Belajar Ulumul Quran: Perbedaan Tafsir dan Takwil     

0
1513

BincangSyariah.Com – Dalam kalimat pembuka sebuah buku berjudul al-Burhan fi Ulumil Quran (petunjuk dalam ilmu-ilmu al-Quran), Badruddin al-Zarkasyi (w. 794 H) menulis: “al-tafsir ilmun yu’rafu bihi fahmu kitab Allahi al-Munazzal ‘ala Nabiyyihi Muhammad, wa Bayan Ma’anihi, wastikhraj Ahkamih wa Hikamih” Tafsir adalah ilmu untuk memahami Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, mendalami makna, hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Dari definisi di atas, kita tahu bahwa Al-Zarkasyi tidak menggunakan kata ta’wil untuk menjelaskan disiplin ilmu ‘tafsir’ sebagaimana dikenal sekarang ini. Padahal, kitab penjelasan al-Quran lengkap 30 juz paling awal karya Muhammad Ibnu Jarir al-Tabar (w. 310 H), berjudul Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Quran (kumpulan penjelasan takwil ayat-ayat al-Quran).

Kisah populer mengenai kedudukan Ibnu Abbas sebagai ahli al-Quran berkat doa Nabi pun masih memakai kata takwil. Nabi Muhammad berdoa untuk Ibnu Abbas: “Allahumma Faqqihhu fi al-Din wa ‘Allimhu al-Ta’wil” Ya Allah jadikanlah Ia paham agama dan ajarkanlah ia takwil.

Dalam al-Quran sendiri kata ta’wil lebih mudah ditemukan dibandingkan tafsir. Fuad Abdul Baqi (w. 1964 M) mencatat sedikitnya ada enam belas kata ta’wil yang tersebar dalam surat Ali Imran, al-Nisa, al-A’raf, Yunus, Yusuf, al-Isra dan al-Kahfi. Sedangkan kata tafsir hanya disebutkan satu kali saja dalam surat al-Furqan ayat 33.

Pertanyaannya mengapa kata tafsir lebih populer dibandingkan ta’wil? Lalu apa perbedaan antara tafsir dan takwil?

Tidak ada jawaban pasti mengenai kapan kata tafsir digunakan, begitupun dengan perbedaan di antara keduanya. Ali Suleiman Ali lewat bukunya A Brief History of Quranic Exegesis mengatakan bahwa kata tafsir mulai populer sebagai disiplin ilmu sejak abad kedua dan ketiga hijriah. Tokoh yang dianggap pertama kali mempopulerkan tafsir adalah Abdullah Ibnu Umar yang berkata: “Ma yu’jibuni jaraat Ibnu Abbas ‘ala tafsir al-Quran fal an qad ‘alimtu annahu utiya ‘Ilm.” Ungkapan ini tetap tidak dapat dijadikan pijakan karena tidak mengisyaratkan sebagai pemicu massifnya penggunaan kata tafsir. Sebaliknya, cerita-cerita dan ungkapan di atas dapat menunjukkan bahwa kata tafsir dan takwil digunakan bergantian dalam makna yang sama.

Baca Juga :  Albani dalam Pandangan Ali Mustafa Yaqub

Baik tafsir maupun takwil keduanya telah diserap dan menjadi bahasa Indonesia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tafsir adalah keterangan atau penjelasan tentang ayat-ayat Alquran agar maksudnya lebih mudah dipahami, sedangkan takwil yakni penafsiran makna ayat Alquran, mengandung pengertian yang tersirat (implisit).

Merujuk pada definisi kedua kata takwil, lumrah kita dengar atau pun baca kata takwil lebih lekat dipadankan dengan kata mimpi menjadi ‘takwil mimpi’.  Hal ini dapat dikaitkan dengan kisah Nabi Yusuf yang tercatat dalam Q.S Yusuf ayat 100. Ketika Nabi Yusuf sebagai pejabat tinggi di Mesir menerima rombongan keluarganya seraya mengatakan “Wahai ayahku inilah takwil mimpiku sebelumnya (ketika ia kecil bermimpi melihat bulan dan bintang bersujud kepadanya).

Terlepas dari itu semua, penggunaan dan pemilihan kata tetap bergantung pada kesepakatan penutur. Kata tafsir dan kata takwil telah memiliki tempatnya masing-masing. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here