dina ngamajukeun Pesantren, Madrasah. Ulah Pagirang-girang tampian. (harus bersatu untuk kemajuan pesantren)

Baca Juga :  Kontribusi Ibnu Khaldun dalam Ilmu Sejarah

2) Ulah hasud (jangan hasud)

3) Kudu nutupan kaaeban batur (harus menutupi aib orang lain)

4.) Kudu silih pikanyaah (saling mengasihi)

5.) Kudu boga karep sarerea hayang mere (suka memberi)

6.) Kudu mapay thorekat anu geus dijalankeun ku Abah (harus mengikuti tarekat KH Masthuro).

Karya Tulis

Beliau menulis kitab berjudul Kayfiyyatu al-Shalat dalam bahasa Arab dan diterjemahkan dalam bahasa Sunda beraksara Arab (Arab Pegon), setebal 98 halaman. Pada halaman awalnya, tertulis judul “Kayfiyyatu al-Shalat wa Manquulatun Muhimmatun min al-Kutub al-Syafi’iyyah (Tata Cara Shalat dan Kutipan-Kutipan Penting dari Aneka Kitab Mazhab Syafi’i).

“Kaifiyyatus Shalât” berisi tuntutan melaksanakan sembahyang (bershalat) menurut fiqih madzhab Syafi’I, termasuk di dalamnya adalah hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti syarat sah, syarat wajib, rukun, sunnah, makruh, perkara-perkara yang membatalkan shalat, doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca, dan lain-lain.

Di antara referensi yang menjadi acuan Ajengan Masthuro dalam menyusun karya ini adalah “Hasyiah al-Bayjuri” karangan Syekh Ibrahim al-Bayjuri al-Azhari, “Syarh Fathul Mu’in” karangan Syekh Zainuddin al-Malibari dan hasyiyah-nya “I’anah al-Thalibin” karangan Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha, “Syarh al-Manhaj al-Qawim” karangan Ibn Hajar al-Haitamî, “Ihya ‘Ulumid Din” karangan al-Imam al-Ghazzali, “al-Adzkar al-Nawawiyyah” karangan al-Imam al-Nawawi al-Dimasyqi, “Muraqil ‘Ubudiyyah” karangan Syekh Nawawi Banten, dan lain-lain.

Wafat dan Haul

K.H. Muhammad Masthuro wafat pada Sabtu 27 Rajab 1388 H. Pada hari Sabtu, 30 Maret 2019, akan diperingati haul-nya yang ke-50. Acara dipusatkan di Pesantren al-Masthuriyah, Cisaat, Sukabumi.

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di www.harakahislamiyah.com

1 KOMENTAR

  1. baitul hikmah wa baitul arqom
    ane pilih di bu hajjah habibah.
    pdhl aki di cisaat pasar ikan..
    dug dag juga bisa.
    tpi berkah pondok luar biasa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here