Kaidah Tafsir: Bentuk Mufrad dan Jamak dalam Al-Qur’an

0
291

BincangSyariah.Com – Sebagian lafaz al-Quran disebutkan dalam bentuk mufrad untuk makna tertentu dan dalam bentuk jamak untuk isyarat tertentu bahkan terkadang bentuk jamaknya berpengaruh terhadap mufradnya atau sebaliknya.

Manna’ Khalil al-Qattan menjelaskan kaidah mufrad dan jamak lafaz al-Quran dalam kitabnya Mabahits fii Ulumil Quran. Sebagian dari lafaz al-Quran tidak disebutkan kecuali dalam bentuk jamak. Ketika dikehendaki bentuk mufradnya maka menggunakan lafaz lain seperti lafaz al-lubb. Lafaz tersebut hanya digunakan dalam bentuk jamak di dalam al-Quran, seperti firman Allah;

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS: Az-Zumar [39]: 21)

Lafaz al-lubb hanya digunakan dalam bentuk jamak. Apabila dikehendaki bentuk mufradnya maka yang digunakan lafaz sinonimnya yaitu al-qalb seperti firman Allah;

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS: Adz-Dzariyat [50]: 37)

Begitu pula dengan lafaz al-kub, ia hanya disebutkan dalam bentuk jamak. Seperti ayat;

وَأَكْوَابٌ مَّوْضُوْعَةٌ

“Dan gelas-gelas yang tersedia (di dekatnya).” (QS: Al-Ghasyiyah [88]: 14)

Kebalikan dari yang di atas adalah lafaz yang hanya disebutkan dalam bentuk mufradnya yaitu lafaz al-ardlu. Sedangkan lafaz al-sama’ kadang disebutkan dalam bentuk mufrad kadang pula dalam bentuk jamak. Ketika yang dikehendaki adalah bilangan maka digunakan dalam bentuk jamak yang menujukkan luas dan banyaknya keagungan Allah seperti ayat;

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

‘Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah.” (QS: Al-Hadid [57]: 1)

Baca Juga :  Sembilan Peristiwa Sejarah Islam di Bulan Jumadil Ula

Sedangkan bentuk mufradnya untuk menunjukkan arah, seperti firman Allah;

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi.” (QS: Al-Mulk [67]: 16)

Begitu pula lafaz al-riih kadang disebutkan dalam bentuk mufrad atau jamak. Lafaz mufrad digunakan dalam konteks siksa sedangkan bentuk jamak dalam konteks rahmat. Lafaz al-nur selalu disebutkan dalam bentuk mufrad sedangkan al-dzulumat dalam bentu jamak.

Adapun lafaz sabil jika beriringan dengan lafaz haqq, maka ia selalu dalam bentuk mufrad. Jika diiringi dengan lafaz bathil maka digunakanlah lafaz jamak.

Hal ini menunjukkan bahwa jalan kebenaran hanyalah satu sedang jalan kebathilan bermacam-macam. Oleh karena itu, lafaz waliyyul mu’minin selalu dalam bentuk mufrad sedangkan waliyyul kafirin dalam bentuk jamak.

Adapun lafaz masyriq dan maghrib disebutkan dalam bentuk mufrad, mutsanna dan jamak. Bentuk mufrad menunjukkan arah timur dan barat. Sementara itu, bentuk mutsanna (dual) untuk menunjukkan dua tempat terbit dan terbenamnya musim dingin dan panas. Bentuk jamaknya untuk terbit dan terbenamnya matahari, bulan dan bintang setiap hari.

Kaidah ini tentu akan memberikan kemudahan bagi orang yang ingin mendalami makna ayat al-Quran dengan baik dan benar. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here