Belajar dari Gus Dur

0
1697

BincangSyariah.Com – Gus Dur. Sebagian orang tidak menyukainya. Sebagian lain senang dan tak sedikit yang mengkultuskannya. Awal demokratisasi di Indonesia justru hadir ketika suara terbanyak menaikkan budayawan dan tokoh Islam yang selalu mengedepankan toleransi dan kebangsaan ini.

Beliau dimakzulkan atau dilengserkan di tengah jalan oleh Sidang Istimewa MPR RI yang di baliknya terdapat tokoh Amien Rais. Hamzah Haz yang sebelumnya membuat pernyataan perempuan dilarang menjadi pemimpin negara, berbalik menjadi pendukung Magawati yang otomatis naik setelah Gus Dur digeser, dan beliau menjadi Wakil Presiden.

Saya tidak mengkultuskan Gus Dur, tetapi menganggap beliau adalah seorang cendekiawan muslim yang terbuka dengan hal apa pun. Rekan-rekan debatnya pada masa Presiden Soeharto adalah Nurcholish Madjid, Emha Ainun Nadjib, dan Amien Rais. Yusril Ihza Mahendra waktu itu baru saja terbit dan menjadi tokoh, terselip di antara mereka. Yusril pun sempat menjadi penulis teks pidato Presiden Soeharto.

Saya menyukai tulisan-tulisan dan pemikiran Gus Dur yang maju dan tidak menggaungkan sentimen terhadap golongan tertentu. Kejatuhannya pada saat itu membuat saya cukup bersedih. Sebagian orang tidak menyukainya selain karena fisiknya, juga gayanya yang nyeleneh. Saya sendiri cenderung melihat seorang tokoh adalah dari pemikirannya yang konsisten dan keutamaannya pada perdamaian bangsa. Kabinet yang dibentuknya pada waktu itu termasuk yang saya idealkan. Di antara tokoh di dalamnya adalah Almarhum Baharudin Lopa yang kematiannya sampai kini menjadi misteri.

Saya juga sempat menjenguk Gus Dur saat sakit keras dan harus cuci darah terus-menerus. Ketika saya menjenguk, Gus Dur langsung naik selera makannya dan pingin makan Soto Bangkong. Saya bisa menemuinya karena Guntur Romli yang saat itu bekerja bersama saya di Jurnal Perempuan. Saat makan Soto Bangkong itulah saya melihat persis bagaimana Gus Dur adalah orang yang cerdas, terbuka, sederhana, apa adanya dan tidak dibuat-buat, tidak perlu pencitraan apa pun.

Baca Juga :  Benarkah Yahudi dan Nasrani Selalu Memusuhi Islam?

Kadang saya tertawa geli mendengarkan celotehannya. Di sebuah acara diskusi Kongkow Gus Dur dengan host Guntur Romli di Kedai Tempo pada tahun 2008, saya tertawa cekikian ketika seseorang bertanya apakah Gus Dur kenal Kartini? Beliau menjawab, “Kalau Kartini tanya Mbak Mariana saja, kalau saya kenalnya Kartono (kakaknya Kartini yang laki-laki).” Hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Cendekiawan Muslim yang celetukannya terkenal dengan kalimat, “gitu aja kok repot” ini mengajarkan masyarakat Indonesia untuk tidak terlalu tegang dengan politik.

Gus Dur terlihat tidak pernah kecewa atau pun patah hati. Menang atau tidak, dilengserkan atau tidak, tidak membuatnya berubah dan tidak menggiring pengkultusnya pada kebencian. Gus Dur adalah tokoh perdamaian. Tahun 2009 saya sangat kehilangan ketika mendengar beliau meninggal dunia. Tahun ini adalah 10 tahun kematiannya. Alfatihah untuk beliau, hanya itu yang bisa saya lakukan.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here