Berhati-hatilah Mengucapkan Talak

2
578

BincangSyariah.Com – Diriwayatkan bahwa Isa ibn Musa (seorang yang hidup pada masa kekhalifahan Mansur, salah seorang khalifah Bani Abbasiyah) sangat mencintai istrinya. Namun entah kenapa, tanpa dikira sebelumnya tiba-tiba saja dia mengucapkan lafaz talak kepada sang istri. Dia berkata, “Istriku, jika kamu tidak lebih cantik dari bulan, maka saya akan menalakmu”. Mendengar ucapan suaminya, sang istri terperanjat dan langsung berhijab darinya. Lalu ia berkata, “Engkau telah menjatuhkan talak kepada saya (maka saya tidak lagi halal bagi engkau)”.

Malam pun berlalu. Keesokan harinya Isa ibn Musa tergopoh-gopoh pergi mendatangi khalifah Mansur dan memberitahukan perihalnya kepada sang khalifah. Ia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, jika talak yang saya ucapkan tadi malam jatuh, maka bisa-bisa saya akan binasa karena menahan hasrat ini. Lebih baik saya mati daripada menanggung beban derita yang amat berat ini”. Sang Khalifah melihat kegalauan yang sangat dalam dari raut muka Isa. Karena merasa kasihan, sang khalifah pun mengundang para ahli fikih untuk mengklarifikasi apakah talak yang dia ucapkan tadi malam dianggap jatuh atau tidak terhadap istrinya.

Pada hari yang telah ditentukan, semua ahli fikih yang diundang pun hadir. Ketika persoalan tersebut ditanyakan oleh khalifah kepada mereka, hampir semua mereka sepakat menjawab bahwa talak tersebut jatuh dan Isa, menurut mereka, tidak lagi berstatus sebagai suami dari perempuan tersebut. Namun ada seorang ulama yang diam tanpa bergeming seolah tidak menganggap bahwa lafaz talak seperti itu tidak jatuh dan Isa masih berstatus sebagai suami dari sang perempuan.

Melihat gelagat dari ulama yang juga merupakan sahabat dari Imam Abu Hanifah tersebut, sang khalifah pun bertanya, “Apa yang membuat Anda diam saja tanpa bergeming?”. Lantas dia menjawab sembari membaca empat ayat pertama dari Surah al-Tiin, “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi Gunung Sinai. Dan demi negeri Mekkah yang aman ini. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Dia menekankan tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang lebih cantik dan elok ketimbang manusia.

Baca Juga :  Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis

Tanpa berpikir panjang, Khalifah Mansur menyimpulkan bahwa talak Isa tidak jatuh, karena walau bagaimanapun istrinya pasti lebih cantik ketimbang bulan sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah yang dibacakan sang ulama tadi. Khalifah berkata kepada Isa, “Selamat Isa, Allah telah mencabut kegalauanmu. Ternyata istrimu jauh lebih indah dari bulan. Pulang dan jagalah istrimu dengan baik!”. Setelah itu Khalifah juga berkirim surat kepada istri Isa yang intinya memberitahukan bahwa suaminya tidak jadi menalaknya.

(Disarikan langsung dari buku Alf Qisshah wa Qisshah karya Hani al-Hajj, hal 12).

 

2 KOMENTAR

  1. Ni saya mau nnya apa hukumnya bagi suami berkata. Bahwa dia akah menikah lagi dg sorng janda d tnggal wafat dan mnpunyai anak tiga sdang k hidupan suami ni pnya istri dan anak hidupnya pas2 dia ingin berkahnya dri anak yatim. Cuma masalahnya apa harus ibunya d nikahi. Tp kta istrinya kita santuni aja tpi jg suami mu sma ibu gimna menurut dri hukum islam. Suaminya sdah tdk prnah sholat, apa lg puasa sdangkan istrinya sdah mengingatnya sholat, puasa tpi jawab suami mau mnta berkahnya dri 2istrinya. Tpi dlm hati istri prtama tdk iklas. Gimna jawabnya. Wassallm

  2. Untuk melakukan poligami, suami diwajibkan izin pada istri pertama dan diajukan ke pengadilan. Jika alasan poligaimi adalah untuk menyantuni anak yatim dengan menikahi ibunya, saya yakin pengadilan akan menolak. Kami sependapat dengan pandangan ibu, bila ingin menyantuni anak yatim, ya santuni saja anak yatimnya, tak perlu menikahi ibunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.