Belajar Ulumul Quran: Sejarah Kemunculan Madrasah Tafsir pada Era Tabiin

0
2732

BincangSyariah.Com – Sepeninggal Rasulullah saw kehidupan umat muslim di era sahabat terus berlanjut. Sebagaimana kehidupan bermasyarakat pada umumnya, para sahabat pun beraktivitas sesuai dengan keahliannya masing-masing. Selain meneruskan estafet politik, mereka pun bekerja dengan berdagang, bercocok tanam, menggembala ternak, dan lain sebagainya. Meski demikian, proses belajar mengajar terus berlangsung.

Pada tulisan sebelumnya (Belajar Ulumul Quran: Para Sahabat Nabi Saling Belajar) telah dijelaskan bagaimana sahabat senior belajar kepada yang junior dalam hal ini adalah Abdullah bin ‘Abbas, sahabat yang dijuluki dengan turjumanul Quran karena keahliannya di bidang tafsir al-Quran. Tidak ada gengsi di antara para sahabat untuk memahami al-Quran al-Karim. Yang senior menyayangi yang junior, begitu pun yang junior menghormati para sahabat senior.

Pasca era sahabat, lahirlah generasi yang tidak pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad saw, tetapi tetap beriman kepada Nabi. Genarasi ini dikenal dengan istilah tabi’in yang secara harfiah berarti para pengikut. Meskipun tidak dapat bertemu dan menimba ilmu dari Rasulullah saw, generasi tabi’in ini tetap melanjutkan estafet keilmuan dengan belajar kepada para sahabat.

Berkaitan dengan perkembangan ilmu tafsir di masa ini, Husein al-Dzahabi dalam kitabnya al-Tafsir wa al-Mufassirun menjelaskan bahwa pada masa ini muncul tiga madrasah tafsir yang paling berpengaruh dan melahirkan banyak ahli tafsir dari kalangan tabi’in.

Pertama Madrasah Mekah. Madrasah di Mekah diasuh oleh Abdullah Ibnu Abbas. Di antara murid-murid yang menonjol dari madrasah ini antara lain Sa’id bin Jabir bin Hisyam, Mujahid bin Jabar, Ikrimah al-Madani Maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan al-Yamani, dan ‘Atha bin Abi Rabah. Di antara mereka yakni Mujahid bin Jabar telah melakukan penafsiran al-Quran berdasarkan akal. Hal ini sebagaimana penafsirannya terhadap Q.S Al-Baqarah ayat 65:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِين

Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakana kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!”

Mujahid bin Jabar sebagaimana dikutip oleh Ibnu Jarir al-Tabari menafsirkan ayat di atas dengan keterangan bahwa ayat ini merupakan perumpamaan Allah swt bagi orang-orang Yahudi pada masa lampau untuk mengatakan bahwa hati dan kelakuan mereka seperti kera.

Kedua Madrasah Madinah. Di Madinah guru yang paling berpengaruh adalah Ubay bin Ka’ab, meskipun tidak dipungkiri bahwa ada juga sahabat lain yang mengajar para tabi’in. Akan tetapi yang paling terkenal dan melahirkan murid-murid yang handal adalah Ubay bin Ka’ab. Di antara muridnya yang masyhur adalah Abu al-‘Aliyah Rafi’ bin Mihran, Muhammad bin Ka’ab al-Qardzi, dan Zaid bin Aslam. Kemasyhuran ketiga tabi’in ini diteruskan dengan kemasyhuran para muridnya. Imam Malik bin Anas diketahui sebagai salah satu murid dari Zaid bin Aslam.

Ketiga Madrasah Kufah. Para tabiin yang tinggal di Kufah belajar kepada Abdullah bin Mas’ud. Berbeda dengan Madinah dan Mekah yang di dalamnya banyak sahabat utama yang menetap, di Kufah bisa dikatakan hanya Abdullah bin Mas’ud yang paling mumpuni di bidang tafsir dan juga di bidang qiraat yang diperhitungkan. Di antara para muridnya adalah ‘Alqamah bin Qais, Masruq bin al-Ajza’, al-Aswad bin Yazid, Murrah al-Hamdani, ‘Amir bin Syu’bi, al-Hasan al-Bashri, dan Qatadah bin Da’amah.

Inilah tiga madrasah utama yang ada pada masa tabi’in. Tidak dipungkiri bahwa pada masa ini, penafsiran berbasis riwayat dari Nabi masih dominan sehingga bila ditemukan tafsir atas dasar analisis atau logika, masih diragukan keabsahannya. Sebagaimana penafsiran Mujahid bin Jabar di atas. Bahkan Ibnu Jarir al-Tabari yang mengutip pendapat Mujahid, menurut Husein Al-Dzahabi menolak pendapat Mujahid karena tidak berlandaskan pada riwayat.

Dalam hal ini Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan bahwa tafsir tabi’in yang tidak berdasarkan metode bi al-ma’tsur (riwayat dari Nabi) dibagi menjadi dua kategori: diterima oleh para ulama (qabul) dan tidak diterima oleh generasi setelahnya (‘adam al-qabul).

Terlepas dari perdebatan di atas, setidaknya kita telah mengetahui bahwa transformasi penafsiran hadis terus berlangsung dari generasi sahabat ke generasi tabi’in. Meskipun pada masa ini belum dilakukan kodifikasi atau penulisan karya tafsir secara utuh, akan tetapi riwayat-riwayat dari mereka tetap sampai kepada kita melalui kitab tafsir dari para ulama setelahnya. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here