Benarkah Aisyah Memerintahkan untuk Membunuh Uthman bin Affan?

0
660

BincangSyariah.Com – Telah dibahas dalam artikel sebelumnya mengenai adanya tiga sahabat Nabi Muhammad saw. yang utama, yang dalam berbagai literatur kesejarahan klasik seperti Tarikh al-Umam wa al-Muluk, al-Imamah wa as-Siyasah, dan lain-lain menjadi dalang intelektual bagi aksi penggulingan dan pemberontakan terhadap Uthman bin Affan, yaitu Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidullah dan az-Zubair bin al-Awam.

Kendati posisi Ali masih penuh kegamangan dalam aksi revolusi ini, namun paling tidak, Ammar bin Yasir, pengikut Ali dari kalangan sahabat yang paling setia bersama dengan Muhammad bin Abu Bakar dan Muhammad bin Abi Hudzaifah turut andil dalam memprovokasi massa untuk melakukan aksi protes terhadap Uthman bin Affan.

Terlepas dari peranan tokoh-tokoh besar dari kalangan sahabat Nabi tersebut, ada sahabat lain yang tidak disinggung dalam artikel sebelumnya, dan yang tak kalah gencarnya dalam memprovokasi, tidak hanya untuk menggulingkan Uthman bin Affan namun juga tokoh ini sangat lantang menyuarakan agar Uthman bin Affan dibunuh. Siapakah itu?

Dalam berbagai literatur kesejarahan seperti yang akan kita buktikan nanti, tokoh itu bernama Aisyah binti Abi Bakar, istri Nabi Muhammad saw. Dari sekian literatur kesejarahan yang ada, di sini kita coba kutipkan salah satu riwayatnya dari kitab al-Mahshul karya ar-Razi:

إن عثمان (ر) آخر ، عن عائشة (ر) بعض أرزاقها فغضبت ثم قالت : يا عثمان أكلت أمانتك وضيعت الرعية وسلطت عليهم الأشرار من أهل بيتك والله لولا الصلوات الخمس لمشى إليك أقوام ذوو بصائر يذبحونك كما يذبح الجمل ، فقال عثمان) : ضرب الله مثلاً للذين كفروا إمرأة نوح وإمرأة لوط ، الآية ، فكانت عائشة (ر) تحرض عليه جهدها وطاقتها وتقول : أيها الناس هذا قميص رسول الله (ص) لم يبل وقد بليت سنته إقتلوا نعثلاً قتل الله نعثلاً ، ثم إن عائشة ذهبت إلى مكة فلما قضت حجها وقربت من المدينة أخبرت بقتل عثمان ، فقالت : ثم ماذافقالوا : بايع الناس علي بن أبي طالب ، فقالت عائشة : قتل عثمان والله مظلوما أنا طالبة بدمه والله ليوم من عثمان خير من علي الدهر كله ، فقال لها عبيد بن أم كلاب ولم تقولين ذلك فوالله ما أظن أن بين السماء والأرض أحداً في هذا اليوم أكرم على الله من علي بن أبي طالب فلم تكرهين ولايته ألم تكوني تحرضين الناس على قتله فقلت : إقتلوا النعثل ، ثنا فقد كفر فقالت عائشة : لقد قلت ذلك ثم رجعت عما قلت : والله لأطلبن بدمه فقال عبيد بن أم كلاب هذا والله تخليط يا أم المؤمنين.

“Uthman bin Affan pernah terlambat dalam memberikan gaji [dari bait al-mal] untuk Aisyah. Aisyah lantas marah kepada Uthman bin Affan dan berkata: “Wahai Uthman engkau telah menyelewengkan jabatanmu, menzalimi rakyatmu dan menugaskan orang-orang buruk dari keluargamu [Bani Umayyah]. Kalau bukan karena salat lima waktu, akan datang kaum mengerti atas kezalimanmu yang akan menyembelihmu layaknya unta disembelih.” Kemudian Uthman bin Affan menjawab dengan menggunakan ayat Alquran yang artinya: [Allah memberikan perumpamaan bagi orang-orang kafir: istrinya Nuh dan istrinya Luth]. Lalu Aisyah pun memprovokasi massa dengan sekuat tenaga untuk menggulingkannya dengan mengatakan: “Wahai umat Islam!! Ini adalah baju Nabi Muhammad saw. yang belum pernah terkotori sama sekali. Sungguh malangnya, sekarang sunnah Nabi malah telah dikotori olehnya [Uthman bin Affan]. Saya perintahkan kalian untuk membunuh Nathal (akan dijelaskan di bawah). Semoga Allah membunuh Nathal.” Kemudian Aisyah pergi ke Mekkah untuk berhaji dan setelah selesai dan dalam perjalanan pulang ke Madinah, ia mendapat informasi tentang kematian Uthman bin Affan. Lantas Aisyah bertanya: “Ada informasi lagi?” Informan menjawab: “Orang-orang telah membaiat Ali sebagai khalifah.” Aisyah kemudian berkata: “Uthman telah dibunuh secara zalim. Demi Allah aku akan menuntut keadilan untuknya. Demi Allah, sehari dipimpin Uthman lebih baik daripada seribu tahun dipimpin Ali.” Abid ibnu Ummi Kilab kemudian menanyakan kepada Aisyah: “Mengapa engkau berkata seperti itu wahai Ummul Mukminin? Aku yakin tidak ada makhluk di antara langit dan bumi ini yang lebih mulia daripada Ali. Mengapa engkau tidak suka kepemimpinanya? Dulu engkau memerintahkan kami: bunuhlah Nathal karena dia telah kafir (dalam riwayat lain telah berbuat zalim).” Aisyah kemudian menjawab: “Betul saya dulu menyuruh demikian namun sekarang saya tarik pandangan saya itu. Demi Allah, aku akan menuntut balas atas kematiannya.” Abid ibnu Ummi Kilab menimpali: “Sungguh Ummul Mukminin sangat labil.”

Baca Juga :  Aisyah Ra.: Sahabat Perempuan yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadis

Data kesejarahan yang dikutip di sini paling tidak menceritakan empat hal penting: Pertama, awal konflik Aisyah dengan Uthman didorong oleh faktor ekonomi, yakni soal keterlambatan Uthman dalam memberi gaji untuk Aisyah sebagai istri Nabi.

Kedua, kekesalan Aisyah atas Uthman karena telah menyamakannya dengan istri Nuh dan Luth yang membangkang terhadap suami dan tidak mempercayai Allah Yang Esa.

Ketiga, kekesalan tersebut yang mendorong Aisyah memerintahkan untuk membunuh Uthman. Di sini lahirlah julukan terkenal dari Aisyah untuk Uthman, julukan itu bernada menghina, yaitu nathal, yang dalam lisan al-Arab artinya si tua bangka yang bodoh, tua bangka berjenggot panjang seperti orang Mesir/Yahudi dan makna peyoratif lainnya.

Keempat, ketika Uthman mati dan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah, Aisyah berubah pikiran, yakni menuntut darah Uthman kepada Ali.

Data kesejarahan ini dapat pula kita temukan dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya at-Thabari, al-Imamah wa as-Siyasah karya Ibnu Qutaibah, Syarh Nahjil Balaghah karya Ibnu Abil Hadid al-Mutazili dan dalam literatur kesejarahan lainnya.

Meski banyak riwayat sejarah yang menunjukkan keterlibatan Aisyah dalam pembunuhan Uthman, paling tidak sebagai dalang intelektualnya, namun apakah riwayat ini sahih jika dilihat dari sanadnya? Kita bisa melakukan evaluasi kepada sumber-sumber kesejarahan yang dirujuk dalam referensi di atas.

Dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk, at-Tabari menceritakan kisah ini melalui jalur periwayat yang konon bermasalah di mata ahli hadis. Periwayat bermasalah tersebut paling tidak ada dua yang dipersoalkan: Umar bin Saad dan Nashr bin Muzahim al-Munqiriy al-Kufiyy.

Umar bin Saad merupakan anak sahabat terkenal bernama Saad bin Abi Waqash dan banyak meriwayatkan hadis dari ayahnya tersebut. Namun yang menjadi cacat di kalangan sebagian ulama hadis ialah dosanya yang telah membunuh al-Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW. Ahmad bin Hanbal konon katanya tidak meriwayatkan hadis darinya karena telah membunuh cucu Nabi tersebut. Kendati demikian, ada ulama hadis terkemuka yang tetap menilainya thiqat, yakni al-Ajali.

Beliau menyebutkan beberapa hadis sahih riwayat Umar bin Saad ini dari bapaknya.
Sementara itu, Nashr bin Muzahim dinilai oleh kebanyakan kritikus hadis ahlu sunnah sebagai lemah dan bahkan ada yang menyebutnya sebagai kadzab (pembohong). Hal demikian seperti yang dipegang oleh al-Uqaili, adz-Dzahabi, Abu Khaithamah, al-Jauzijani dan Abu Hatim ar-Razi. Namun di kalangan Sunni lainnya, sosok Nashr ini juga dianggap sebagai seorang yang kredibel dalam meriwayatkan hadis. Hal demikian seperti yang dipegang oleh Ibnu Hibban dalam kitab at-Tsiqat dan oleh Abul Faraj al-Asfahani.

Pandangan mengenai kredibilitas Nashr bin Muzahim ini dipegang juga oleh ulama dari kalangan Muktazilah seperti Ibnu Abil Hadid. Meski tertuduh sebagai Syiah, Ibnu Abil Hadid menilainya sebagai netral: thiqat thabat, sahih fi an-naqal, ghoir mansub ila hawa wa la idghal. An-Najasyi, ulama Syiah yang menguasai al-Jarh wa at-Tadil juga menilainya sebagai periwayat yang andal.

Baca Juga :  Tips Jitu Agar Dikaruniai Keturunan Menurut Alquran

Dengan demikian, keterandalan periwayatan oleh Nahsr bin Muzahim ini diakui oleh sebagian ulama Sunni, Syiah dan Muktazilah.

Dengan melihat penilaian-penilaian dari ulama hadis di atas, jelaslah bahwa keterandalan dua periwayat tersebut masih diperdebatkan. Namun pertanyaannya, bisakah kenyataan sejarah dinilai keasliannya berdasarkan kepada al-Jarh wa at-Tadil dalam ilmu hadis? Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah-nya menjawab tidak. Baginya al-Jarh wa at-Tadil hanya berlaku kepada hadis-hadis tentang keagamaan dan tidak bisa dipakai untuk menilai validitas data kesejarahan.

Data kesejarahan tentang Aisyah yang disebut di atas (uqtulu nathalan) dinarasikan oleh ulama-ulama yang sebenarnya mengagungkan para sahabat seperti Ibnu Jarir at-Tabari, Ibnu al-Athir, Ibnu Qutaibah dan lain-lain. Mereka adalah ulama-ulama Sunni yang terkenal dan sangat menghormati para sahabat terutama Aisyah, istri Nabi. Namun benarkah Aisyah memerintahkan untuk membunuh Uthman bin Affan?

Jika dilihat dari segi kepopuleran informasinya, akan kita temukan bahwa data kesejarahan mengenai perintah Aisyah ini banyak ditemukan dalam an-Nihayah karya Ibnu al-Atsir al-Jazari as-Syafii, Tajul Arus karya az-Zabidi, Lisan al-Arab karya Ibnul Mandzur, al-Mukhtasar fi Akhbar al-Basyar karya Abul Fida Ibnu Kathir, at-Tabaqat al-Kubra karya Ibnu Saad dan al-Iqdul Farid karya Ibnu Abdil Barr. Kita bisa mengecek langsung kebenarannya dengan meneliti dan mengaksesnya secara cepat di al-Maktabah as-Syamilah.

Perintah pembunuhan Uthman oleh Aisyah ini makin dipertegas lagi oleh banyaknya syair-syair yang berseliweran di berbagai sumber kesastraan. Tentu yang menjadi tanda tanya, melalui keterangan di atas dan pembacaan terhadap artikel sebelumnya, mengapa Thalhah dan az-Zubair yang awalnya memprovokasi umat Islam untuk menggulingkan Uthman bin Affan, tiba-tiba berbalik arah menuntut keadilan kepada Ali bin Abi Thalib atas kematian Uthman? Mengapa juga Aisyah yang awalnya memerintahkan untuk membunuh Uthman malah berubah pikiran untuk menuntut keadilan bagi Uthman? Ada apa ini semua? Politik kadang memang susah ditebak.

Namun tampaknya tujuan Thalhah, az-Zubair, dan Aisyah bersatu melawan Ali bin Abi Thalib ialah untuk mendapatkan tampuk kekuasaan sebagai khalifah. Tentu calon yang lebih kuat ada pada Thalhah dan az-Zubair. Pasalnya, Aisyah mendukung Thalhah karena kedekatannya secara kesukuan. Aisyah dan Thalhah lahir dari satu suku yang sama, Bani Taym. Di sisi lain, Thalhah dalam banyak literatur kesejarahan banyak membantu Aisyah dalam hal finansial. Konon Thalhah sering memberi Aisyah sekitar sepuluh ribu dinar tiap harinya. Az-Zubair juga didukung oleh Aisyah oleh karena ia adalah suami kakaknya yang bernama Asma binti Abi Bakar.

Kenyataan lain juga semakin dipertegas oleh sikap oposisi saudara Aisyah yang bernama Muhammad bin Abi Bakar terhadap Uthman. Ketika menindih kepala Uthman bin Affan sebelum dibunuh oleh orang tak dikenal dari Mesir, Muhammad bin Abi Bakar ini menyebut Uthman sebagai nathal, sebutan yang populer berasal dari Aisyah sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Pasca dibaiatnya Ali untuk menjadi khalifah, Aisyah tidak setuju. Sebaliknya ia lebih memilih Thalhah atau az-Zubair yang dekat dengannya secara kesukuan. Mungkin jika dilihat secara politik dinasti, Aisyah dan Thalhah berambisi untuk membangkitkan kembali bayang-bayang kepemimpinan Bani Taym yang disimbolkan secara sempurna dalam sosok Abu Bakar.

Kenyataan lain dipertegas dengan apa kepentingannya Aisyah jauh-jauh dari Madinah menuju Basrah hanya untuk bertempur dengan Ali dengan motif menuntut kematian Uthman yang menurutnya telah zhalim? Tentu ada maksud lain, yakni, kekuasaan yang ingin ia tarik kembali ke pangkuan Bani Taym melalui sosok Thalhah atau ke pangkuan Bani Asad melalui sosok az-Zubair yang meski bukan dari sukunya, paling tidak, akan menguntungkan suku Bani Taym sendiri baik secara politik maupun ekonomi.

Ada baiknya analisis ini kita pertegas dengan data kesejarahan yang terekam dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya at-Tabari. Dalam kitab ini, Said bin al-Ash diceritakan pernah menanyakan kepada Thalhah dan az-Zubair dengan pertanyaan berikut ini:

Baca Juga :  Ibnu Athaillah Jelaskan Soal Firasat dalam Hadis Nabi

إن ظفرتما لمن تجعلان الأمر؟ قالا: لأحدنا، أيا اختاره الناس. قال: اجعلوه لولد عثمان، فإنكم خرجتم تطلبون دمه. قالا: ندع شيوخ المهاجرين (يقصدان نفسيهما) ونجعلهما لأبنائهم. قال: لا، لا أراني أسعى لإخراجهما من بني عبد مناف.

“Jika kalian menang melawan Ali, untuk siapa tampuk kekhalifahan diberikan? Thalhah dan az-Zubair menjawab: tentu untuk salah seorang di antara kami, terserah umat Islam mau memilih yang mana. Said bin al-Ash kemudian mengusulkan: Tidak, seharusnya tampuk kekhalifahan dipegang oleh keturunan Uthman karena kalian sendiri memerangi Ali hanya untuk menuntut keadilan atas kematian Uthman. Thalhah dan az-Zubair menjawab: tidak, kita serahkan tampuk kepemimpinan kepada pembesar Muhajirin [maksudnya Thalhah dan az-Zubair] dan keturunanya. Said bin al-Ash mengatakan: tidak, aku tidak akan membiarkan tampuk kekuasaan kekhilafahan diberikan kepada selain keturunan Bani Abdi Manaf.”

Keterangan dari at-Tabari ini paling tidak dapat menjelaskan kepada kita bahwa motif memerangi Ali ini bersifat politis.

Sementara itu, pasukan perang dari pihak Thalhah dan az-Zubair ini menariknya dibiayai oleh Yala bin Munayyah (amilnya Uthman di Yaman dan seorang saudagar kaya) dan Abdullah bin Amir (kerabat Uthman sekaligus yang menjadi amilnya di Basrah dan negeri-negeri Persia).

Ketika mengetahui motif politik yang mendorong Thalhah dan az-Zubair untuk memerangi Ali ini, Said bin al-Ash tentu menarik mundur beberapa orang pasukan dari Bani Umayyah dan aliansinya dari Thaqif. Kelak, anggota Bani Umayyah yang masih ikut di barisan Thalhah, yakni Marwan bin al-Hakam, mengarahkan panahnya ke Thalhah sehingga jatuh dari kudanya dan mati. Az-Zubair sendiri tewas di tangan tentara Ali bin Abi Thalib.

Jika kita kembali lagi ke pembahasan mengenai Aisyah ini, dapat disimpulkan bahwa perangnya terhadap Ali tidak semata karena menuntut kematian Uthman bin Affan namun lebih kepada upaya untuk mengembalikan kekuasaan kekhilafahan ke tampuk Bani Taym yang saat itu disimbolkan melalui sosok Thalhah bin Ubaidillah.

Saat revolusi atas Uthman yang didukung Thalhah dan az-Zubair terjadi, Aisyah lah yang paling getol mendorong umat untuk melawan Uthman dan di saat yang terakhir ini wafat dan malah Ali yang memegang tampuk kekuasaan [bukan Thalhah], pilihan politiknya beralih ke Uthman namun bukan untuk Uthman [Bani Umayyah] sendiri, tapi lebih kepada dukungan yang makin menguat kepada Thalhah, anak pamannya dan az-Zubair, suami kakaknya; sebuah manuver politik istri Nabi yang sangat cerdas. Namun sayangnya, di tahap selanjutnya, ia tidak berhasil mengalahkan manuver politik Ali dan kelak karena kecerdasan Muawiyah, tampuk kekhalifahan kembali lagi ke Bani Umayyah.

Berkaca dari Aisyah ini secara khususnya dan konflik sahabat dan anak-anaknya secara umumnya, dalam sejarah selalu saja agama dijadikan tameng untuk manuver-manuver politik tertentu. Manuver politik ini tidak lain untuk menyelamatkan kepentingan ekonomi. Terbunuhnya Uthman bukan lebih karena soal kepentingan ekonomi elit tertentu, yang pada tahap selanjutnya bersembunyi di balik politik berwajah agama. Riwayat yang disampaikan ar-Razi dalam kitab al-Mahsul seperti telah dikutip di awal artikel ini telah membuktikan kenyataan demikian.

Allahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.