Benarkah Mati Suri itu Ada dalam Islam? Ini Penjelasan Imam al-Suyuthi

0
2850

BincangSyariah.Com – Mati suri merupakan fenomena yang seringkali kita dengar. Seseorang tidak sadarkan diri hanya dalam beberapa waktu, kemudian hidup kembali. Apakah fenomena mati suri itu ada dalam Islam? (Baca: Kisah Seorang Anak Hidup Kembali Karena Doa Ibu)

Terkait fenomena mati suri, ada ayat Al-Qur’an yang mendekati fenomena tersebut. Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَشْكُرُونَ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamanya, jumlah mereka beribu-ribu sebab takut kematian. Kemudian Allah berkata kepada mereka “matilah kalian”, kemudian menghidupkanya. Sesungguhnya Allah itu dzat yang memiliki karunia terhadap manusia, akan tetapi sungguh kebanyakan manusia tidak bersyukur“ (Al-Baqarah: 243).

Dari ayat di atas al-Suyuthi dalam karyanya al-Dur al-Manstur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur (juz 3, vol.117) mengisahkan demikian:

Dalam kalangan bani Israel, ada sebuah daerah bernama Dawardan. Pada suatu ketika turun wabah penyakit (tha’un) di daerah tersebut, sebagian penduduk lari keluar daerah mencari keselamatan dan sebagian yang lain tetap di dalam berpasrah diri kepada Tuhan.

Mereka yang berada di dalam pada akhirnya banyak yang meninggal dunia akibat tha’un dan sedikit yang selamat. Setelah wabah ini berhenti, mereka yang keluar kembali dan disambut oleh masyarakat Darwan yang tersisa.

Berjalan beberapa waktu kemudian wabah kembali datang dan mereka semua lari tanpa terkecuali mencari keselamatan diri. Sampailah disebuah lembah di antara dua gunung besar. Tuhan memerintahkan dua malaiakat yang berada di atas dan di bawah lembah, dan berkata “bunuh mereka!” Dua malaikat tersebut mencabut nyawa mereka tanpa terkecuali. Berjalanya waktu, jasad mereka dimakan tanah hingga tersisa tulang-tulang yang berserakan.

Baca Juga :  Diksi Kecepatan Langkah: Keindahan Bahasa Al-Qur’an

Seorang nabi bernama Hizqil berjalan melewati lembah tersebut, takjub dan heran melihat tulang berserakan. Kemudian Tuhan memberinya wahyu. Hizqil berkata “Hai tulang-tulang, Tuhan memerintakhan kalian untuk kembali menyatu.” Semua tulang itu pun menyatu menjadi jasad seperti sediakala tanpa daging dan darah.

Hizqil kembali menyeru “Pakailah daging untuk menutupimu dan bangkitlah.” Tulang-tulang itu pun berbalut daging dan bangkit kembali dengan arwahnya masing-masing. Mereka semua kembali ke daerahnya semula.

Demikian mati suri yang berarti kehidupan kedua setelah kematian pada masa Hizqil. Para ulama mencetuskan hukum bahwa ketika seseorang yang telah dinyatakan meninggal dunia berdasarkan agama dan medis, semua hukum syari’ah terputus termasuk status pernikahan dan harta yang ditinggalkanya sebagai harta warisan.

Lantas dalam kebangkitanya hidup kembali semua yang telah dimiliki sebelumnya tidak kembali kegenggamanya termasuk harta dan pasangan hidupunya. Ibnu Hajar al-Haitami dalam karyanya Fatawa al-Haditsiyah (vol 8):

مطلب: لا أثر للحياة بعد تيقن الموت – إلى أن قال – وإذا تقرر أنه لا أثر لحياته فتُنكح زوجاته وتَقْسم ورثتُهُ ماله، وإن ثبت فيه الحياة، لأن الموت سبب وضَعَه الشارعُ لحلِّ الأموال، والزوجات، فحيث وجد ذلك السبب وُجِد المسبب، وأما الحياة بعده فلم يجعلها الشارع سبباً لعود ذلك الحِّل

“(Tidak ada bekas hukum  bagi kehidupan  kedua  setelah nyata meninggal dunia) dan ketika telah ditetapkan bahwa sesungguhnya tidak ada bekas hukum bagi kehidupanya kedua, maka legal untuk menikahi istrinya (baginya atau orang lain) dan ahli waris membagi harta peninggalanya. Karena kematian merupakan sebab syariat menghalalkan harta dan istrinya, ketika muncul sebab maka ditemukan sesuatu yang disebabkan (musabbab). Kehidupan kedua tidak dijadikan sebagai sebab kembalinya hukum halal baginya oleh syariat.” 

Al-Ramli dalam karyanya Nihayah al-Muhtaj (juz.3, vol.354) berkata:

Baca Juga :  5 Unsur Dasar yang Harus Ada di Pondok Pesantren

وقع السؤال في الدرس عما لو ماتت الزوجة موتا حقيقيا والزوج حي ثم حييت هل تتزوج بغيره حالا لأنها بالموت سقطت عنها سائر الأحكام وهذه حياة جديدة أم لا- إلى أن قال – فيه نظر والأقرب الأول للعلة المذكورة ،ولا فرق في ذلك بين عودها لزوجها الأول وبين تزوجها بغيره

“Pertanyaan: andaikan seorang wanita benar-benar meninggal dunia dan suami masih hidup, kemudian istri kembali hidup, apakah dia diperbolehkan menikah dengan laki-laki lain karena sebab kematian hilang semua hukum sebelumnya, dan kehidupan ini adalah kehidupan baru, ataukah tidak boleh? Dalam permasalahan ini yang lebih mendekati adalah awal  (diperbolehkan) karena alasan tersebut, baik perempuan tersebut kembali menikah dengan suami pertama atau dengan laki-laki lain.”

Dari dua penjelasan ulama fikih di atas ini mengindikasikan bahwa fenomena mati suri memang diakui dalam Islam.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here