Benarkah Budha adalah Nabi Zulkifli?

0
3246

BincangSyariah.Com – Ujang tertarik mengunjungi Nan Tien Temple karena ini adalah Temple terbesar di Australia. Selain ada pagoda, di area ini juga terdapat aula besar dengan lima patung Budha ukuran besar. Baik turis ataupun pemeluk Budha berdatangan dari berbagai penjuru dunia ke Temple ini.

Nan Tien Temple merupakan pengikut aliran Fo Guang Shan, yang didirikan tahun 1965 oleh Master Hsing Yun, dan kini memiliki 200 cabang di seluruh dunia. Nan Tien artinya “surga di selatan”. Temple ini berdiri sejak tahun 1995. Saat ini juga telah berdiri Institut kajian Budha di lokasi nan Tien Temple. Fo Guang Buddhism berasal dai tradisi Mahayana yang menekankan bahwa ke-budha-an itu berada dalam jangkauan potensi setiap orang. Pengikut aliran Fo Guang berusaha keras mewujudkan ajaran Budha dalam hidup keseharian dan menerapkan apa yang mereka sebut sebagai Budha humanis.

Pengikut Budha memang termasuk yang tumbuh cepat di Australia. Salah satu alasannya adalah ajaran Budha mengajarkan kedamaian melaluimeditasi. Masyarakat modern yang galau dengan berbagai tantangan kehidupan menemukan ketenangan lewat meditasi. Ada juga yang menganggap ajaran Budha lebih bersifat moral, tidak ada aturan hukum yang tegas dan kaku seperti Yahudi dan Islam.

Michael, kawan Ujang, bercerita bahwa dia pindah dari Kristen ke Budha. Ujang bertanya apa alasannya, dan ini jawaban Michael yang lumayan menggelitik.
“Saya merasa ajaran Kristen terlalu mudah. Cukup percaya yesus sebagai anak Tuhan dan hidup saya akan selamat masuk surga.”

Ujang merespon, “Kenapa tidak masuk Islam saja? Dalam Islam, iman harus dibarengi dengan amal sheleh (good deeds)”

Michael sambil tersenyum ramah menjawab, “Maaf, Ujang. Agama Islam itu terlalu sukar untuk saya. Karena harus sholat lima kali dalam sehari. Jadi, Kristen terlalu mudah, Islam terlalu sukar. Saya pilih Budha saja. Saya bisa ke Temple kapan saja saya suka tanpa ada aturan yang ketat. Saya menemukan kedamaian setelah memasuki agama Budha.”

Baca Juga :  Kenapa Delapan Zulhijjah disebut Hari Tarwiyah?

Di Nan Tien Temple, Ujang berkeliling, sambal berfoto-foto. Ada patung Dewi Kwan Im, dan juga patung Budha tertawa (the laughing Budha). Temple ini sudah menjadi obyek atraksi untuk para turis. Pak Benny bertanya pada Ujang, “Saya pernah dengar katanya Budha ini juga salah satu Nabi dalam Islam yah?”

“Wah panjang diskusinya pak Benny. Ayo kita cari tempat duduk.”

Ujang kemudian memulai penjelasannya:
“Ada 124 ribu jumlah para Nabi dan diantara mereka itu ada sekitar 315 para Rasul, namun hanya 25 yang diceritakan kisahnya dalam al-Quran: “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Al-Mu’min 40:78).

“Ini maknanya, pertama, ada sejumlah Nabi yang Allah sebutkan namanya secara jelas dalam Quran. Ada 25 Nabi yg masuk kategori ini. Kedua, ada yang Allah singgung kisahnya tanpa menyebutkan namanya secara jelas. yang masuk kategori ini seperti Nabi Samuel, Nabi Khidr, Nabi Uzair.”

“Ketiga, ada yang tidak Allah ceritakan dan tidak pula Allah singgung dalam Quran tapi diceritakan oleh Nabi Muhammad. Misalnya Nabi Sith, Nabi Yusa, Nabi Samson. Keempat, ada juga kisah orang suci yg Allah ceritakan baik disebut namanya secara jelas atau tidak disebutkan namun para ulama masih berdebat apakah mereka termasuk kategori Nabi atau bukan. Misalnya yang masuk kategori ini nama-nama spt Zulkarnain dan Lukman. Ada juga kisah Habib an Najjar dalam surat Yasin yang tdk disebut namanya secara jelas.”

“Kelima, ada Nabi-Nabi yang Allah dan RasulNya tidak ceritakan tapi disebutkan dalam kitab suci sebelum Quran. Misalnya, di Iskandariyah Mesir terdapat masjid dan makam Nabi Danial. Keenam, di luar nama-nama dalam perjanjian lama dan baru, ada juga nama-nama tokoh utama dalam agama lain yang menurut sebagian ulama boleh jadi mereka juga para Nabi. Misalnya, ada yang menyebut kalau Nabi Luth itu Lao Tze, Budha itu Nabi Zulkifli, dan lain-lain. Wa Allahu a’lam.”

Baca Juga :  Kontribusi Ibnu Khaldun dalam Ilmu Sejarah

“Jadi, benar ada ulama yang menyebut kemungkinan Budha itu seorang Nabi?”

“Iya, misalnya, mufasir Al-Qasimi (w. 1914 M) ketika menafsirkan surat ke-95 (At-Tin) menjelaskan bahwa sementara pakar pada masanya memahami kata At-Tin sebagai pohon (di mana) pendiri agama Budha (memperoleh wahyu-wahyu Ilahi), kemudian Al-Qasimi menegaskan bahwa: ‘Dan yang lebih kuat menurut pandangan kami bahkan yang pasti, bila tafsir kami ini benar, adalah bahwa dia (Budha) adalah seorang Nabi yang benar.’”

“Bukankah ada kisah hidup yang berbeda antara Nabi Zulkifli dan Budha itu?” tanya Pak Benny lagi.

“Iya, memang di sana kemusykilannya. Para ulama yang sejalan dengan al-Qasimi ini mengatakan bahwa beliau menjelaskan buah Zaitun melambangkan Jerusalem, dan Nabi Isa. Bukit Sinai melambangkan Nabi Musa dan Yahudi. Kota Mekah menunjukkan Islam dan Muhammad SAW.”

“Lalu pohon Tin (fig) melambangkan apa? Tin (fig) = Pohon Bodhi. Pohon Bodhi adalah tempat Buddha mencapai Pencerahan Sempurna. Prof. Hamidullah juga berpendapat sama dengan al-Qasimi bahaw perumpamaan pohon (buah) tin (fig) di dalam Al-Qur’an ini menunjukkan Buddha itu sendiri, maka dari sinilah mengapa sebagian ilmuwan Islam meyakini bahwa Budha diakui sebagai Nabi di dalam agama Islam.”

“Nama “Zulkifli” ada persamaan bunyi dengan “Kapilavastu”, yaitu nama tempat kelahiran Gautama Buddha. Hal ini menunjukkan kaitan antara Nabi Zulkifli dengan Gautama Buddha. Sebagian berpendapat lebih jauh lagi sampai mengatakan bahwa Buddha meramalkan kedatangan Maitreya, yang diyakini oleh sebahagian orang sebagai Nabi Muhammad .”

Pak Benny sedikit menggeser duduknya ke kiri, dan kemudian bertanya lagi: “Kalau Nabi Zulkifli itu dianggap salah satu Nabi bani Israel, apa kata Bibel soal Zulkifli ini?”

Baca Juga :  Para Ulama yang Belum Pernah Berhaji

“Ada orang percaya Nabi Zulkifli itu ialah Nabi Ezekiel/Yehezkiel sebagaimana yang disebutkan dalam Bible. Makin tambah rumit karena Tafsir al-Razi menyebutkan ada yang menganggap Nabi Zulkifli sama dengan Nabi Hizqil, yang konon merupakan pemimpin ketiga bani Israil sepeninggal Nabi Musa. Memang sulit memberikan jawaban pasti siapa sosok Nabi Zulkifli ini.“

Pak Benny dan Ujang kemudian melanjutkan langkah mereka melihat-lihat sambil berfoto selfie di Nan Tien Temple.

**

Kisah di atas diambil dari buku best seller lainnya karya Nadirsyah Hosen, “Kiai Ujang di Negeri Kanguru”, dan sudah dipublikasikan di situs nadirhosen.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here