Benarkah Syam Benteng Terkuat untuk Menjaga Keimanan?

0
230

BincangSyariah.Com – Berbicara tentang Syam, terdapat sebuah hadis Nabi SAW yang menyebutkan bahwa benteng terkuat umat Islam ketika terjadinya fitnah adalah Syam. Adapun hadis yang dimaksud adalah hadis yang bersumber dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, sebagai berikut:

إِنِّي رَأَيْتُ كَأَنَّ عَمُودَ الْكِتَابِ انْتُزِعَ مِنْ تَحْتِ وِسَادَتِي ، فَأَتْبَعْتُهُ بَصَرِي فَإِذَا هُوَ نُورٌ سَاطِعٌ عُمِدَ بِهِ إِلَى الشَّامِ ، أَلاَ وَإِنَّ الإِيمَانَ إِذَا وَقَعَتِ الْفِتَنُ بِالشَّامِ

“Sesungguhnya aku bermimpi seakan-akan penopang al-kitab ditarik dari bawah bantalku, maka aku ikuti kemana ia dibawa, dan tiba-tiba ada cahaya yang bersinar membawanya pergi ke Negeri Syam, ingatlah bahwa iman akan berada di Syam ketika terjadi banyak fitnah.”

Menurut Ibn Taimiyyah yang dimaksud dengan penopang al-kitab (‘amud al-kitab) atau bisa juga disebut dengan penopang Islam (‘amud al-Islam) adalah sesuatu yang dijadikan pegangan, yang dipegang oleh orang-orang yang membawanya. Komentar lain terkait hadis di atas juga muncul dari ‘Izzuddin bin ‘Abd al-Salam dalam karyanya Targhib Ahl al-Islam fi Sukna al-Syam.

Menurutnya, yang dimaksud oleh Nabi dengan ‘amud al-Islam, bahwa ketika terjadi fitnah saja orang-orang Syam adalah orang-orang yang selalu menetapi keimanan, mereka tetap berpegang teguh dengan keimanan mereka, lantas bagaimana ketika mereka tidak ditimpa fitnah? Mereka tentu akan jauh lebih beriman kepada Allah. Bagi Syekh ‘Izzuddin, hadis ini memberikan pujian yang sangat tinggi bagi penduduk Syam yang memiliki keimanan yang sangat tinggi dan istimewa.

Hadis yang bersumber dari ‘Amr  bin ‘Ash di atas dapat dijumpai dalam kitab al-Mustadrak karya al-Hakim. Menurut al-Albani hadis tersebut shahih. Meskipun al-Albani menganggapnya shahih, namun terdapat kritik terkait hadis ini dari Syekh al-Idlibi. Ia mengumpulkan seluruh jalur periwayatannya dan menganalisis kualitasnya dari sudut pandang sanad dan matan hadisnya.

Hadis di atas diriwayatkan oleh beberapa sahabat, di antaranya adalah Abu Darda’, ‘Abdullah bin ‘Amr, ‘Umar bin al-Khaththab, Abu Umamah, ‘Aisyah, ‘Amr bin ‘Ash, ‘Abdullah bin ‘Umar dan riwayat mursal dari Abu Qilabah. Dari seluruh sanad yang ada tidak ada satupun sanad yang shahih, semua sanadnya dhaif. Terutama hadis mursal yang hanya sampai kepada tabi’in, maka dia dianggap hadis dhaif, umumnya hadis semacam ini bukan disebut dengan hadis, namun disebut dengan atsar, atau khabar.

Baca Juga :  Tiga Perbedaan Antara Azan dan Iqamat

Dari sudut pandang matan (isi hadis), menurut Syekh al-Idlibi, matan hadis di atas terkesan sumbang, pasalnya  bagaimana mungkin ‘amud al-kitab, yang dalam hal ini adalah Alquran diambil dari bawah bantal kenabian dan dibawa ke Syam, bukan ke seluruh penjuru negeri, mengingat Alquran dan Nabi Muhammad adalah wahyu dan Nabi yang terakhir yang diutus untuk seluruh alam.

Ini menunjukkan seakan-akan Syam yang menjadi tempat berlindung para nabi sebelumnya tidak ada bandingannya dengan Mekah dan Madinah. Lantas bagaimana dengan Mekah dan Madinah? Ketika terjadi fitnah, keimanan hanya berpusat di Syam, bukan yang lainnya? Padahal faktanya, umat Islam memusatkan seluruh perhatiannya sampai saat ini kepada Mekah. Oleh sebab itu, tidak akan berpengaruh sama sekali banyaknya riwayat dhaif terhadap hadis ini, karena hadis ini sumbang (munkar) secara matan.

Berbicara tentang muara keimanan di akhir zaman, Mekah dan Madinah memiliki banyak keutamaan yang lebih mentereng di akhir zaman di bandingkan dengan Syam. Kualitas hadis-hadisnya pun lebih kuat dibandingkan dengan hadis-hadis Syam. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya hadis-hadis yang secara spesifik menyebutkan Mekah dan Madinah berikut.

إِنَّ الإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا

“Sesungguhnya keimanan akan bersarang ke Madinah sebagaimana ular bersarang ke dalam lubangnya (sarangnya).”

Hadis ini diriwayatkan oleh banyak sekali jalur periwayatannya dan dapat dijumpai di berbagai kitab hadis seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibn Majah, Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Bazzar dan beberapa kitab induk lainnya. Yang dimaksud dengan riwayat di atas adalah bahwa akan ada suatu masa di mana  keimanan akan kembali ke tempat asalnya, yakni Madinah al-Munawwarah,  tidak akan memasukinya kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah dan mencintai Rasul-Nya. Ibarat ular yang memiliki sarang, ada masanya mereka keluar dari sarangnya dan ada masanya pula mereka akan kembali memasuki sarangnya.

Riwayat Syam juga sepertinya bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Shafiyyah binti Abi ‘Ubaid yang menyebutkan bahwa siapapun orang Islam dan kapanpun orang tersebut yang mampu meninggal di Madinah maka ia akan mendapat syafaat dari Nabi dan akan disaksikan oleh Rasulullah kelak di hari kiamat, dan tentu saja hal semacam ini akan memotivasi banyak orang untuk mengutamakan Madinah di banding Syam bukan?  Hadis yang dimaksud adalah sebagaimana berikut:

Baca Juga :  Ini Sikap Rasulullah Saat Termakan Hoaks Abdullah bin Ubay

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا ؛ فَإِنِّي أَشْفَعُ لَهُ ، أَوْ أَشْهَدُ لَهُ

“Barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk meninggal di Madinah, hendaklah ia meninggal di sana, karena aku akan memberinta syafaat dan bersaksi untuknya.”

Riwayat lain menyebutkan bahwa Mekah dan Madinah memiliki dua masjid yang lebih utama dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa Mekah dan Madinah memiliki keutamaan lebih dibandingkan dengan Syam. Dan lagi riwayat semacam ini tidak berbatasan dengan waktu (timeless) artinya sepanjang zaman, baik ketika Islam mulai muncul sampai hari kiamat atau akhir zaman. Di antara riwayat yang sangat banyak, salah satunya diriwayatkan oleh Jabir dari Nabi SAW.

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي , أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ , إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ , وَصَلاَةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ , أَفْضَلُ مِنْ مِئَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Melaksanakan ibadah shalat di dalam masjidku (masjid Nabawi) seribu kali lebih baik dibandingkan shalat di masjid lainnya. Kecuali Masjidil Haram di Mekah, sebab shalat di Masjidil Haram di Mekah seratus ribu kalo lebih baik dibandingkan shalat di tempat lain.”

Jika Syam, diberikan berkah, maka Mekah pun lebih layak diberikan berkah oleh Allah SWT. Oleh sebab itu Allah juga menyebutkan keberkahan Mekah di dalam Alquran.

إِنَّ أَوَّلَ بَيۡتٖ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكٗا وَهُدٗى لِّلۡعَٰلَمِينَ ٩٦

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Jika diperhatikan hadis terkait Syam di atas hanya sebatas isyarat yang tidak secara langsung dijelaskan oleh Rasulullah terkait keutamaannya. Dan itupun dialami oleh rasul dalam mimpinya semata, bukan diucapkan secara lisan oleh beliau, berbeda dengan hadis-hadis terkait keutamaan Mekah dan Madinah yang diungkapkan beliau secara jelas dan gamblang. Dilihat dari kualitas hadisnya, hadis Syam di atas dianggap munkar oleh Syekh al-Idlibi dalam karyanya “Ahadits Fadhail al-Syam: Dirasah Naqdiyyah” (Hadis-Hadis Keutamaan Syam: Studi Kritis). Hadis munkar sendiri adalah hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang dhaif (lemah) yang bertentangan dengan perawi yang tsiqah (terpercaya). Hadis semacam ini memiliki konsekuensi untuk tidak diyakini atau diamalkan karena ia masuk ke dalam kategori dhaif jiddan (sangat lemah).

Baca Juga :  Ibnu Taymiyyah, antara Salafi dan Liberal

Sebaran umat muslim saat ini jika diamati sangatlah luas tak terbatas, ketika keimanan hanya dipusatkan di Syam, maka akan sangat riskan bagi umat Islam seluruh dunia. Mengingat bahwa iman lebih kepada persoalan hati bukan yang lain. Umat Islam di dunia saat ini mencapai hampir seperempat jumlah manusia di dunia. Mereka tinggal menyebar di beberapa negara, baik sebagai kelompok mayoritas maupun minoritas.

Sebagai mayoritas mereka singgah di 44 negara seperti negara-negara Timur Tengah dan beberapa negara Asia. Meskipun 90% masyarakat Timur Tengah beragama Islam, namun mereka bukanlah yang terbesar. Empat negara dengan penduduk muslim terbesar adalah Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan India. Di rilis oleh http://www.telegraph.co.uk Negara dengan tingkat religiusitas paling tinggi adalah negara-negara Afrika dan Timur Tengah, sayangnya tidak ada Suriah, Lebanon, Palestina, atau bekas Negara bagian Syam di sana, Timur Tengah di urutan teratas, di tempati oleh Yaman dan Afganistan.

Nabi Muhammad adalah nabi yang di utus untuk seluruh alam tanpa terkecuali, oleh sebab itu ketika keimanan hanya dipusatkan di Syam saja, maka hal itu akan bertentangan dengan risalah Nabi Muhammad sendiri, bahwa ia adalah nabi bagi seluruh alam. Memang benar bahwa Allah dan rasul-Nya berhak mengunggulkan salah satu dari tanah dan negeri-Nya, akan tetapi, penting juga untuk memilah dan memilih hadis ataupun riwayat yang benar-benar bersumber dari Rasulullah SAW. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.