Belajar Membebaskan dan Memaafkan dari Nabi

4
516

BincangSyariah.Com – Delapan tahun sudah Nabi bermukim di Madinah. Selama berada di kota ini, beliau telah berhasil menarik hati ribuan pengikut dan simpatisan. Tak ada pemaksaan untuk itu. Kepribadian beliaulah yang menarik hati penduduk Madinah.

Tiba-tiba Nabi rindu menengok Mekkah, kampung halaman tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Saat hendak meninggalkannya (hijrah), beliau sempat berdoa sambil memandang Kakbah, memohon kepada Allah agar bisa kembali.

Nabi diikuti para pengikutnya yang diperkirakan berjumlah 10.000 berangkat menuju Mekkah. Setelah menempuh perjalanan panjang, mengarungi padang pasir di bawah sengatan terik matahari dan mendaki gunung gemunung cadas beliau sampai di perbatasan Mekkah.

Sebagian sejarawan memperkirakan itu terjadi pada akhir Desember tahun 630 M. Ini sebuah perjalanan panjang dan berhari-hari yang amat melelahkan tetapi juga penuh harapan indah.

Di suatu tempat dekat Bait al-Haram, Nabi bertemu para pemimpin kafir Quraisy, yang dikelilingi para pengikut mereka. Kedua kelompok yang bermusuhan itu kini saling berhadapan langsung, head to head.

Kelompok yang dipimpin Nabi kini tampak jauh lebih besar, lebih kuat dan solid, bersatu. Sementara kelompok kafir Quraisy, pimpinan Abu Sufyan, tampak lemah, rapuh dan terpecah-pecah.

Para pembesar kafir Quraisy terhenyak dan terbelalak dengan dada berdegup kencang.

Mereka melihat dengan mata kepala, Muhammad bin Abdullah yang tengah duduk di atas untanya itu tampak begitu gagah dan amat berwibawa. Ia diiringi ribuan pasukan yang siap menunggu perintahnya.

Perlawanan kafir Quraisy terhadap Muhammad secara logika tentu saja tak mungkin dilakukan karena mereka sangat lemah dalam banyak hal. Mereka tak akan berani melawan Muhammad.

Orang-orang Quraisy itu sekarang dalam genggaman tangan dan di bawah telapak kaki sang Nabi. Para pengikutnya akan mematuhi apa pun yang diperintahkannya.

Baca Juga :  Zakat dan  Implementasi Nilai-nilai Pancasila

Nyawa kaum kafir Quraisy itu kini tergantung di ujung bibirnya. Ribuan pengikutnya akan dapat dengan mudah memenggal kepala mereka jika Nabi memerintahkan.

Nabi tampak begitu mulia dan anggun sekali. Matanya menatap satu-satu lawan yang dulu sangat membencinya itu.

Kepada mereka, dengan suaranya yang tenang dan sikapnya yang anggun penuh pesona, beliau mengatakan,

مَا تَظُنُّون أِنِّي فَاعِلٌ بِكُمْ؟
فَقَالُوا: خيرًا أخٌ كريمٌ وَابْنُ أَخٍ كَرِيْمٍ.
فَقَالَ كَمَا قَالَ يُوْسُفُ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لاَ تَثْرَيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ. اِذْهَبُوا فَأَنْتُمْ طُلُقَآء. فَمَنْ دَخَلَ دَارَ أَبِى سُفْيَان فَهُوَ آمِنٌ. وَمَنْ دَخَلَ دَارَه فَهُوَ آمِنٌ. وَمَنْ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَهُو آمِنٌ.

Menurut kalian, apakah kira-kira yang akan aku lakukan terhadap kalian?

Mereka saling menatap dengan dada bergemuruh. Sebagian yang lain menundukkkan kepalanya dalam diam, tak berkutik. Kaki mereka terasa lunglai.

Untuk beberapa saat suasana pertemuan dua musuh bebuyutan itu begitu sepi dan tegang. Tak ada kata-kata yang terlontar.

Pikiran mereka melayang-layang, kembali ke masa lalu, ketika Nabi masih bersama mereka. Terbayang di mata mereka kata-kata kasar, sumpah serapah, penghinaan, caci maki dan stigmatisasi berhamburan dari mulut mereka sendiri yang diarahkan kepada Muhammad dan para pengikutnya.

Terbayang pula bagaimana kekerasan demi kekerasan setiap hari mereka lakukan terhadap Muhammad dan para pengikutnya. Rencana aksi jahat, politik isolasi, pemiskinan dan upaya pembunuhan terhadap orang yang kini di hadapan mereka, masih tampak sangat jelas di pelupuk matanya.

Sesekali mata mereka melihat Nabi, sang “musuh” itu. Oh, Wajahnya masih bening, bercahaya dan tampan, senyumnya masih tetap selalu mengembang manis seperti dulu, beberapa tahun lalu. Muhammad begitu anggun dan penuh kharisma.

Baca Juga :  Imam Mahdi Itu Siapa?

Dalam keadaan ketakutan yang mendalam, mereka serentak menjawab, “Engkau adalah orang yang mulia, saudara kami yang mulia, putra saudara kami yang mulia.”

Nabi lalu mengatakan sebagaimana dikatakan Nabi Yusuf (kepada saudara-saudaranya), “Hari ini tak ada balas dendam atas kalian. Kalian bebas! Siapa saja yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman. Siapa saja yang ingin pulang ke rumah, dia aman. Dan siapa saja yang masuk masjid, dia aman.”

Aduhai! Betapa mengagumkan. Alangkah indahnya sikap utusan Tuhan itu. Ketika dalam keadaan kuat di hadapan musuh politik yang rapuh dan tak berdaya itu, beliau justru memaafkan mereka.

Nabi telah mengumumkan amnesti umum dan menyeluruh. Dialah manusia yang tak pernah menyimpan dendam kepada siapa pun yang pernah menyakiti hatinya, bahkan tidak kepada musuh-musuhnya yang jahat dan berkali-kali berencana membunuhnya sekalipun.

Cukup sudah penderitaan dan kesakitan hanya dialami dirinya, dan tak perlu bagi orang lain. Meskipun begitu, beliau tak pernah lupa. Hebatnya lagi, beliau tak hendak memaksa mereka mengikuti agamanya.

Husain Haekal, dalam bukunya yang sangat populer Hayat Muhammad, “Sejarah Muhammad”, mengatakan mengenai peristiwa yang mengagumkan ini:

ما أجملَ الْعَفْوَ عِنْدَ الْمَقْدِرَةِ. مَا أَعْظَمَ هَذِه النَّفْسَ الَّتِى سَمَتَ كُلَّ السُّمُوِّ. فَارْتَفَعَتْ فَوْقَ الحْقدِ وَفَوْقَ اْلِاْنتِقَامِ. وَأَنْكَرَتْ كُلَّ عَاِطفَةٍ دُنيا. وَبَلَغَتْ مِنَ النَّبْلِ فَوْقَ مَا يَبْلُغُ اْلِانْسَانَ.

Lihatlah betapa indahnya pengampunan itu ketika ia mampu (mengalahkan). Alangkah besarnya jiwa ini, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran, melampai segala rasa dengki dan dendam di hati. Jiwa yang telah menjauhi segala perasaan duniawi, jiwa yang telah mencapai segala yang di atas kemampuan insan.

Selanjutnya Husein Haekal mengatakan dengan memukau: “Nabi bukanlah manusia yang mengenal permusuhan atau orang yang suka membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia.”

Baca Juga :  Benarkah Nabi Muhammad Buta Huruf?

Dia bukan seorang tiran, dan bukan mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Tuhan telah memberi kepadanya kemampuan mengalahkan musuhnya, tetapi dia justru memberi mereka pengampunan.

Dengan begitu, dia telah memberikan keteladanan yang luar biasa kepada seluruh dunia dan segala generasi manusia tentang kebaikan, kesetiaannya dalam janji dan tentang kebesaran jiwa yang belum pernah dicapai oleh siapa pun.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

4 KOMENTAR

  1. Masyaa Alloh, tidak ada contoh paling sempurna selain teladan dari Muhammad Rasululloh.
    اللهم صل عاى سيىدنا محمد

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.