Belajar Toleransi Dari Imam Ashafa dan Pastor James Nigeria

0
7

BincangSyariah.Com – Imam Ashafa dan Pastor James adalah dua tokoh agama dari Nigeria. Nigeria merupakan negara multietnis dengan jumlah penduduk terbesar di Afrika Barat. Setidaknya, ada sekitar  350 etnis yang menetap di sana. Adapun soal agama, mayoritas penduduknya menganut Islam dan Kristen sementara sisanya menganut ajaran tradisional Afrika.

Keragaman suku, budaya serta kepercayaan merupakan sebuah anugrah. Namun, jika tidak dipahami dan dikelola dengan baik persinggungan serta gesekan antar suku sangat riskan terjadi. Begitulah sejarah kelam yang pernah menimpa Nigeria pada awal tahun 1990an tepatnya di kota Kaduna.

Masyarakat Muslim kala itu bersitegang dengan masyarakat Kristen, mereka  melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Jika dikulik lebih dalam lagi, konflik ini tidak hanya soal perbedaan agama dan etnis, namun menyangkut banyak faktor seperti kecemburuan sosial, tindak pidana korupsi dan sitem pembagian wilayah warisan kolonialisme.

Akibat insiden itu banyak penduduk kehilangan temannya, saudaranya bahkan ayah ibunya. Kepedihan atas kehilangan tersebut memupuk kebencian satu sama lain, yang memicu konflik tiada akhir, mereka terus bertikai demi menyalurkan hasrat balas dendam.

Imam Ashafa dan Pastor James

Berdasarkan buku Ketika Agama Bawa Damai Bukan Perang karya Ihsan Ali Fauzi dkk, diantara saksi hidup yang pernah terlibat langsung dan berperan aktif dalam konflik berdarah itu adalah dua pemuda yang kelak akan menjadi pemuka agama, Ashafa seorang anak dari keluarga muslim religius dan James yang terlahir dari keluarga tentara kristen. Meski berbeda latar belakang, keduanya sama – sama tumbuh berkembang di lingkungan sarat kebencian yang secara tidak langsung membuat keduanya mengamini tindakan kekerasan.

Keduanya aktif berorganisasi. Ashafa bergabung dalam organisasi pemuda Islam bernama Jamaat Nasr Islam dan NACOMYO. Ia menduduki jabatan tinggi di organisasi tersebut. Ia bertekad melakukan misi Islamisasi serta mencegah Kristen menguasai Nigeria Utara. Sementara James Wuye, bergabung ke dalam organisasi Sayap Pemuda Asosiasi Kristen Nigeria dan kelompok milisi muda Kristen.

Kerusuhan pada tahun 1992 yang awalnya terjadi di pasar Zangon Kataf menyebar sampai ke tempat tinggal Ashafa dan James di Kaduna. Akibatnya, kedua belah pihak saling serang hingga menyebabkan korban luka bahkan korban jiwa. Ashafa yang pada saat itu berada di rumah sakit, melihat sendiri hilir mudik korban muslim terus berjatuhan. Ia begitu terpukul sebab ternyata dua sepupu serta guru spiritualnya turut meninggal dalam peristiwa naas itu.

Nasib yang sama menimpa James. Ia harus rela kehilangan tangan kanannya tatkala berupaya melindungi gereja. Keduanya memang tidak pernah bertemu secara langsung, namun rentetan kepedihan tersebut membuat hasrat keduanya untuk saling menghabisi kian berkobar.

Rekonsiliasi Konflik

Lambat laun keduanya menyadari bahwa balas dendam tidak akan pernah menjadi solusi terbaik. Yang ada korban kekerasan dari kedua belah pihak akan terus berjatuhan. Saling memaafkan adalah jalan terbaik untuk mengakhiri konflik berkepanjangan ini. Keduanya menyadari itu, namun perlu waktu hingga keduanya bisa meredam dendam lalu saling memaafkan.

Benih toleransi mulai merebak di hati Ashafa, setelah ia mendengarkan sebuah khutbah di masjid. Dalam khutbah tersebut dijelaskan bahwa Islam mengajarkan untuk mau memaafkan bahkan kepada musuh yang paling menyebalkan.

Saat Rasulullah hijrah ke Thaif lalu dilempari batu hingga berdarah, Rasul tidak membalas perbuatan mereka namun memilih memaafkan dan mendoakan mereka. Hal ini membuat Ashafa terenyuh dan menyadari hakikat Islam yang sebenarnya. Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan.

Ia pun memberanikan diri untuk mengunjungi musuh bebuyutannya, James di kantornya. Hal tersebut membuat kaget seisi ruangan. Di pertemuan awal, James belum percaya dengan perubahan sikap Ashafa. Selanjutnya pertemuan kedua belah pihak lebih intens digelar namun James tetap belum bisa mempercayai iktikad baik Ashafa.

Sampai suatu hari, ibu James jatuh sakit. Ashafa bersama beberapa sahabatnya segera menengok ibu James. Dan di titik itulah James percaya bahwa Ashafa adalah seorang muslim yang baik. Segala bentuk kecurigaannya pun mulai luntur lalu hilang. Ia pun tersadar, seharusnya ia mengikuti bagaimana Tuhan ingin melihat muslim bukan melihat muslim atas dasar egonya sendiri. Tak lama setelah itu, ibu James meninggal. Ashafa turut berdukacita atas itu.

Setelah peristiwa religius itu, keduanya bersahabat baik. Sebagai tokoh yang memiliki banyak pengikut, keduanya saling bahu membahu mengajak kelompoknya untuk mengakhirinya konflik, untuk saling memaafkan, menghormati dan percaya serta tidak lagi melakukan tindak kekerasan karena bagaimanapun kekerasan tidak pernah diajarkan agama manapun.

Kisah tentang Imam Ashafa dan Pastor James diabadikan dalam film dokumenter The Imam and The Pastor, Pastor James mengungkap jika ada permasalahan diantara keduanya, keduanya akan menempuh jalan musyawarah. James berkata: “Ketika saya terluka dan saya tau dia yang menyakiti saya, saya akan berkata: Ashafa saya butuh bantuanmu. Segera dia tau bahwa dia telah menyakiti saya dan dia akan sampaikan hal yang sama kepada saya. Lalu kami pergi untuk apa yang kami sebut dengan penyembuhan. Di sana kami berbicara terbuka dari hati ke hati. Dan begitulah cara kami merespon  perbedaan selama ini”.

James mengungkap bahwa ia bisa menjadi pengikut kristen yang taat tanpa membenci muslim. Ia berkata, “Saya praktekan iman saya dengan penuh semangat dan ia juga begitu. Kami tetap eksis berdampingan dan hidup bersama. Ya, Kristen dan Islam bisa hidup bersama”.

Ashafa membenarkan ucapan James. “Walaupun dia bukan muslim, saya senang kepadanya. Saya dapat berikan nyawa saya demi melindungi kehormatan dan martabatnya. Ini yang Islam ajarkan untuk saya lakukan. Saya mengasihi dia karena saya diajarkan untuk mengasihi tetangga seperti mengasihi diri sendiri. Saya hidup dengan prinsip itu”.

Kisah hidup tentang Imam Ashafa dan Pastor James adalah bentuk dari teladan toleransi yang mestinya menjadi teladan bagi seluruh umat Islam di dunia. Kisah mereka berdua adalah bukti bahwa kemanusiaan berada di atas segalanya.

(Baca: Quraish Shihab: Tanpa Toleransi, Hidup Akan Terganggu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here