Begini Cara Menjamu Tamu yang Baik Menurut Abu Hafshin Al-Hadad

1
188

BincangSyariah.Com—Disebutkan dalam kitab Majmu’ah Mawalid wa Ad’iyah karya Abu Hafshin Al-Hadad, ia memiliki nama lengkap Abu Hafshin Abdullah bin ‘Alawiy Al-Hadad Ba’alawiy. Seorang guru besar sufi di Khurasan sekaligus pencetus Ratib al-Hadad yang berisikan amalan zikir berupa rangkaian ayat Al-Qur’an dan doa yang dikemas secara berurutan.

Suatu hari, Abu Hafsin berniat untuk bertamu ke kediaman Imam Syibli, seorang tokoh sufi yang sangat terkenal keturunan Persia. Selain sebagai ajang silahturahmi, kedatangan Abu Hafsin ke kediaman Imam Syibli juga bertujuan untuk menimba pengetahuan sekaligus pengalaman.

Sesampainya di kediaman Imam Syibli, Abu Hafshin mendapatkan sambutan yang sangat luar biasa. Beragam hidangan disajikan. Mulai dari makanan berat sampai makanan ringan sekalipun tersedia.

Waktu terus berjalan. Dan tidak terasa, Abu Hafshin telah menghabiskan empat bulan lamanya di kediaman Imam Syibli. Dan selama itu juga, setiap hari selalu tersedia beragam hidangan yang luar biasa di meja.

Merasa sudah terlalu cukup untuk tinggal di kediaman Imam Syibli, Abu Hafshin memutuskan untuk pamit pulang kepada Imam Syibli.

Sembari bersalaman, Abu Hafsin berkata, “Wahai Imam, jika nanti anda singgah ke Naisabur dan berkunjung ke kediaman saya, akan ku ajarkan kepadamu cara menjamu tamu yang baik dan kemurahan hati yang sejati”.

Apakah ada kesalahan yang telah ku perbuat ketika menjamu anda, wahai Abu Hafshin?”, tanya Imam Syibli.

Anda terlalu merepotkan diri anda sendiri. Jamuan yang sangat berlebihan tidaklah sama artinya dengan kemurahan hati yang sejati. Seharusnya anda dalam menjamu tamu itu sebagaimana anda melayani diri anda sendiri. Sehingga kedatangan tamu tersebut bukanlah sebuah beban bagimu dan ketika berpamitan pulang tidak membuatmu lega”, jawab Abu Hafshin tersenyum.

Baca Juga :  Ciri Tawakal dan Kisah Bisyr al-Hafi Saat Naik Haji Tak Membawa Bekal

Waktu yang ditunggu pun tiba. Imam Syibli yang masih sangat penasaran dengan perkataan Abu Hafshin ketika bertamu di kediamannya, akhirnya dapat berkunjung ke Naisabur dan mengunjungi kediaman Abu Hafshin.

Tanpa di sangka, sambutan yang diterima Imam Syibli sangat berbeda dengan apa yang diterima Abu Hafshin dahulu. Setelah masuk ke kediaman Abu Hafshin, Imam Syibli kemudian bergabung dengan tiga puluh sembilan tamu lainnya.

Malam pun tiba. Abu Hafshin kemudian bergegas untuk menyalakan empat puluh buah pelita untuk para tamu ditambah satu untuk dirinya sendiri. Melihat hal tersebut, lantas Imam Syibli menegurnya, “Bukankah engkau sendiri yang pernah bilang jangan berlebihan ketika menjamu tamu, wahai Abu Hafshin?”.

Benar. Kalau begitu, padamkanlah lampu itu semua”, jawab Abu Hafshin.

Imam Syibli lantas meniup satu persatu pelita tersebut. Anehnya, tidak satupun pelita tersebut padam kecuali miliki Abu Hafshin. Dengan penuh heran, Imam Syibli berkata, “Apa arti yang tersembunyi dari ini semua?”.

Kalian semua adalah empat puluh orang yang diutuskan Allah untuk datang kemari. Tamu adalah utusan Allah. Jadi wajar saja jika karena Allah, aku menyalakan empat puluh pelita untuk masing-masing diantara kalian dan sebuah pelita untuk diriku sendiri”, jawab Abu Hafshin tersenyum.

Keempat puluh pelita yang kunyalakan karena Allah tidak dapat anda padamkan, tetapi satu pelita yang kunyalakan untuk diriku sendiri dapat anda padamkan. Segala sesuatu yang telah anda lakukan dahulu, anda lakukan demi diriku. Jadi apa yang anda lakukan itu terlalu berlebihan, sedang yang kulakukan ini tidak”, lanjut Abu Hafshin.

Mendegar perkataan Abu Hafshin, Imam Syibli awalnya hanya terdiam kebingungan. Perlahan tapi pasti, Imam Syibli kemudian merenungi segala perkataan Abu Hafshin hingga ia benar-benar paham apa dan bagaimana cara menjamu tamu yang baik dan arti kemurahan yang sejati.

Baca Juga :  Tafsir Surah Al-Baqarah 143 tentang Umat Terbaik Versi Al-Qur'an

Wallahu’alam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here