Benih Teori Evolusi dalam Pemikiran Ibnu Khaldun

0
28

BincangSyariah.Com – Teori Evolusi telah menjadi basis ilmu Biologi sejak lama. Teori ini juga berhasil menguak berbagai misteri tentang kehidupan diantaranya adalah diversitas, keberagaman dan kekhasan makhluk hidup yang ada. Teori ini pada perkembangannya ikut menyokong perkembangan ilmu pengetahuan tentang genetika, paleontology, arkeologi, anatomi, mikrobiologi hingga kedokteran modern.

Charles Darwin merupakan orang yang tidak terpisahkan dari teori evolusi. Ia melalui penelitiannya selama pelayaran bersama HMS Beagle telah berhasil merumuskan prinsip seleksi alam yang menjelaskan bagaimana diversitas makhluk hidup bisa terbentuk seperti sekarang. Namun, perlu diingat bahwa, sama seperti beragam temuan sains lainnya, teori evolusi tidak secara paripurna adalah buah pemikiran dan penelitian satu orang.

Ada banyak peneliti sebelumnya yang juga secara bertahap menemukan atau merumuskan sintesa-sintesa yang nantinya terus disempurnakan menjadi teori evolusi yang berkembang seperti sekarang. 50 tahun sebelum Darwin, tampil seorang peneliti Perancis bernama Lamarck (1744-1829). Ia merumuskan hipotesa pewarisan sifat makhluk hidup. Sepanjang laju perkembangbiakannya, keturunan sebuah spesies bisa saja meneriwa warisan sifat yang sama dari induknya, namun dalam sebagian kasus, keturunan yang muncul bisa saja memiliki sifat yang berbeda. (Baca: Benih Teori Evolusi di Tubuh Pemikir Islam Abad Pertengahan)

Apa yang dicetuskan oleh Lammarck saat ini telah dapat dipahami dengan baik sejak penemuan DNA dan berbagai fakta pewarisan sifat dalam ilmu genetika. Salah satu prinsip utama dari teori evolusi adalah mutasi genetik, atau perubahan sifat suatu organisme yang lahir dari induknya secara bertahap. Hal ini terjadi dalam waktu yang sangat lama, baik secara acak maupun pengaruh daripada lingkungan. Setelah jutaan tahun, keturunan dari organisme ini bisa sama sekali memisah menjadi spesies yang berbeda.

Baca Juga :  Pendapat Ahli Tentang Kapan Islam Masuk ke Tiongkok

Jika mundur lebih jauh ke belakang, tentu ada banyak benih-benih “menuju” evolusi yang lebih awal dan sederhana, yang dicetuskan oleh berbagai pemikir dan peneliti, salah satunya adalah Ibnu Khaldun. Meskipun Ibnu Khaldun bukanlah pemikir spesialis ilmu biologi, dan beliau hidup jauh sebelum perkembangan biologi modern, kita dapat menemukan pemikiran beliau yang menjadi benih awal teori evolusi.

Dalam kitab beliau, Tarikh Ibnu Khladun, atau yang lebih familiar dikenal dengan Al-Muqaddimah (1/121), Ibnu Khaldun menuliskan:

ثمّ انظر إلى عالم التّكوين كيف ابتدأ من المعادن ثمّ النّبات ثمّ الحيوان على هيئة بديعة من التّدريج آخر أفق المعادن متّصل بأوّل أفق النّبات مثل الحشائش وما لا بذر له وآخر أفق النّبات مثل النّخل والكرم متّصل بأوّل أفق الحيوان مثل الحلزون والصّدف ولم يوجد لهما إلّا قوة اللّمس فقط ومعنى الاتّصال في هذه المكوّنات أنّ آخر أفق منهامستعدّ بالاستعداد الغريب لأن يصير أول أفق الّذي بعده

Artinya: lalu perhatikanlah alam semesta ini, ia dimulai dari mineral-mineral (unsur abiotik), kemudian berkembang menjadi tumbuh-tumbuhan (unsur biotik paling sederhana), kemudian naik lagi pada level unsur biotik yang lebih kompleks yaitu binatang. Ketiga unsur ini (mineral, tumbuhan dan binatang)  ini juga tersusun dari kelas-kelas yang beragam, mulai dari yang sederhana hingga tingkat yang paling kompleks.

Dunia mineral yang paling kompleks berkaitan dengan dunia tumbuhan yang paling sederhana seperti rumput dan tumbuhan lainnya yang tidak berbiji. Begitu pula dunia tumbuhan yang paling kompleks seperti kurma berkaitan dengan dunia binatang yang paling sederhana seperti siput atau kerang, yang hanya memiliki kesadaran inderawi berupa sentuhan saja.

Yang dimaksud dengan “keberkaitan” di sini adalah semua rangkaian di atas, mulai dari mineral abiotik menuju unsur biotik, dari unsur biotik sederhana (tumbuhan) ke yang lebih kompleks (binatang) memiliki kemungkinan untuk berkembang dari satu tingkat ke tingkat di atasnya.

Baca Juga :  Ibnu Khaldun dan Filsafat Sejarah

Ibnu Khaldun melanjutkan:

واتّسع عالم الحيوان وتعدّدت أنواعه وانتهى في تدريج التّكوين إلى الإنسان صاحب الفكر والرّويّة ترتفع إليه من عالم القردة الّذي اجتمع فيه الحسّ والإدراك ولم ينته إلى الرّويّة والفكر بالفعل

Artinya: dunia hewan juga terbagi dalam tingkat kompleksitas yang beragam, hingga pada tingkat yang paling puncak adalah manusia yang memiliki kesadaran untuk berpikir dan berbicara, manusia juga merupakan perkembangan dari bangsa kera (primata) yang telah memiliki kesadaran inderawi yang lengkap namun belum memiliki daya berpikir dan berkomunikasi yang rumit seperti kita.

Apa yang disintesakan oleh Ibnu Khaldun tentu masih jauh dari kesempurnaan tentang bagaimana evolusi dan tahapannya berjalan, maklum saja, karena beliau hidup pada berabad-abad sebelum perkembangan biologi modern. Namun penjelasan ibnu Khaldun  telah menyentuh pilar dasar dari evolusi. Kehidupan yang berjalan secara bertahap hingga klasifikasi makhluk hidup dari unit paling sederhana kepada yang paling kompleks.

Sains modern saat ini telah perlahan membuka asal muasal kehidupan. Teori primordial yang menjelaskan bagaimana sebuah peristiwa tertentu mengkonversi unsur abiotik menjadi biotik sekitar 3,5 milyar tahun yang lalu. dalam rentang waktu yang sangat lama kemudian menjadi organisme uniseluler pertama. Perkembangan berlanjut hingga menciptakan berbagai makhluk multiseluler.

Perkembangan yang belangsung di bawah air lalu berkembang ke permukaan. Butuh waktu jutaan tahun hingga kemunculan reptil, burung hingga mamalia. Lalu sekitar dua juta tahun lalu terjadi kemunculan spesies berjalan dengan dua kaki yang menjadi common ancestor manusia. Beberapa genus homo berkembang dan mampu menciptakan peralatan sederhana. Hingga revolusi kognitif terjadi pada spesies Homo Sapiens terjadi sekitar 70 ribu tahun yang lalu yang memungkinkan manusia menciptakan berbagai gagasan dan berkomunikasi dengan cara yang lebih kompleks.

Baca Juga :  Ibnu Khaldun dan Khilafah Islamiyyah

Ibnu khaldun juga telah menujukkan kepekaan beliau terhadap diversitas dan keragaman makhluk hidup, meskipun jauh dari penjelasan ilmu Taksonomi modern seperti sekarang yang telah membuat pemetaan klasifikasi makhluk hidup mulai dari tingkatan kingdom yang memisahkan kelas binatang (Animalia) dengan tanaman (Plantae), dilanjutkan dengan filum, kelas, ordo, family, Genus hingga spesies. Klasifikasi ini juga didukung oleh pemetaan genetika dan DNA.

Tulisan ini tidak hendak melebih-lebihkan peranan Ibnu Khaldun sebagai pencipta teori evolusi atau menihilkan peranan Charles Darwin. Tulisan ini hanya mengemukakan bahwa sebelum disempurnakan pada abad ke-19, teori evolusi sudah melalui pemikiran dan sintesa banyak pemikir berabad-abad sebelumnya. Pada bagian kecil dari peranan ini, nama Ibnu Khaldun juga dapat dimasukkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here