Belajar Tentang Kehidupan dari Surat An-Nas

6
1819

BincangSyariah.Com – Surat yang terakhir dalam Alquran adalah surat An-Nas yang berarti “manusia”, turun bersamaan dengan surat Al-Falaq yang berkaitan tentang kejadian yang menimpa Nabi, berupa sihir yang dilakukan Labid bin Al A’shom, seperti dalam kutipan tafsir yang ditulis Ibnu Asyur, beliau mengutip pendapat Imam Suyuti dalam Kitab Al-Itqan.

Surat An-Nas berbunyi:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Artinya:

  1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
  2. Raja manusia.
  3. Sembahan manusia.
  4. Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,
  5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
  6. Dari (golongan) jin dan manusia.

Di dalam surat ini, ada pengulangan kata “an-nas” sampai lima kali, semuanya menyimpan makna tersendiri terutama ayat satu sampai tiga ada awalan kata malik, rabb dan ilah merupakan permintaan kepada Allah dengan menyebut ketiga sifatnya dari godaan waswas seperti yang dipaparkan oleh Syeh Nawawi Al Bantani dalam tafsirnya, dan juga sebagai petunjuk  menuju sebuah proses yang akan dilalui oleh manusia. Imam Suyuti dalam Asrar Tartib Al Qur’an mengutip pendapat Ibnu Al Zamlakani yang mengupas tuntas tentang penggunaan kata “an-nas” dalam surat itu, di antaranya:

  1. Kata an-nas yang berarti “fase kanak kanak”.

Kata an-nas didahului dengan kata rabbi yang mengisyaratkan bahwa proses kehidupan ini diawali dengan fase kanak-kanak yang seharusnya  mendapatkan pendidikan, karena kata rabbi berasal dari kata rabiha yarbahu yang berarti mendidik. Jadi, Allah Swt. mendidik dan mengajarkan banyak hal melalui ayat yang tersurat yaitu Alquran maupun Hadis, serta ayat yang tersirat, yaitu alam semesta ini.

Baca Juga :  Makna dan Fadhilah Bulan Sya'ban

2. Kata an-nas yang berarti “fase dewasa”.

Dalam ayat kedua, kata an-nas didahului dengan kata malik yang berarti pemimpin atau raja. Hal ini identik dengan orang yang memasuki fase kedewasaan seseorang dalam berpikir serta bertindak setelah melalui pengembaraan menimba ilmu di fase anak-anak, kemudian siap terjun di masyarakat menjadi seorang pemimpin yang mampu mengemban tugas dan amanat yang diberikan kepadanya.

3. Kata an-nas yang berarti memasuki “fase tua”.

Ayat ketiga, kata an-nas diawali kata ilah yang berarti Tuhan seluruh manusia, kata ini mengidentikkan tentang ibadah terhadap Tuhan, yang biasanya dilakukan oleh orang-orang tua setelah merasakan lika-liku kehidupan, mulai getir pahitnya sebuah profesi, jabatan, maupun kedudukan, golongan ini merasakan adanya kekosongan spiritual dalam hatinya, dan merasa ajal semakin mendekatinya.

4. Kata an-nas dalam ayat 5 berarti “ulama” dan “ahli ibadah”.

Ayat yang kelima mengisyaratkan tentang ujian maupun godaan yang selalu menghantui mereka, terutama karena banyak pendapat ulama dalam kitab-kitab literatur. Kadangkala seorang ulama menjadi bimbang dalam menentukan jawaban sebuah permasalahan yang terjadi, begitu juga banyak orang yang mengetahui agama, namun tidak mau mengamalkannya. Begitu juga yang dirasa seorang yang ahli ibadah dalam menjalankan ajaran agama, kadang terlintas keraguan dalam hatinya, ia merasa ibadahnya pasti diterima tanpa mendasari dengan ilmu yang mumpuni.

Seperti Syair arab yang tertuang dalam kitab Ta’limul Mutaallim berbunyi:

فسَادٌ كَبيرٌ عَالمٌ مُتَهتِّكُ…وأَكبَرُ مِنهُ جَاهِلٌ مُتَنسِّكُ

هما فِتنَةٌ في العَالمينَ عَظِيمَةٌ…لمن بهِما في دِينِه يتَمسّكُ

Artinya: akan terjadi kerusakan yang besar sekali, terutama yang dilakukan 2 golongan: Pertama, orang yang mengetahui ilmu agama, namun tidak mempraktekkan ilmunya. Kedua, ahli ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu, keduanya akan menjadi sumber masalah bagi yang mengikuti keduanya.

5. Kata an-nas dalam ayat ke 6 menujukkan “manusia penggoda”.

Baca Juga :  Abu Rayyah: Kritikus Hadis Asal Mesir

Yang mempunyai perangai jahat, seringkali bikin onar, dan menyusahkan orang lain. Ayat ini juga mengisyaratkan tentang godaan yang menghalangi langkah manusia dalam menjalankan kebaikan, ada yang terlihat jelas yaitu dari golongan manusia, begitu juga ada golongan jin yang kasat mata.

6 KOMENTAR

  1. Terima kasih pak afif atas penjelasannya. Namun, ada yang sedikit perlu diperbaiki pada penjelasan ayat 1, bahwa kata rabaha yarbahu bukan berarti mendidik, tapi artinya untung/ beruntung. Sedangkan mendidik dalam bahasa arab adalah robba yurobbi tarbiyatan. Demikian, terima kasih….

  2. Terima kasih pak afif atas penjelasannya. Namun, ada yang sedikit perlu diperbaiki pada penjelasan ayat 1, bahwa kata rabaha yarbahu bukan berarti mendidik, tapi artinya untung/ beruntung. Sedangkan mendidik dalam bahasa arab adalah robba yurobbi tarbiyatan. Demikian, terima kasih….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here