Belajar Filsafat dari Buya Hamka dan Ashgar Ali Engineer

0
11

BincangSyariah.Com – Belajar filsafat bisa dari mana saja. Kita bisa memulainya dari tema-tema filsafat, sebuah buku, atau bisa juga lewat pemikiran tokohnya. Kali ini, penulis akan mencoba memaparkan cara berfilsafat Buya Hamka dan Ashgar Ali Engineer.

Kita bisa belajar filsafat tentang kehidupan lewat cara berfilsafat Buya Hamka. Untuk Ashgar Ali Engineer, kita bisa belajar filsafat dengan memahami bagaimana Ashgar menghubungkan agama dan filsafat dalam pemikirannya.

Filsafat dalam Kehidupan

Pertama, belajar filsafat dari Buya Hamka.

Buya Hamka, salah satu tokoh Muhammadiyah yang telah banyak membuat karya tulis menyatakan bahwa filsafat ada sebagai hikmat. Hal tersebut tercantum dalam bukunya yang berjudul Falsafah Hidup yang diterbitkan 1940.

Dalam buku tersebut, Buya Hamka memberikan penjelasan menarik dan berbeda dengan definisi-definisi umum lainnya. Istilah “filsafat” menurut Buya Hamka terdiri dari dua suku kata yang dijadikan satu yakni kata pilos dan kata sofos.

Pilos memiliki arti ‘penggemar’ dan sementara kata sofos berarti ‘hikmat’ atau ‘ilmu’. Hikmat adalah kata dalam bahasa Arab yang bisa diartikan sebagai ‘rahasia’. Lantas, apa yang dimaksud dengan ‘rahasia’ oleh Buya Hamka?

Hamka kagum dengan cara berpikir dan proses pencarian kebenaran yang menjadi karakteristik filsafat. Hal ini terbukti dengan metode penalaran filsafat yang banyak digunakan olehnya dalam malakukan analisis terhadap tema-tema tertentu.

Filsafat membawa Hamka pada pemahaman dan tindakan dalam realitas hidupnya. Tujuan filsafat yang demikian adalah untuk mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin. Filsafat lantas mengajukan kritik dan menilai pengetahuan, menemukan hakikatnya, lalu menerbitkan serta mengatur semua hal dalam bentuk sistematis.

Selain dalam buku Falsafah Hidup, dalam buku Pelajaran Agama Islam (1956) Hamka juga menjadikan filsafat sebagai salah satu kerangka acuan. Kerangka acuan tersebut ia pakai dalam melihat hubungan antara manusia dan agama.

Ia juga menjadikan filsafat sebagai salah satu media dalam proses manusia mencari Tuhan. Hamka menegaskan tentang pentingnya penggunaan akal untuk menganalisa persoalan dalam hidup.

Persoalan hidup yang dimaksud Hamka adalah apa pun, termasuk tentang Keesaan dan Kemahakuaasaan Tuhan dalam hubungannya dengan alam semesta. Sebagai misal, Hamka mengutip pendapat Al-Farabi yang menyatakan bahwa perjalanan seluruh alam telah diatur oleh dan dengan al-Aqlu al-Awwal (Akal Pertama).

Bagi Hamka, mempelajari filsafat sekaligus menerapkannya dalam tindakan adalah aktivitas mulia. Penerapan tersebut menjadi hal utama bagi orang yang menyukai tantangan dalam menjalani kehidupan.

Hamka bahkan menyatakan bahwa perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran filsafat.

Menurut Hamka, orang yang berfilsafat sebenarnya telah melakukan transformasi pengetahuan. Semula, seseorang mungkin menganggap suatu hal “sulit” lalu seiring berjalannya waktu, orang tersebut menganggap seuatu hal menjadi “mudah”.

Hamka berpendapat, begitulah karakter seorang filsuf dan pengkaji filsafat. Ia memuji Socrates. Baginya, Socrates telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perkembangan dan kemajuan di awal-awal kemunculan filsafat.

Socrates adalah seorang filsuf yang berasal dari Yunani. Ia adalah salah satu figur paling penting dalam tradisi filsafat Barat. Ia lahir di Athena. Ia adalah generasi pertama dari tiga ahli filsafat besar dari Yunani selain Plato dan Aristoteles.

Socrates merupakan guru dari Plato. Plato kemudian menjadi guru Aristoteles. Selama hidupnya, Socrates tidak pernah meninggalkan karya tulisan. Hal tersebut membuat sumber utama tentang pemikiran Socrates hanya berasal dari tulisan muridnya, Plato.

Ia menuliskan:

Failasuf yang mula-mula membawa soal dari langit ke bumi, atau dari alam ke insan itu ialah Socrates! Dan beliau pula yang mula-mula menggelari dirinya failasuf, dengan maksud yang bersahaja, yaitu “penggemar hikmat”. Itulah sebabnya maka ahli filsafat berkata: “Beberapa lamanya filosof tergantung di langit, maka datang Socrates mengaitnya dan diturunkannya ke bumi”.

Hamka menempatkan para filsuf sebagai seorang yang hebat. Baginya, para filsuf akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan yang oleh orang lain mungkin dianggap rumit.

Hamka berpendapat bahwa filsafat dan para filsufnya saat berfilsafat adalah aktivitas sangat mulia. Para filsuf tidak hanya mampu menginspirasi dirinya dalam bertindak. Para filsuf juga menginspirasinya dalam aktivitas menulisnya.

Baginya, banyak filsuf yang telah memberikan pencerahan bagi orang lain. Karena hal itulah Hamka menyatakan bahwa dirinya sangat mengapresiasi filsafat.

Agama dan Filsafat

Kedua, belajar filsafat dari Ashgar Ali Engineer.

Salah satu pemikiran tokoh pembaharu Islam yang paling banyak dipelajari di seluruh dunia adalah Asghar Ali Engineer. Keunggulan Ashgar ketimbang tokoh pembaharu lainnya terletak pada kepiawaiannya dalam menyeimbangkan agama dan filsafat, dua bidang yang ia tekuni.

Asghar lahir di Bohra, Salumbar Rajashtan, India, pada 10 Maret 1939. Ia dilahirkan dari lingkungan keluarga ortodoks yang taat beragama atau disebut sebagai keluarga amil. Ia adalah anak dari pasangan Yaikh Qunan Husain dan Maryam.

Sang ayah, Sheikh Husain merupakan seorang alim yang mengabdi kepada pemimpin keagamaan Bohra. Husain dikenal sebagai orang yang punya sikap liberal, terbuka dan sabar. Sikap open minded tersebut menjadikannya kerap terlibat diskusi dan ikut andil dalam berbagai pengalaman keagamaan dengan pemeluk agama lain, misalnya Hindu Brahma.

Asghar tumbuh dalam lingkungan sosial keagamaan yang inklusif dan religious. Ia tekun belajar ilmu-ilmu keislaman seperti teologi, tafsir, hadis, fiqh, dan bahasa arab.

Agus Nuryatno menuliskan dalam buku Islam, Teologi Pembebasan dan Kesetaraan Gender (2001) bahwa Asghar sangat cerdas menguasai banyak bahasa yakni Inggris, Arab, India, Urdu, Persia, Gujarati, Hindy dan Marathi. Asghar kian serius mendalami agama setelah menyaksikan rentetan ekaploitasi atas nama agama dalam komunitasnya di Bohro.

Fenomena tersebut terjadi setelah Husain, sang ayah, berperan sebagai ulama Bohro. Asghar menyesali sistem eksploratif yang dihadapinya namun ia tak punya alternatif lain untuk memaknai kehidupan di dunia. Ia mesti memilih antara terlibat dalam sistem yang menghancurkan atau tetap menghadapi banyak tuntutan berat.

Saat membaca ulang al-Qur’an, Asghar Ali Engineer yakin bahwa tujuan mengapa agama Islam ada dan hadir di tengah kehidupan mansuia yang sebenarnya adalah untuk memperkaya kehidupan batin serta mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Akar eksploitasi yang disaksikan Asghar dengan sangat dekat di masa kecilnya memengaruhi pertumbuhannya sebagai manusia hingga masa dewasa. Hal tersebut membuatnya sangat serius dalam memikirkan kembali tentang fundamentalisme beragama.

Selain ilmu-ilmu dalam agama Islam, Asghar Ali Engineer juga gemar membaca literatur tentang rasionalisme dalam bahasa Urdu, Arab dan Inggris. Ia pun membaca tulisan Niyaaz Fatehpuri, seorang penulis yang mengarang dalam bahasa Urdu. Ia juga rutin membaca tulisan tentang konflik ortodoksi agama.

Selain itu, ia juga belajar tentang karya-karya Bertrand Russel, filsuf rasionalis asal Inggris, juga menekuni Das Capital karya Karl Marx. Meski begitu, ia tidak pernah mengabaikan studi al-Qur’an dan senantiasa mempelajari Tafsir karya para sarjana Muslim.

Ia membaca tafsir Sir Syed dan Maulana Azad dan memberikan perhatian yang ekstra pada Rasa’il Ikhwanus Safa’ yang diyakini telah disusun oleh Imam-Imam Syi’ah Ismailiyah pada saat mereka tidak menampakkan diri pada akhir abad ke-8 Hijriyah.

Keterpaduan literatur bacaan yang sangat kaya tersebutlah yang berhasil membentuk pandangan baru dalam diri Asghar tentang hidup dan maknanya. Ia sampai pada kesimpulan bahwa akal sangat penting untuk pengembangan intelektual manusia. Tapi, tidak cukup itu saja, wahyu juga berperan penting sebab merupakan sumber petunjuk.

Dalam pemikiran Asghar, akal memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan pengaruhnya tidak pernah dapat diremehkan. Tapi ia memiliki batasan yang jelas dan tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan akhir yang berkaitan dengan makna dan tujuan akhir hidup.

Dalam hal ini, hanya wahyu satu-satunya yang mampu memberikan jawaban. Baginya, wahyu tidak bisa dipertentangkan oleh akal. Wahyu mampu melebihi akal tapi tidak berarti bertentangan dengannya. Keduanya berada dalam posisi yang saling melengkapi satu sama lain.[]

(Baca: Mengapa Belajar Filsafat Penting?)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here