Benih Teori Evolusi di Tubuh Pemikir Islam Abad Pertengahan

2
320

BincangSyariah.com- Pada masa Golden Age peradaban islam, di abad ke-8 hingga 10 Masehi, berdiri sebuah organisasi yang diisi oleh para ilmuwan dan pemikir bernama Ikhwan As-Shafa (persaudaraan kebijaksanaan). Secara umum organisasi ini menggaungkan visi menciptakan relasi yang harmonis antar berbagai kelembagaan pemikiran yang ada. Mulai dari pandangan Islam, Gnostisisme, Hermetik hingga Astrologi.

Organisasi ini adalah organisasi rahasia yang berjalan selama sekitar tiga abad, dengan tetap menyembunyikan identitas anggota-anggota di dalamnya. Akan tetapi organisasi ini meninggalkan banyak karya tulis yang terhimpun dalam Rasail Ikhwan As-Shafa.

Pemikiran kelompok ini tidak secara ketat mengikatkan diri pada interpretasi teks keagamaan klasik, melainkan juga mengadopsi observasi rasional, progress eksperimental hingga pandangan-pandangan mistik dan serapan dari berbagai agama lain.

Teori Evolusi adalah satu progress dan basis perkembangan sains yang sangat keras berserempert dengan teks agama, atau setidaknya interpretasi klasik terhadapnya. Di Indonesia bahkan evolusi masih menjadi hal yang tabu untuk dibahas, keberadaannya dalam kurikulum pendidikan pun seringkali dipandang secara sinis.

Akan tetapi sinisme semacam ini tentu tidak akan muncul dalam gaya berpikir yang diusung Ikhwan As-Shafa. Tidak mengherankan jika temuan Sains abad pertengahan yang menjadi benih bagi teori evolusi modern dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Ikhwan As-Shafa.

Tulisan ini tidak hendak mengupayakan glorifikasi peranan peradaban islam secara berlebihan, atau kemudian menihilkan peranan dan keterlibatan ilmuwan Eropa dalam rangka merumuskan dan membuktikan teori evolusi dalam beberapa abad kebelakang. Penulis tidak hendak menyatakan bahwa temuan Sains di era golden Age itu sudah sempurna dan Ilmuwan Eropa hanya menyonteknya. Pandangan ini tentu sangat menggelikan.

Teori evolusi adalah temuan sains yang bersifat progresif, dibahas dan disempurnakan dari waktu ke waktu. Jadi wajar jika sebelum kemudian menjadi rumusan yang sebaik sekarang, benih pembahasannya turut dibahas pada masa golden age peradaban Islam. (Baca: Catatan Atas Buku Sains Religius Agama Saintifik Karya Haidar Bagir dan Ulil Abshar)

Baca Juga :  Shalat Tarawih di Rumah pada Masa Rasulullah

Inti dari teori evolusi adalah keberadaan “proses” dan “kemajuan” (development) panjang dalam terbentuknya kehidupan dari tingkat sederhana ke tingkat dengan kompleksitas paling puncak (dalam hal ini manusia). Dengan demikian, makhluk hidup tidak terbentuk langsung jadi seperti bagaimana ia terlihat sekarang.

Keberadaan proses dan tahap kemajuan terlihat jelas dalam buku kedua dari Rasail Ikhwan As-Shafa, yang membahas perkembangan alam dari tahap abiotik (mineral) ke tahap biotik (makhluk hidup). Dilanjutkan dengan pembahasan unsur biotik sederhana (dunia tumbuhan), biotik pertengahan (dunia binatang) hingga biotik paling kompleks (manusia). Hanya saja pemikiran Ikhwan As-Shafa tidak sepenuhnya berpegang pada observasi empirik dan rasional, melainkan juga memasukkan pandangan hermetic dan agama.

Dalam buku ini, manusia tidak diposisikan sebagai puncak kesadaran, tetapi di atas masih ada tingkat malaikat yang memiliki kesadaran dan kehidupan yang lebih komplek bagi manusia. Adapun pembahasan Sains modern tentu sama sekali tidak mengaitkan Development kehidupan sampai kepada tingkat kehidupan gaib seperti ini.

Dalam risalah tersebut dibahas secara panjang lebar bahwa ada proses peralihan dari unsur abiotic berupa mineral tertentu yang terkonversi menjadi kehidupan paling sederhana, berupa kemampuan untuk tumbuh dan memperbanyak diri, yaitu tamanan paling sederhana seperti rumput atau alga.

Tanaman sederhana kemudian berkembang menjadi tanaman yang paling kompleks seperti pepohonan. Tingkat kehidupan ini telah memiliki kepekaan terhadap lingkungan melalui kulitnya. Sehingga ia dapat menyesuaikan diri dengan cuaca dan musim.

Tanaman paling kompleks kemudian berkembang lagi menjadi tingkat binatang paling sederhana yang memiliki kepekaan yang lebih lengkap seperti penglihatan, penciuman dan pendengaran. Tingkat kehidupan ini juga memiliki kemampuan bergerak. Lalu ia berkembang menjadi tingkat binatang paling kompleks yaitu bangsa kera yang secara anatomi sangat mirip dengan manusia, mampu berkomunikasi secara sederhana dan memanfaatkan benda di sekitarnya seperti batu dan ranting kayu.

Baca Juga :  Imam Abu Hanifah dan Khawarij

Selanjutnya manusia ada di atas tingkat kehidupan  binatang dengan kepekaan inderawi paling lengkap, kemampuan berkomunikasi dan berpikir (kecerdasan kognitif). Meski dalam banyak hal masih tidak sesuai dengan penjelasan biologi modern, seperti peralihan mineral menjadi makhluk hidup tidak langsung menjadi pepohonan, melainkan makhluk uniseluler yang lebih sederhana. Namun paparan ini telah mengandung benih dan prinsip dasar dari teori evolusi modern yaitu terkait proses dan kemajuan.

Ikhwan As-shafa tentu dalam hal ini telah melonggarkan batas penjelasan kitab suci dalam memahami asal usul manusia. Kitab suci (setidaknya melalaui petunjuk tekstual ayat-ayatnya) yang menerangkan penciptaan manusia tanpa proses (nabi Adam sebagai manusia pertama).

Ikhwan As-Shafa menjelaskan bahwa kehidupan bisa saja terjadi dalam proses yang lebih rumit yaitu berasal dari unsur yang sebenarnya hanya benda mati, yang disebut dengan Al-Huyul Al-Ula’. Adapun penjelasan kitab suci dapat disesuaikan penafsirannya dengan hal ini (Rasail Ikhwanus Shafa, jilid. II, halaman: 154)

Benih evolusi dasar ini juga ditemukan dalam tulisan Ibnu Khaldun sekitar 400 tahun kemudian. Tidak menutup kemungkinan jika menelisik pandangan para pemikir dan ilmuwan muslim abad pertengahan yang lain, kita juga akan menemukan pemikiran serupa. Jadi pada masa sekarang, dimana teori evolusi telah berkembang menjadi pembuktian praktis seperti pemetaan DNA hingga rekayasa genetika, menerima teori evolusi bukanlah hal yang aneh. Ia pun tidak serta merta harus dipertentangkan dengan penjelasan kitab suci.

2 KOMENTAR

  1. […] Ada banyak peneliti sebelumnya yang juga secara bertahap menemukan atau merumuskan sintesa-sintesa yang nantinya terus disempurnakan menjadi teori evolusi yang berkembang seperti sekarang. 50 tahun sebelum Darwin, tampil seorang peneliti Perancis bernama Lamarck (1744-1829). Ia merumuskan hipotesa pewarisan sifat makhluk hidup. Sepanjang laju perkembangbiakannya, keturunan sebuah spesies bisa saja meneriwa warisan sifat yang sama dari induknya, namun dalam sebagian kasus, keturunan yang muncul bisa saja memiliki sifat yang berbeda. (Baca: Benih Teori Evolusi di Tubuh Pemikir Islam Abad Pertengahan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here