Berusaha Menjadi Kekasih Allah

0
320

BincangSyariah.Com – Kekasih Allah, dalam bahasa Arab, disebut waliyullah. Bentuk jamaknya adalah auliya Allah. bila seseorang sudah menjadi kekasih-Nya, dia akan memperoleh beberapa keistimewaan. Pertama, Allah akan member rezeki untuknya dari tempat yang tidak terduga. Kedua, doa mereka makbul.

Oleh sebab itu, jika kita bertemu seseorang dan yakin bahwa orang itu wali Allah, mintalah doa kepadanya. Ketiga, kehadirannya mendatangkan berkah bagi tempat di sekitarnya. Dalam Madarij as-Salikin, Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah menyebut beberapa ciri-ciri wali Allah.

Pertama, wali Allah adalah orang yang sangat dekat dengan kaum fakir miskin. Orang seperti itu jika berbuat dosa maka akan diampuni oleh Allah SWT. Abu Abdurrahman as-Sullami adalah tokoh besar tasawuf pada abad kelima Hijri. Ia menulis banyak kitab tentang tasawuf. Salah satu di antaranya, al-Muqaddimah fi al-Tasawwuf, menjadi khazanah klasik bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejak para arifin.

Dalam kitab itu disebutkan akhlak pokok yang harus dimiliki seorang sufi. Salah satu di antaranya adalah as-sakha ‘kedermawanan’. Dalam hal ini, as-Sulami mengutip hadis Nabi SAW yang bersabda: “Kedermawanan adalah pohon yang kokoh di surga. Tidak akan masuk surga kecuali orang yang dermawan. Kebakhilan adalah pohon neraka. Tidak akan masuk neraka kecuali karena kebakhilannya.”

Ada seorang Yahudi ketika akan dihukum mati oleh karena golongannya berkhianat kepada Rasulullah. Saat penghukuman mati, Jibril datang menemui Rasulullah seraya meminta seorang tawanan Yahudi tersebut dibebaskan karena ia senang menjamu tamu dan suka menolong fakir miskin. Setelah itu Rasul menghampiri tawanan tersebut dan berkata, ‘Baru saja Jibril datang kepadaku dan aku akan bebaskan kamu.’ Tawanan itu bertanya, ‘Mengapa?’ Karena engkau suka menjamu tamu dan membantu fakir miskin. Ketika itu juga, si Yahudi masuk Islam. Orang Yahudi itu dimaafkan karena sifat kedermawanannya. Jika kita ingin menjadi kekasih Allah tetapi kita sulit berdzikir dan salat malam, cara yang paling baik ialah memberikan sebagian harta kita kepada kaum fakir miskin.

Baca Juga :  Tips Berteman Menurut Ibnu Athaillah

Kedua, wali Allah ialah anak muda yang taat beribadat kepada Allah. Dia persembahkan masa muda dan ketegapan tubuhnya untuk Allah. Dalam salah satu hadis disebutkan, ‘Tidak ada yang paling dicintai Allah selain pemuda yang sudah kembali kepada Allah dan tidak ada yang paling dibenci Allah selain orang tua yang terus menerus melakukan kemaksiatan.’Jika ada anak yang masih kecil sudah taat kepada Allah dan rajin membaca Alquran, dekatilah ia. Ia akan menyebarkan berkah kepada kita.

Dalam hadis lain disebutkan: “sesungguhnya makhluk yang paling dicintai Allah adalah anak muda yang belia usianya, tegap tubuhnya, yang mempersembahkan kepemudaan dan ketegapannya untuk taat kepada Allah. Itulah orang yang dibanggakan Allah di hadapan para malaikat-Nya. Dikumpulkannya para malaikat itu, kemudian Allah berfirman: ‘Inilah hamba-Ku yang sebenarnya’. ”

Kita mungkin pernah mendengar hadis yang bercerita mengenai tujuh orang yang mendapatkan perlindungan di hari kiamat saat yang lain tidak mendapatkannya. Tampaknya semua itu sangat sulit kita amalkan, kecuali satu hal, yaitu menjadi anak muda yang tumbuh besar dengan ketaatan kepada Allah SWT.

Salah satu sifat yang disebutkan dalam hadis tersebut yang sulit kita amalkan ialah menjadi pemimpin yang adil. Jangankan menjadi pemimpin Islam; menjadi pemimpin parpol Islam saja sulit. Sifat lain ialah menolak rayuan perempuan cantik yang berpangkat tinggi karena takut kepada Allah. Jangankan bisa menolak, perempuan jelek yang berpangkat rendah pun tak pernah merayu kita.

Tampaknya agak sulit bagi kita untuk menjadi salah satu dari tujuh kelompok tersebut, kecuali menjadi anak muda yang tumbuh besar dengan ketaatan kepada Allah SWT. Pertanyaannya, mengapa pemuda yang saleh dijadikan kekasih Allah SWT. Kita tahu bahwa dalam pandangan Islam hidup adalah perjalanan menuju Allah, dari lempung yang kotor dan air yang hina menuju Allah yang Maha Suci. Umur adalah masa yang kita ambil dalam perjalanan itu.

Baca Juga :  Benarkah Mabuk Cinta Tanda Kekosongan Hati?

Keberhasilan kita dalam perjalanan diukur dari jumlah kilometer yang telah kita tempuh dalam masa (umur) tertentu. Bayangkanlah berbagai macam mobil menuju jalan tol menuju Jakarta. Ada mobil yang jalannya lambat sekali sehingga dalam waktu satu jam baru menempuh 40 km, masih sangat jauh dari tujuan. Ada mobil yang berjalan sangat cepat. Dalam waktu satu jam ia sudah menempuh 100 km, sudah hampir mencapai tujuan. Mobil jenis yang kedua itulah pemuda. Umur mereka masih sedikit, tapi perjalanan mereka sudah dekat dengan Tujuan (Allah SWT).

Simpulnya bila kita mencari wali Allah untuk memohon doa atau mengambil berkah, carilah pemuda-pemuda yang saleh, yang menghabiskan sebagian malam dalam rukuk dan sujud di hadapan Allah, yang mempersembahkan kemudaan dan kecantikannya untuk berbakti kepada Allah, yang mengendalikan hawa nafsunya dan menjaga kesucian dirinya di tengah-tengah godaan di sekitarnya. Atau carilah orang-orang yang dermawan, yang mudah memberikan pertolongan, yang mengutamakan orang lain walaupun dirinya mendapat kesusahan, yang menjadi tempat berlindung siapa saja yang menderita kesusahan.

Seperti sufi yang mencari kekasih Allah di masjid-masjid dan tidak menemukannya, kita pun akan sebaiknya tidak mencari wali di mesjid. Carilah wali di tengah-tengah himpunan anak muda yang saleh; atau di tengah-tengah mereka yang hancur hatinya. Allahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.