Berjihad Merajut Perdamaian dalam Amar Ma’ruf Nahi Munkar

0
37

BincangSyariah.Com – Forum pembelajaran Dialogue Positive menyelenggarakan kajian daring bertajuk Berjihad Merajut Perdamaian yang menghadirkan Musdah Mulia, seorang aktivis perempuan, peneliti, konselor, dan penulis di bidang agama Islam pada Selasa, 29 September 2020.

Musdah Mulia adalah Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Sekretaris Jendral ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace), dan pernah menjabat sebagai Ahli Peneliti Utama Bidang Lektur Keagamaan, Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Departemen Agama.

Dalam pemaparannya tentang berjihad merajut perdamaian, Musdah Mulia merujuk ke berbagai ayat di Al-Qur’an dan hadits sahih. Saat menjelaskan arti “jihad” yang sebenarnya, dan apa yang dimaksud dengan “kafir”, ia menyatakan bahwa ada 48 makna “kafir” dalam al Qur’an. Penjelasannya tercantum dalam buku Ensiklopedi Muslimah Reformis (2020) dalam bab Berjihad Merajut Perdamaian yang serupa dengan judul acara.

Musdah menambahkan bahwa apa yang sering dikumandangkan yakni “Amar Ma’ruf” dan “Nahi Munkar” yang seringkali digunakan untuk memaksakan kehendak demi kepentingan kelompok tertentu mesti dimaknai kembali dan diingatkan kembali tentang maksud dan arti yang sebenarnya.

Salah satu arti kata kafir adalah mereka yang tertutup hatinya dari kebenaran. Maka, arti tersebut juga berlaku untuk umat Islam sendiri, misalnya dalam tindakan korupsi yang menggunakan uang rakyat dengan semena-mena dan para manusia yang mengeksploitasi alam habis-habisan hanya demi kepentingannya sendiri.

Musdah Mulia melanjutkan dengan pemaparan tentang kata jihad. Jihad adalah upaya untuk mendorong umat mencapai puncak kejayaan kebudayaan dan peradaban. Misalnya, peranan Ibnu Sina di bidang kedokteran di abad ke-10/11;  Al-Khawarizmi di bidang matematika, geografi, astronomi di abad-8/9; Ibnu Kaldun di bidang sejarah dan sosiologi Islam di abad ke-14 dan lain-lain.

Baca Juga :  Tiga Keutamaan Orang Miskin yang Tidak Didapatkan Orang Kaya

Kata jihad akan bermakna positif-konstruktif saat diartikan dalam pengertian meningkatkan kualitas diri dan masyarakat. Oleh karena itulah umat Islam dikenal sebagai masyarakat rahmatan lil’alamin. Kata jihad lalu mengalami degradasi makna. Saat ini, jihad hanya diartikan sebagai perintah perang yang seringkali berakhir dengan penghancuran peradaban manusia.

Selanjutnya, Musdah Mulisa menjelaskan tentang amar ma’ruf yang merupakan upaya-upaya transformasi untuk meningkatkan kualitas diri, fisik, intelektual, emosi dan spiritual, dan kudhu diberlakukan kepada diri sendiri terlebih dahulu.

Sementara itu, nahi munkar adalah upaya memanusiakan manusia atau humanisasi.  Melalui edukasi, advokasi, pelatihan, ini semua adalah upaya untuk mengeliminasi semua bentuk eksploitasi, dominasi satu pihak terhadap yang lain, dan segala manifestasi ketidakbenaran.

Menurut Musdah Mulia, kedua hal tersebut harus dilakukan setiap Muslim untuk diri sendiri secara kontinu, tidak henti-hentinya. Is berpesan agar memulai berjihad dengan diri sendiri dahulu.  Kalau terhadap orang lain, baik Muslim maupun non-Muslim, sudah banyak hadits yang mensyaratkan bahwa seorang Muslim harus bersikap hati-hati dan hanya boleh dengan maksud membantu atau melindungi.

Sebagai khalifahNya di bumi, manusia pun harus berjihad untuk alam semesta, sebab manusia punya tanggungjawab mengelola dan menjaga kelestarian alam semesta dan bumi tempat manusia hidup.

Musdah juga menjelaskan bahwa jihad akbar yang disebutkan oleh Rasulullah Saw. adalah jihad melawan atau memerangi hawa nafsu. Jihad dalam artia inilah yang paling sulit, sebab harus melawan godaan diri sendiri yang berusaha menjustifikasi tindakan-tindakan yang dilakukan dengan logis atau akal.

Musdah mulia menyimpulkan dalam pemaparan tentang berjihad merajut perdamaian bahwa jihad menurutnya adalah upaya sungguh-sungguh dengan mengerahkan semua potensi baik lahir dan batin, namun tetap mengedepankan cara-cara yang santun dan beradab, baik secara individu maupun komunal.

Baca Juga :  Apakah Meninggalkan Pekerjaan Termasuk Bagian dari Tawakal pada Allah?

Baginya, hal tersebut mesti dilakukan untuk mengeliminasi segala bentuk ketidak adilan, kezaliman, diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan terhadap sesama manusia, khususnya kelompok rentan, maupun terhadap alam semesta.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here