Bahaya Hawa Nasfu dan Panjang Angan-angan Menurut Imam Al Ghazali

0
943

BincangSyariah.com – Manusia sebagai makhluk sosial memiliki keinginan yang lebih ketika hidup di dunia. Harapan dan tujuan hidup yang tenang, nyaman, dan berkecukupan menjadi angan-angan yang wajar baginya.

Kita semua boleh berangan-angan di dunia namun dengan batas yang wajar. Perlu kita ketahui bersama bahayanya seseorang menuruti nafsu dan berangan-angan yang terlalu panjang. Dalam kitab Mukasyafatul Qulub karangan Imam Al-Ghazali bahaya bagi umat muslim dalam berangan lebih dan mengikuti hawa nafsunya, mengutip dari hadis Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda,

“Sesungguhnya yang paling mengkhawatirkan atas kamu adalah dua hal, angan-angan yang muluk/berlebih dan mengikuti hawa nafsu. Dan sesungguhnya angan-angan muluk lupa kepada akhirat, sedang mengikuti hawa nafsu akan menghalangi kebenaran”

Hadis ini memberikan pesan kepada kita bahwasanya sebagai umat islam kita dilarang beragan-angan diluar batas kewajaran. Karena sesungguhnya hal tersebut akan menutup jalan kita dan lupa kepada akhirat.

Seperti halnya contoh kita sehari-hari bekerja keras demi terwujudnya keinginan kita semisal ingin membangun rumah, membeli barang mewah, membeli barang-barang baru dengan harga mahal. Namun jikalau semua keinginan tersebut tercapai apakah kita ingat dengan akhirat kita, sedangkan kita sibuk dengan dunia.

Pesan yang kedua janganlah kita mengikuti hawa nafsu. Kita bisa lihat bagaimana pejabat negara kita ketika halnya melakukan tindakan yang menuruti hawa nafsunya yaitu korupsi. Dengan sebongkah hawa nafsu dalam hatinya mereka dapat memiliki apa yang diinginkan meskipun salah. Hal ini bukti kongkrit bahwa mengikuti hawa nafsu dapat menutupi kebenaran, Naudzubillah.

Banyak manusia hidup didunia hanya mengandalkan angan-angan dan hawa nafsunya, tanpa mempunyai prinsip yang jelas serta komitmen untuk memperbaiki dirinya. Mereka telah lupa dunia hanya sementara, bahwa kehidupan akhirat lah selamanya.

Inilah virus yang sangat ditakutkan oleh Rasulullah SAW, apabila umat islam telah terserang virus ini mereka akan merasa kekal selamanya, ini sangat berbahaya dan membahayakan. 

Sesungguhnya orang yang terlalu berangan-angan lebih itu merupakan ciri khas dari orang yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Apabila orang itu sudah memiliki sepeda motor, maka ia berambisi memiliki mbil. Apabila sudah emiliki mobil, ia ingin memiliki pesawat terbang. Begitu seterusnya

Tidak ada rasa syukur di dalam hatinya sehingga akhirat baginya hanya hayalan semata dan dunia segala-galanya.

Mengikuti hawa nafsu sama saja mengikuti permintaan syetan. hal ini wajib kita perangi. Hawa nafsu adalah musuh bersama. Karena itu, memeranginya termasuk “jihad akbar” yang sangat dianjurkan bagi setiap muslim. Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzar, Rasulullah saw. bersabda, “Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar.” Sahabat terkejut dan bertanya, “Peperangan apakah itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Peperangan melawan hawa nafsu.” (HR Al Baihaqi).

Dalm surah yusuf ayat 53 yang berbunyi:

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِي

Wa mā ubarri`u nafsī, innan-nafsa la`ammāratum bis-sū`i illā mā raḥima rabbī, inna rabbī gafụrur raḥīm

Artinya : Dan aku tidak  membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh tuhanku. Sesungguhnya tuhanku maha pengasih lagi maha penyayang.

Dalam ayat tersebut diceritakan ketika Nabi Yusuf di dzalimi dipenjara tanpa berbuat salah ia pun berkata, dan aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan apa pun. Karena sesungguhnya salah satu jenis nafsu manusia itu adalah nafsu amarah, yang selalu mendorong manusia kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh tuhanku sehingga tidak membawaku kepada kejahatan.

Sesungguhnya nafsu memiliki kategori yang mungkar dan baik. Kita sebagai umat yang bertaqwa kepada Allah SWT. Sesungguhnya menuruti apa kata nafsu yang dirahmati Allah yaitu dengan jalan kebaikan.

Maka dari itu Imam Ghozali dalam kitabnya sangat melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu dan terlalu berangan panjang. Karena hal tersebut dapat menampikan dunia dari pada akhirat. Wallahu a’lam

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here