Bersih di Era Pandemi: Memahami Al-Mutathahhir dalam Surah Al-Baqarah: 222

0
830

BincangSyariah.Com – Semenjak wabah muncul, kehidupan manusia di seantero dunia dengan segala aspeknya, seketika berubah darastis baik pada aspek sosial, ekonomi, bahkan sampai pola hidup. Wabah yang menyebar secara masif kemudian memicu terhadap timbulnya kepanikan yang cukup kentara di tengah masyarakat luas.

Sebagai langkah preventif, pemerintah menerbitkan protokol kesehatan agar dapat dijadikan acuan yang harus dipatuhi oleh masyarakat dalam mencegah dan menjaga diri dari terjangkitnya wabah. Di antanya adalah membiasakan pola hidup bersih. Yang secara spesifik, diaplikasikan dengan rutinitas mencuci kedua tangan menggunakan sabun dan atau cairan pembersih tangan serta mematuhi kebijakan jaga jarak (Pysical Distancing) antar satu sama lain dengan cara menghindari kerumunan.

Namun kepedulian masyarakat sendiri terhadap protokol yang telah ditetapkan oleh pemerintah masih terbilang lemah. Pasalnya, Mereka tidak begitu pro aktif dan responsif terhadap peraturan yang telah dibuat, Lebih-lebih mereka yang sedikit apatis terhadap realita pandemi saat ini, mereka melakukan propaganda seolah-olah mereka menganggap bahwa adanya wabah tak lebih dari sekadar rumor belaka. (Baca: Untuk Membersihkan Hati Berkarat karena Dosa, Bacalah Doa Ini)

Hal ini dapat dibuktikan dengan ketidakpedulian terhadap fasilitas-fasilitas kebersihan yang berada di tempat-tempat umum seperti halnya rumah sakit, swalayan dan lain sebagainya. Mereka juga nekat memilih untuk mendatangi atau bahkan membuat kerumunan dengan alasan teologis dan lain-lain untuk menjustifikasi langkahnya. Kendati demikian, langkah semacam ini tidaklah sesuai dengan Maqasid As-Syariah yang memprioritaskan Hifdzu An-Nafs atau menjaga jiwa.

Selanjutnya, pola hidup suci dan bersih merupakan hal yang sangat fundamental dan menjadi salah satu komoditas utama dalam agama Islam itu sendiri. Dalam beberapa literatur islam  juga menjadikannya sebagai topik utama, seperti literatur fiqih dan lain sebagainya. Islam sangatlah mendorong umatnya untuk senantiasa selalu bersih dan suci. Utamanya ketika hendak melaksanakan ibadah.

Baca Juga :  Persekutuan Kepemilikan dan Hak Anggota

Syekh Sayyid Sabiq telah menegaskan bahwa Allah Swt. mengutus Nabi Muhammad Saw dengan membawa agama yang suci lagi penuh kelapangan, beserta syariah yang lengkap dan menyeluruh yang menjamin kehidupan bersih dan lagi mulia bagi manusia. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai oleh risalah islam adalah membersihkan dan dan juga menyucikan jiwa dengan mengenal Allah dan mengokohkan hubungan antar manusia serta menegakkannya dalam kehidupan. lantas bagaimana bersih dan suci dipahami oleh islam melalui kitab suci?

Di dalam literatur islam, bersih dikenal dengan At-Thaharah, bentuk derivatif dari kata Thahara-yathhuru-Thaharatan, yang berarti An-Nadzafah yaitu bersih dari kotoran. Sedang Al-Quran menyebut orang-orang yang membersihkan diri dengan sebutan Al-Mutathahhirun  atau Al-Mutthahhirun, yang juga memiliki akar kata yang sama dengan At-Thaharah. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 222

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

innallāha yuḥibbut-tawwābīna wa yuḥibbul-mutaṭahhirīn

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.

Adapun At-Thaharah atau bersih, terbagi menjadi dua, yaitu bersih secara jasmani (eksplisit) dan ruhani (implisit). Pertama, bersih secara jasmani (eksplisit), dimana Lafadz Al-Mutatahhirun dimaknai sebagai orang-orang yang membersihkan dan menyucikan dirinya dari najis atau junub dengan menggunakan air. Pendapat tersebut yang dipegang oleh ‘Atha’ beserta kawan-kawannya kemudian ditegaskan oleh At-Thabari dalam kitabnya Jami’ Al-Bayan ‘An Ta’wiil Aayi Al-Qur’an. Beliau mengatakan bahwa secara tekstual ayat tersebut menerangkan tentang problematika menjimak istri yang sedang menstruasi. Yaitu sang suami dilarang menjimak istrinya selagi masih dalam keadaan Menstruasi dan atau belum bersuci.

Dalam hal ini, Al-Qur’an memberikan pengertian yang lebih luas dari pada sekedar membasuh tangan sebagaimana yang kita terapkan akhir-akhir ini. Pandemi telah membuka kembali mata kita sekaligus menyadarkan bahwa betapa urgennya kebersihan itu. Pola hidup bersih merupakan salah satu alternatif bagi kita menuju kehidupan yang sehat dan menjadi media untuk membentengi diri dari segala penyakit. Oleh sebab pandemi tersebut, setidaknya kita dapat terbiasa hidup bersih dan sehat sehingga dapat menguatkan ibadah kita dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Baca Juga :  Rumi dan Konsep Cintanya Sebagai Dasar Metafisika

Kedua, bersih secara ruhani (implisit). Lafadz Al-Mutathahhirun  dipahami sebagai orang-orang yang membersihkan diri dari segala dosa untuk tidak mengulangi kembali. Pendapat berikut dipegang oleh  Mujahid  yang diikuti oleh tokoh bernama Musthafa Al-Maraghi yang dipaparkan dalam karya monumentalnya Tafsir Al-Maraghi pendapat tersebut juga ditegaskan oleh al-Alusi melalui komentarnya  bahwa lafadz At-Tathhir  mengandung arti majas (kiasan) yaitu bersih secara ruhani. Oleh karena itu perbuatan dosa dianggap sebagai kotoran atau najis  yang melekat dalam ruhani seseorang. Maka tatkala kotoran itu ditinggalkan niscaya ruhani kita akan menjadi bersih dan suci.

Disadari atau tidak, ditengah pandemi ini kita acapkali menjumpai beberapa oknum yang melakukan beberapa perbuatan dosa dan dilarang oleh syari’at dengan adanya sederet peristiwa stigmatisasi antara satu sama lain. Rasa kemanusiaan sedikit demi sedikit mulai diabaikan, solidaritas sudah enggan diprioritaskan untuk menolong orang-orang yang terdampak wabah, dan justru malah melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang lain. Mulai dari fenomena penolakan terhadap penguburan korban jenazah hingga penimbunan barang (Ihtikar) –yang memang dilarang oleh syariat Islam- untuk dimanfaatkan dan atau dijual kembali pada masa kondisi benar-benar krisis, dimana orang-orang mulai tidak menemukan akses untuk mendapatkan bahan pokok untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dari sini, sebenarnya Al-Qur’an telah memberikan pemahaman yang lebih universal kepada kita dan menyeret kita untuk senantiasa meneguhkan segala lini kehidupan dengan betul-betul menjaga kebersihan baik lahir maupun batin. Era tersebut sebetulnya juga telah mengajak kita untuk kembali membiasakan pola hidup bersih, mendisiplinkan diri sendiri, serta mengatur pola hidup secara proporsional. Semoga kita termasuk golongan dari Al-Mutathahhirun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here