Belajar dari Sufyan Ats-Tsauri Soal Takut Gunakan Kas Negara

0
14

BincangSyariah.Com – Di dalam kitab Sirajul Muluk, hal. 51, Syekh Abu Bakar Muhammad bin al-Walid Ath-Thurthusyi (520 H) menceritakan biografi Imam Sufyan Ats-Tsauri (161 H) –rahimahumullah-  seorang ulama di masanya. Beliau itu imam dalam bidang hadits  dan ahli hukum islam. Selain itu, beliau juga terkenal sebagai pribadi yang sangat hati-hati dalam beragama dan zuhud.

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Ketika Abu Ja’far al-Mansur Khalifah kedua Dinasti Abbasiyyah (158 H) hendak menunaikan ibadah haji, ia berkata, “Sekarang aku membutuhkan Sufyan sebagai pemandu ibadahku.”

Maka para ajudannya pun sibuk mencari dan mengawasiku (Sufyan Ats-Tsauri), lalu mereka menemukanku ketika hari mulai menjelang senja, lalu mereka membawaku untuk menghadap Khalifah, ketika aku sudah berdiri tegak di hadapannya, ia menyuruhku agar mendekat kepadanya, kemudian ia berkata, “Mengapa engkau enggan datang kepada kami, agar kami mudah dalam meminta pendapat serta fatwa darimu tentang perihal urusan kami. Apa saja perintah engkau kepada kami, kami pun siap untuk mematuhinya. Dan hal-hal yang engkau larang, kami juga siap untuk menjauhinya.”

Beberapa saat kemudian aku (Sufyan Ats-Tsauri) bertanya kepadanya, “Untuk melaksanakan ibadah ini, sudah berapa banyak uang yang telah engkau keluarkan?” (Baca: Kata Imam Sufyan, Niat Menikah Jangan karena Harta dan Jabatan)

Kemudian ia menjawab, “Aku tidak tahu pasti berapa biaya yang telah aku keluarkan, namun aku mempunyai beberapa orang yang amanah dan dapat dipercaya.”

Kemudian aku bertanya lagi kepada Khalifah Al-Mansur, “Dengan apa engkau akan memberi alasan esok (pada hari kiamat), ketika dirimu berdiri di hadapan Allah Swt. tatkala Ia bertanya kepadamu perihal harta tersebut? Sedangkan kamu hanya mempercayakan kepada orang lain, tidakkah engkau berkaca kepada Sayyidina Umar bin Khattab ra. ketika beliau pergi melaksanakan kewajiban haji, beliau bertanya kepada ajudannya, “Berapa banyak biaya yang telah kamu keluarkan untuk perjalanan ini?” Ajudannya menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, biaya yang telah dikeluarkan semuanya sebanyak delapan belas dinar.”

Baca Juga :  Merasa Kesulitan dalam Hidup? Ini Bacaan Salawat "Nuril Anwar"

Lalu Khalifah menimpali jawabanku dengan nada yang tinggi seraya berkata, “Apa engkau menduga aku menggunakan harta dari kas negara?

Dengan tenang aku berkata kepada Khalifah, “Bukankah engkau telah mengetahui apa yang pernah diceritakan kepada kita oleh Mansur bin Amar sedangkan engkau hadir pada saat itu? (aku mengatakan, telah meriwayatkan) dari Ibrahim dari al-Aswad dari al-Qomah dari sahabat Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah saw, pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : رب متخوض في مال الله ومال رسول الله فيما شاءت نفسه له النار) رواه الترمذي وصححه الأبلباني)

“Celakalah bagi orang yang telah mencampur aduk (antara hartanya dengan) harta Allah dan Rasulnya sesuai yang dia inginkan, karena pada hari kiamat nanti tempatnya adalah neraka.” (HR. At-Turmudzi dan dishahihkan oleh al-Bani)

Setelah itu Abu Ubaid (salah satu ajudannya yang lain bertugas menjadi bendahara Khalifah) berkata, “Apakah Amirul Mu’minin menerima diperlakukan demikian?”

Lalu aku (Sufyan Ats-Tsauri) berkata kepadanya, “Diamlah!! Tidaklah engkau mengetahui bahwa yang membuat hancur Fir’aun adalah Hamaan (ajudannya)? begitu juga sebaliknya.”

Ibrah atau pelajaran yang dapat kita petik dari kisah di atas adalah bagaimana sifat kezuhudan Sufyan ats-tsauri dalam urusan duniawi. Ulama adalah tempat bertanya akan ketidaktahuan kita. Kepadanya, umat meminta nasihat dan pencerahan.

Orang yang alim dapat menjadi mulia karena ilmunya. Oleh karena itu, selayaknya ilmu dicari dan diamalkan dengan tujuan yang luhur, yakni mendapatkan ridha Allah Swt. bukan semata-mata hanya untuk mendapatkan sanjungan manusia. Nabi pernah bersabda dalam hadisnya:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Baca Juga :  Inilah Arti Mimpi Adzan dan Iqomat Menurut Islam

“Barang siapa yang mencari ilmu bukan karena Allah, atau bukan dalam rangka mengharapkan wajah Allah, maka hendaknya ia menyiapkan tempat duduk di dalam api neraka.” (HR. Abu Dawud)

Seorang ulama pada hakikatnya sedang mengemban amanah Allah. Karena ilmu, tidak ada jalan menuntut dan mengamalkan ilmu selain yang sesuai perintah-Nya. Ilmu pun harus dijaga agar tidak jatuh dalam hedonisme duniawi.

Menurut imam Badruddin  Ibnu Jama’ah di dalam kitabnya Tadzkiratus Sami’ mengatakan, “Seorang ulama tidak boleh merendahkan ilmu. Misalnya seringnya ia pergi ke tempat orang yang tidak berhak. Siapa itu? Adalah para pecinta dunia. Ulama tak boleh mendatanginya kecuali memang benar-benar ada keperluan yang mendesak dalam perkara keumatan atau tegaknya agama.

Terakhir, kami ingin menuliskan adagium Arab yang sepertinya mempunyai hubungan dengan ini.

اَلْغَايَةُ الْمَقْصُوْدَةُ لَاتُبَرِّرُالْوَسِيْلَةَ

“Tujuan yang baik tidak menghalalkan segala cara”

Wallahu A’lam…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here