Benarkah Bunga Bank Halal Karena Termasuk Akad yang Belum Pernah Ada?

0
894

BincangSyariah.Com – Salah satu keunikan fiqih muamalat adalah hari ini kita menemukan banyak jenis akad baru yang belum pernah ada sebelumnya. Maksudnya, akad seperti itu tidak pernah ada contohnya di masa kenabian, shahabat, tabi’in, atbaut-tabi’in, bahkan sampai menjelang abad ke-14 hijriyah pun belum kita temukan adanya akad tersebut.

Sebagian kalangan menamakan akad yang semacam itu dengan istilah : ghairu musamma yang secara harfiyah maksudnya kira-kira akad-akad yang belum terpetakan sebelumnya.

Karena belum terpetakan, maka juga belum punya status hukum yang pasti, apakah halal atau haram. Dan semakin menjadi unik karena ada kaidah baku dalam fiqih muamalah bahwa segala sesuatu itu pada dasarnya halal sampai ada dalil atau qarinah yang secara tegas mengharamkannya.

Oleh sebagian kalangan kemudian ditetapkan bahwa bila kita menemukan akad-akad yang masih belum berstatus resmi maka hukumnya halal, karena tidak ada larangannya.

Namun ada sebagian kalangan yang lain agak berbeda pandangan. Menurut mereka, Islam itu sudah sempurna, sehingga tidak ada akad muamalat hari ini yang tidak ada rujukannya di masa kenabian. Kalau pun memang tidak secara utuh, tetap ada bagian-bagian tertentu yang bisa dirujuk ke zaman itu.

Sehingga kalangan ini tidak mengenal istilah akad ghairu musamma tadi. Dan oleh karena itu, tidak ada akad yang tidak punya status hukum. Tinggal diijtihadkan saja, kira-kira akad baru di masa modern ini ikut atau lebih dekat dengan akad yang mana, maka setidaknya kemudian dilakukan qiyas kepada akad-akad yang sudah punya status hukum pasti.

Bank dan Masa Kenabian

Lembaga keuangan seperti bank modern di masa kita jelas belum pernah ada di masa kenabian. Setidaknya, istilah bank itu sendiri tidak kita temukan kecuali di masa modern. Dan kalau merujuk kepada UU RI No 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang perbankan, usaha perbankan meliputi tiga kegiatan, yaitu menghimpun dana,menyalurkan dana, dan memberikan jasa bank lainnya. Jelas di masa kenabian tidak ada bank dalam arti modern.

Kalau rentenir memang ada. Dan sebelum riba diharamkan, paman Nabi yaitu Al-Abbas bin Abdul Muttalib boleh dibilang salah satu ‘rentenir’ di Mekkah. Bahkan Khadijah istri Beliau pun termasuk orang yang punya bisnis membungakan uang masa awalnya, sebelum diharamkannya bunga pinjaman uang.

Baca Juga :  Hukum Kredit KPR Rumah dan Kendaraan Bermotor

Namun baik Al-Abbas atau pun Khadijah sama sekali tidak melakukan usaha seperti layaknya sebuah bank. Sebab tidak ada orang-orang yang datang dan ‘menabung’ uang kepada mereka. Keduanya tidak menghimpun dana dari masyarakat, dana yang mereka pinjamkan semata-mata dana milik mereka sendiri. Keduanya juga tidak melakukan jasa-jasa perbankan modern seperti transfer dana, pembayaran dan sebagainya.

Maka apa yang dilakukan oleh bank modern di masa ini jelas tidak ada rujukannya di masa kenabian. Usaha-usaha yang dilakukan sebuah bank, dalam beberapa titik memang punya kesamaan yang bisa saja diqiyaskan dengan praktek akad-akad tertentu di masa kenabian. Namun tetap saja secara utuh belum layak untuk mendapat status hukum yang sepadan.

Sumber Perbedaan Pendapat

Dari realitas seperti inilah kemudian di masa kita ini muncul dua ittijah atau dua kecenderungan.

1. Pendapat Pertama

Mereka adalah kalangan yang cenderung mencarikan kesamaan hukum antara perbankan modern dengan akad-akad tertentu di masa kenabian. Meski tidak sepenuhnya presisi, tetapi bagi mereka cukup ada semacam kesamaan akad, maka hukumnya sudah bisa ditarik dan ditetapkan.

Misalnya, ketika ada orang menitipkan uang di bank sebagai nasabah, meski sama sekali akadnya bukan meminjamkan uang kepada bank, namun bila dicermati dari angel yang berbeda, ada semacam kemiripan dengan peminjaman uang alias al-qardh.

Dan karena bank memberikan manfaat atau faidah, maka dianggap ini sama saja dengan al-qardh jarra manfa’ah, yang secara tekstual memang haditsnya menyebutkan riba.

كل قرض جر منفعة فهو ربا

Maka jadilah menabung di bank itu hukumnya riba yang diharamkan. Beberapa ulama kontemporer semacam Dr. Yusuf Al-Qaradawi secara tegas mengklaim bahwa seluruh ulama sudah ijma’ atas keharaman bunga bank.

2. Pendapat Kedua

Namun di sisi lain, klaim Qardawi bahwa seluruh ulama telah ijma’ atas keharaman ‘bunga bank’ nampaknya terkoreksi juga. Ternyata kita menemukan sejumlah ulama yang sangat kompeten seperti Mufti Diyar Mishriyah, Syeikh Ali Jumah dan juga para ulama di Darul Ifta’ Mesir yang punya pandangan agak berbeda.

Baca Juga :  Keluarga Ibnu Atsir yang Produktif Menulis

Mereka termasuk kalangan yang boleh kita sebut memandang bahwa akad pada bank itu termasuk akad ghairu musamma di atas. Maksudnya akad-akad pada bank sama sekali tidak ada rujukannya di masa kenabian.

Ketika kita ‘menabung’ di bank, dari nama akadnya saja sudah jelas bahwa bank tidak meminjam uang dari kita. Dan secara nalar pun kita tidak pernah berkata,”Wahai bank, Aku pinjamkan uang milikku kepada mu agar aku dapat manfaat”.

Bahkan dari segi motif mengapa kita menyimpang uang di bank, rata-rata judulnya kita menitipkan uang agar disimpan dengan aman. Tidak kita taruh di bawah bantal atau kolong tempat tidur. Maka pada dasarnya akad ini bukan akad pinjam uang, tetapi akad titip uang alias wadi’ah.

Namun dibilang wadi’ah secara 100% pun tidak juga. Sebab dalam wadi’ah, namanya kita titip, seharusnya kita bayar kepada bank, atau setidaknya gratis kalau judulnya menolong. Tapi lagi-lagi bank tidak pernah berniat menyimpankan uang kita dengan niat menolong. Sama sekali tidak, sebab bank bukan lembaga kemanusiaan yang kerja untuk sosial.

Bank adalah sebuah perusahaan, yang melakukan usaha untuk mendapatkan keuntungan. Jadi seharusnya ketika kita meminta jasa bank untuk menyimpankan uang kita, kita bayar kepada bank.

Namun coba perhatikan, alih-alih kita bayar kepada bank, justru bank malah membayar kita. Wadi’ah macam mana lagi ini? Menitipkan harta kok kita malah dapat uang? So, tidak wadi’ah-wadi’ah amat kan?

Jadi kalau pinjam uang bukan, wadi’ah banget juga bukan, lantas apa nama akad ‘menabung uang di bank’? Dari 25 jenis akad yang dikenal sejak masa kenabian, nama akad ini tidak masuk ke salah satunya. Ini akad jenis ke-26 yang belum pernah terpetakan sama sekali sebelumnya. No one has gone before . . .

So, statusnya apa dong? Tidak punya status, tidak bisa dibilang haram juga. Karena belum cukup syarat untuk mengharamkan. Kalau cuma dititip-titipkan ke akad al-qardh jarra manfaah sih bisa saja, tapi ya itu tadi, statusnya masih belum presisi 100%, karena tidak sepenuhnya tepat juga.

Baca Juga :  Begini Cara Nabi Berobat Ketika Demam

Syeikh Ali Jum’ah bilang bahwa akad ini 100% akad modern, yang paling mendekati adalah akad istitsmar atau istilah lainnya akad tamwil, yaitu investasi atau penyertaan modal. Dan akad istitsmar atau tamwil ini memang belum muncul secara utuh di masa kenabian yang mulia.

Kesimpulan

Tulisan ini sama sekali tidak diniatkan untuk mengubah fatwa keharaman bunga bank yang sudah ada sebelumnya. Namun tulisan ini bagi para penuntut ilmu syariah, sekedar memberikan beberapa catatan kaki, antara lain :

1. Banyak akad-akad baru di masa modern yang belum terpetakan di masa kenabian. Lantaran terbentang jarak waktu 14 abad lamanya dan peradaban manusia selalu mengalami perubahan yang dinamis.

2. Dalam fiqih muamalat khususnya yang bersifat kontemporer, adanya ikhtilaf atau perbedaan pandangan di antara para ulama kontemporer merupakan sesuatu yang lazim, bahkan sulit ditolak karena realitasnya memang demikian. Dan pada angel tertentu justru perbedaan itu malah menambah kecantikan sosok syariah Islam.

3. Perbedaan pendapat dalam fatwa khusususnya muamalat modern, kontemporer dan muashirah, tidak mewajibkan kita untuk saling caci atau saling hina dengan sesama saudara muslim. Sebab tetap saja kita punya kesamaan yang jauh lebih banyak dari pada perbedaan.

4. Ketika seseorang menjalani berbagai ketentuan agama sesuai dengan apa yang dia yakini, yakinlah bahwa keyakinan seseorang itu selalu akan dinamis, bisa saja bergeser sesuai masa, kematangan dan proses kedewasaannya.

Selamat Idul Fithri 1439 hijriyah, semoga Allah SWT menerima amal-amal kita semua, mengampuni semua dosa kita dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Amien ya rabbal alamin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.