Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?

0
1178

BincangSyariah.Com – Sejarah kenabian Muhammad memang selalu menarik untuk diteliti. Figur ini tidak diragukan menjadi salah satu daya tarik bagi sarjana Barat yang ingin meneliti Islam dan sejarahnya. Salah satu yang diperdebatkan adalah, benarkah Nabi Muhammad buta huruf atau ummi?

Para sarjana tersebut mampu menerangkan figur ini secara objektif. Kita tak boleh melupakan di antara para sarjana Barat yang menulis figur Muhammad, Montgomery Watt.

Sarjana orientalis yang tidak disebutkan namanya oleh Edward Said dalam Orientalism ini kiranya cukup beralasan terhadap Islam. Penulis Muhammad Prophet and Statesmen (Muhammad: Nabi dan Negarawan) ini menceritakan secara detail sosok Muhammad dari pra-kenabian, keadaannya saat di Mekkah, Madinah hingga wafatnya.

Salah satu poin pandangannya terhadap Muhammad adalah bahwa Islam yang dibawa Muhammad datang tanpa watak ekspansif dan imperialis.

Lebih dari setengah abad kemudian, Juan Cole menulis ulang figur Muhammad melalui bukunya Muhammad Prophet of Peace Amid The Clash of Empires.

Selain menulis tentang Muhammad saw., Juan Cole merupakan seorang profesor sejarah di Universitas Michigan. Ia menulis beberapa buku di antaranya Sacred Space and Holy War, Napoleon’s Egypt, Engaging the Muslim World, dan The New Arabs.

Berikut beberapa wawancaranya dengan Joseph Preville yang telah diterjemahkan dari situs Worldreligionnews.

Joseph: Apa masalah utama yang dihadapi kalangan sejarawan ketika menulis kehidupan Muhammad? Apa referensi utama yang jadikan bahan untuk menulis buku?

Juan: Menurut saya, salah satu masalahnya adalah sumber-sumber dari kehidupan Muhammad (632 M) secara umum dan massif baru terdata pada 130-300 tahun pasca wafatnya Nabi Muhammad saw. Satu sumber utama yang kami punya, yang itu relevan dengan Nabi Muhammad adalah Alquran itu sendiri. Sumber yang disebut sebagai wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Muhammad saw.

Penanggalan karbon (satu bentuk teknik pelacakan naskah yang dipercaya akurat hingga 4000 tahun dalam filologi) dan paleography membuktikan naskah Alquran pada awal Abad ke-7. Sejarah intelektual menjelaskan Alquran merupakan buku terbesar yang mampu menceritakan kepada kita figur Muhammad saw. yang sesuai pada masanya.

Baca Juga :  Bulan Sya'ban adalah Bulan Alquran

Hemat saya, Alquran juga bisa dilihat seperangkat pengetahuan umum yang lahir dari konteks karya-karya Yunani klasik dan Persia.

Joseph: Anda menulis “Islam tidak seperti Kristen, sebagai sebuah agama Barat yang tumbuh di tangan kerajaan Romawi. Dan pada teks lain, Anda menulis “Muhammad saw. sendiri merupakan figur yang beraliansi dengan Barat”. Bagaimana teori tersebut bisa mendukung pandangan para ahli tafsir Islam awal?

Juan: Memang benar, bahwa referensi Arab yang ada sangat menekankan asal-usul Islam yang berasal dari Saudi Arabia. Namun, referensi tersebut absen dalam melihat relasi Jazirah Arab dengan daerah timur kerajaan Romawi.  Bahkan, sumber-sumber Romawi sendiri dalam bentuk inskripsi dan Alquran menyatakan adanya bukti kuat aliansi Arab dengan masyarakat Romawi.

Sebagaimana Muhammad saw. juga beraliansi dengan kerajaan Konstantinopel. Muslim awal. Ada beberapa bukti sejarah yang menunjukkan hal tersebut.

Joseph: Berapa banyak biografi yang memotret Muhammad sebagai ummi dan terlokalisir. Apakah Anda setuju?

Juan: Kaum muslimin tradisional biasa mempercayai Nabi Muhammad buta huruf, atau ummi. Saya pikir ini merupakan bentuk proteksi kepada Muhammad dari beban-beban orang polemis bahwa ia mempelajari banyak hal dengan membaca Bibel dan karya-karya lainnya. Akan tetapi, banyak literatur sunah nabi menyebutkan bahwa ia sukses untuk waktu yang lama sebagai pedagang di daerah Damaskus dan Gaza sebagai daerah timur kerajaan Romawi.

Sang saudagar perjalanan jarak jauh biasanya merupakan orang yang mampu baca tulis. Saya kira Muhammad merupakan orang yang mampu membaca dan menulis dalam bahasa Arab, Aramaik (bahasa yang digunakan oleh masyarakat Syiria kala itu), dan mungkin juga dalam bahasa Yunani. Buktinya Alquran menunjukkan pengetahuan tentang Bibel, tradisi Yahudi dan pemikiran Yunani klasik. Tentu itu wawasannya bukan bersifat lokal.

Baca Juga :  Nabi Muhammad, Sang Pembela Kaum Lemah

Joseph: Apa yang melandasi Muhammad membuat konstitusi Madinah? Sejauh mana sifat revolusioner dokumen tersebut pada saat itu?

Juan: Konstitusi Madinah (Piagam Madinah) merupakan perjanjian antar komunitas (kaum beriman), untuk orang-orang Pagan di Madinah yang telah mengusir Muhammad pada tahun 622 M.

Madinah saat itu memiliki kaum Muslimin, Yahudi, Pagan dan mungkin beberapa orang Kristiani. Perjanjian tersebut mengatur semua komunitas beragama untuk mempertahankan kota Madinah jika terjadi penyerangan.

Dokumen tersebut juga mengatakan bahwa Muslim berhak menjalankan agamanya, sebagaimana umat Yahudi juga berhak. Jadi piagam tersebut mengakui kebebasan hati nurani dan aliansi politik. Di kerajaan Romawi saat itu, Yahudi justru diperlakukan secara tidak wajar dan tidak setara dengan yang lain.

Joseph: Bagaimana kalangan sarjana Muslim Abad Pertengahan menafsirkan Alquran dan mengurangi spirit ayat-ayat Alquran melalui teori “nasakh”?

Juan: Upaya menciptakan perdamaian dan hidup berdampingan merupakan tema-tema yang paling penting dalam Alquran. Alasan untuk boleh melakukan peperangan hanya demi mempertahankan diri dan tidak bersalah.

Bahkan tidak boleh bersifat agresif (melakukan penyerangan terlebih dahulu), atau ekspansif. Jadi para sarjana Muslim melihat bahwa karena teori nasakh (teori penghapusan atau tidak berlakunya) ayat-ayat sebelumnya seakan memberikan izin untuk melakukan penyerangan.

Pada akhirnya, semua ayat yang bercerita tentang perdamaian dibatalkan oleh teori nasakh. Akan tetapi, para sarjana Muslim kontemporer berpendapat bahwa ayat-ayat yang dinasakh itu hanya 5 % (dan tidak termasuk ayat-ayat tentang perdamaian).

Joseph: Anda telah memberikan penekanan kuat “Muhammad adalah nabi yang membawa kedamaian”. Menurut anda, apakah buku ini akan memberikan usaha untuk penguatan studi perdamaian Islam?

Juan: Ayat-ayat damai dalam Alquran sudah ada sejak dahulu. Dan menjadi sentral, namun para sarjana kerap kali tidak memfokuskan kajiannya pada studi tersebut.

Baca Juga :  Abdullah Saeed: Kontekstualisasi Al-Quran Di Abad 21

Saya berharap melihat adanya satu bentuk usaha kajian studi perdamaian yang lahir dari relasi Islam dengan Kristiani. Orang-orang Kristiani sendiri telah berjuang untuk perang dan dalam beberapa tempat terlibat dalam upaya genosida.

Oke, tapi kita juga bisa mengetahui adanya sekte Quakers (salah satu dalam Kristiani yang anti-perang) dan Menonitis. Hanya ada beberapa pengarang yang menulis tentang sejarah gerakan perdamaian dalam Islam, Salah satunya murid seorang sufi di Senegal dan beberapa Muslim Ghandi India di Abad ke-21.

Josep: Bisa Anda sedikit merekomendasikan beberapa karya biografis tentang Muhammad dan buku-buku yang ditulis penulis kontemporer yang menjelaskan tentang sejarah Islam awal?

Juan: Salah satu karya yang cukup penting hemat saya adalah Muhammad and The Belivers (2010) karya Fred Donner. Dan Crucible of Islam (2017) karya GW Bowersock merupakan karya terbaik tentang konteks Islam awal di Jazirah Arab.

Penulis ini juga memiliki karya Throne of Adulis (2013) yang menyorot tentang Islam di Ethiopia, Yaman, Laut Merah yang dilihat sebagai faktor geo-politik kerajaan Romawi dan sebagai latar belakang bangkitnya Islam. Buku ini sangat bagus sekali. Dan karya Carl Ernst yang berjudul How to Read the Quran (2011) juga buku yang penting.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.