Belajar dari Kuburan

0
837

BincangSyariah.Com – Gus Mus selalu tampil memukau, di mana pun dan dalam momentum apa pun. Dalam ceramahnya pada Haul Gus Dur, di Ciganjur, 22.12.17, beliau juga membuat hadirin seperti terhipnotis. Tak ada kata yang disampaikannya kecuali memukau sekaligus mencerahkan.

Selain bercerita lagi tentang pengalamannya bersama Gus Dur saat di Mesir, beliau juga berkisah tentang kegemaran Gus Dur mengunjungi kuburan, bukan hanya kuburan para wali dan ulama, namun juga kuburan orang-orang biasa. Ia tak peduli dibilang sesat, kafir, musyrik, dan sejenisnya oleh mereka yang membencinya dan tak cukup mendalam pemahaman keagamaannya. Bagi Gus Dur, mengunjungi kuburan itu mendamaikan hati. Para penghuni kuburan itu diam saja, tak suka ngomel, tak suka mencaci maki orang, tak menggunjing. “Mereka tak punya kepentingan apa-apa lagi.”

Kuburan juga mengajari manusia untuk menjadi rendah hati. Sebab semua manusia akan kembali menjadi tanah sebagaimana darinya ia diciptakan. Nabi bersabda,

كُلّلُّكُمْ مِنْ اَدَم وَاَدَمُ مِنْ تُرَاب.

“Kalian semua dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah.”

Berbeda dengan Iblis. Ia angkuh dan sombong. Ia merasa lebih unggul dari Adam. Iblis diciptakan dari api. Dan api itu berkarakter panas dan menyala-nyala.

Mengunjungi kuburan juga menyadarkan akan kematian yang niscaya akan menjemput setiap yang hidup. Dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap embusan nafas, setiap gerak tubuhnya, dan setiap ucapannya selama hidup. Kematian itu mengajarkan bahwa apa yang dimiliki dan dicintai manusia dalam hidupnya akan ditinggalkan dan tak berharga lagi. Gus Mus acap mengatakan,

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظاً.

“Cukuplah kematian itu sebagai bahan renungan yang berharga.”

Jika Gus Dur menjalani hidupnya dengan bersahaja, menerima apa adanya (ugahari) dan tak punya apa-apa, maka itu karena ia “belajar dari kuburan”. Gus Mus mengkritik orang yang bergembira dan tertawa-tawa saat Haul. Momen itu seyogianya menjadi saat muhasabah, permenungan (koreksi) diri dan berdoa mohon ampun untuk diri dan mereka yang telah pulang. Allah mengatakan,

Baca Juga :  Ruang Kezuhudan Gus Dur

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, beri kami ampunan dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Alhasyr [59]: 10).[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here